Dalil-dalil Syara’ Tentang Cinta Hamba kepada Allah

“Katakanlah : “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah [9]:24)Dalam ayat ini, Allah menunjukkan ancaman dan penentangan-Nya terhadap orang-orang yang lebih mencintai hal selain Diri-Nya, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya.

Bagaimana bisa cinta ditafsirkan sebagai ketaatan, padahal ketaatan timbul setelah adanya cinta dan merupakan buah cinta? Dengan demikian, cinta harus lebih dahulu ada, baru kemudian setelah itu orang akan menaati yang ia cintai.

Dalil yang menunjukkan adanya cinta Allah adalah firman-Nya : …Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Maidah : 54)…serta “Dan orang-orang yang beriman itu sangat mencintai Allah.” (QS Al-Baqarah : 165).

Kedua ayat tersebut merupakan dalil tentang adanya konsep cinta dan perbedaan tingkatannya.

“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Ali Imran : 31)

Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw pun menjadikan cinta kepada Allah sebagai salah satu syarat iman. Ketika Abu Ruzain Al-‘Uqaili bertanya tentang hakikat iman, Rasulullah pun menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih kau cintai daripada yang lain.”(HR. Ahmad). Dalam hadis lain diungkapkan : Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw bersabda,”Cintailah Allah karena Dia telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada kalian. Cintailah diriku lewat cinta Allah. Lalu cintai keluargaku lewat cintaku (kepada mereka).”(HR. Tirmidzi)

| Anas r.a. meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw,”Kapan kiamat tiba, wahai Rasulullah?” “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” beliau balik bertanya. Orang itu menjawab,”Aku tidak menyiapkan banyak shalat, puasa, dan sedekah. Tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah Saw berujar,”Kau akan bersama orang yang kau cinta.” Anas berkomentar,”Kami juga demikian?” “Ya,” jawab Rasulullah Saw. “Maka kami sangat bergembira,” tutur Anas.”(HR. Bukhari dan Muslim) |

Nabi Muhammad Saw memohon dalam doanya, “Ya Allah, anugerahkanlah aku cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada sesuatu yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih besar daripada cintaku kepada air yang dingin.”(HR. Abu Naim dari Abu Darda)

Sa’id bin Yazid berkata,”Barangsiapa beramal karena Allah atas dasar cinta kepada-Nya, itu lebih mulia daripada beramal atas dasar ketakutan.”

Abu Bakar Al-Shiddiq berkata, “Orang yang telah mencicipi kesucian cinta kepada Allah, niscaya hal itu akan melalaikannya dari mengejar kehidupan dunia dan membuatnya tidak betah dengan semua orang.”

Harm bin Hayyan berkata,”Seorang beriman yang mengenal Tuhannya, pastilah akan mencintai-Nya. Jika ia mencintai-Nya, ia pun datang menghadap-Nya. Jika ia memperoleh kemanisan dalam menghadap-Nya, ia tidak memandang dunia dengan mata syahwat dan tidak memandang akhirat dengan mata keletihan. Kemanisan iman membuatnya sedih di dunia dan membuatnya gembira di akhirat.”

Yahya bin Mu’adz berkata,”Ampunan Allah menghapus berbagai dosa, apalagi kerelaan-Nya. Kerelaan-Nya menenggelamkan angan-angan apalagi cinta-Nya. Cinta-Nya membuat linglung akal apalagi kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya membuat lupa segala sesuatu selain-Nya apalagi kelembutan-Nya.”

Yahya bin Mu’adz juga berkata,”Cinta seberat biji sawi lebih kusukai daripada ibadah selama tujuh puluh tahun tanpa disertai cinta.”

Tentang para Sahabat Rasulullah : “Nikmatnya cinta membuat mereka lupa kepada pahit dan beratnya ujian. Dorongan cinta membuat mau mengorbankan jiwa, harta, waktu, dan segala yang berharga demi Dia yang cinta dengan harapan mereka akan mendapat ridha dan cinta-Nya.”- Syaikh Ibnu Athaillah r.a. []

* Catatan lain yang terkait, berjudul :

[1] Hanya Allah Yang Berhak Dicintai (Imam Al-Ghazali)

[2] Cinta pada Allah – Mukadimah (Imam Al-Ghazali)

[3] Cinta kepada Allah | Ibn Qayyim Al-Jauziyyah r.a

[4] Rindu (dan cinta) kepada Allah | Imam Al-Ghazali – [Bagian ke – 2]

[5] Rindu (dan cinta) kepada Allah | Imam Al-Ghazali – [Bagian ke – 1]

[6] Cinta Allah | Imam Al-Ghazali

[7] Demi Mencintai-Nya | Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

[8] Cinta Manusia Kepada Allah | Said Ramadhan Al-Buthy

[9] Gejolak Jiwa : Rindu dan Cinta Pertama kepada Allah Swt | Said Ramadhan Al-Buthy

[10] Pengantar Memahami Cinta (Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, M.A)

[11] Cinta pada Allah – Mukadimah (Imam Al-Ghazali)

# Daftar catatan lain dengan tema berbeda, dapat dilihat di Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Cinta, cinta kepada Allah, Imam Al-Ghazali, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Suluk Imam Al-Ghazali, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , . Tandai permalink.