Puasa Hakiki (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

Puasa hakiki adalah puasa dengan menahan hati dari menyembah, memuja, dan memuji selain Allah. Puasa ini dilakukan dengan menahan mata hati dari memandang selain Allah, baik yang lahir maupun yang batin.

Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap selain Allah dan tertuju hanya kepada Allah Swt serta cinta kepada-Nya. Allah Swt menciptakan segala sesuatu untuk insan dan insan diciptakan Allah Swt untuk Diri-Nya sendiri. Insan adalah rahasia Allah Swt dan Allah Swt adalah rahasia bagi insan. Rahasia itu berupa Nur Allah. Nur itu adalah titik tengah hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya Ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak cinta dan tidak tertarik kepada apa dan siapa juga, kecuali Allah Swt.

Betapa ia akan mencintai dan terpikat kepada yang lain selain Tuhan? Padahal, semua yang selain Allah Swt itu akan binasa, dan bersifat sementara atau tidak kekal. Pantaskah seseorang meletakkan cinta dan rindunya kepada sesuatu yang akan binasa dan tidak kekal?! Bukankah cinta itu suci, dan wajarlah bila cinta itu diletakkan ke tempat yang suci seperti itu, dan tidak ada yang suci dan kekal selain kesucian Allah Swt. Karena itu, wajar bila manusia yang memahami akan kesucian yang kekal ini memberikan cintanya yang suci hanya kepada Allah Swt Yang Kekal dan abadi Dzat-Nya. Karena itu, Ruh yang telah mengenal hakikat itu akan memberikan cintanya kepada Dzat Allah, dan tidak ingin lagi berpisah dengan-Nya.

“Bahwasanya Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Esa, maka luruskanlah dirimu kepada-Nya!”(QS [41]:6)

Luruskanlah jalan dan pandanganmu hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain selain Dia. Itulah yang diperintahkan Allah Swt kepada manusia. Karena itu pula, tak seorang pun yang patut dipuja dan dipuji, yang patut dicintai dan dirindukan, kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Tidak ada tujuan akhir yang dituju, kecuali Allah Swt. Jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap selain Allah yang masuk ke dalam hatimu, maka batallah puasa hakiki itu. Jika puasa hakiki batal, kita mengulangi puasa itu, dan menyalakan kembali niat dan harapan kepada Allah Swt di dunia dan akhirat, karena puasa yang dilakukan itu tujuannya untuk Allah Swt, dan hanya Allah Swt yang akan memberi ganjarannya.[]

(* Sumber : Sirr al-Asrar fi ma Yahtaj Ilayh al-Abrar; Rahasia Sufi; Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 2010)

—————————————————————–Judul catatan-catatan lain dengan tema berbeda, termuat dalam Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Suluk Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.