Istighfar Kita, Butuh Istighfar (Al-Habib ‘Ali al-Jufri) | Suluk

Ada sekelompok orang yang levelnya sangat istimewa, karena telah merasakan betul nikmatnya bergaul dengan Allah. Di antara mereka malah bertaubat atas ketaatan yang dilakukan. Apa maksudnya? Mereka bertaubat atas keterbatasan dirinya atau kekurang-tulusannya dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini, Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkata,“Istighfar kita sesungguhnya masih membutuhkan istighfar.”

Rabi’ah menguraikan lebih lanjut,”Pada saat mengucapkan ‘Astaghfirullah, astaghfirullah’, hatiku tidak tersambung kepada Allah Hal ini tidak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan sambil tertawa,’Ha-ha-ha, maafkan aku, maafkan aku,’ dan berlalu. Itu namanya kurang ajar. Minta maaf itu artinya merasa bersalah. Jadi harus dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu. Apakah ketika mengucap,’Aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah’ hati kita merasa malu? Merasa hancur di hadapan Allah? Merasakan betapa besarnya berhubungan dengan Allah?”

Orang yang jujur kepada Allah selalu membaca istighfar setiap selesai beribadah. Ia merasa ibadah yang dikerjakannya masih jauh dari yang diharapkan. Itulah kenapa Rasulullah Saw bersabda,”Aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari semalam.” Dalam riwayat lain, lebih dari tujuh puluh kali.(HR. Al-Tirmidzi no. 3259).

Sebagian sahabat pernah mengatakan,”Kami pernah menghitung bahwa ucapan Rasulullah Saw : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Pengampun itu banyaknya seratus kali di dalam satu majelis.” Dalam riwayat lain, tujuh puluh kali. (HR. Abu Dawud no. 1516, al-Tirmidzi no. 3434, dan Ibn Majah no. 3814).

Dosa apakah yang dilakukan Rasulullah Saw sehingga beliau perlu meminta ampun kepada Allah? Tidak ada! Itu semata-mata karena beliau telah merasakan betapa nikmatnya berhubungan dengan Allah. Orang yang sudah mengecap rasa nikmat ini takkan berhenti mencari kenikmatan yang lebih tinggi lagi. Ia tahu bahwa di atas nikmat yang diraih ada nikmat lain yang belum diraihnya. Karena itu, ia merasa “berdosa”, sehingga ia pun beristighfar.

Makna-makna seperti itu mesti diketahui dan dirindukan orang yang benar-benar ingin menempuh jalan menuju Allah. Ia harus mengetahui makna taubat dan makna kembali kepada-Nya. Ia harus terus beristighfar dan merasa malu kepada-Nya. Bagaimana tidak malu, sementara kita berada di tengah lautan nikmat dan anugerah-Nya? Bagaimana tidak merasa malu, sementara nikmat-nikmat itu kita gunakan di luar ketaatan, tetapi Allah tidak mencabutnya? Padahal, seandainya mau, Allah dapat saja melakukannya dan Dia tidak bisa kita cap berbuat zalim kepada kita. Tetapi, itu tidak Dia lakukan. Sebaliknya, pada saat keburukan terus menerus kita lakukan, nikmat Allah tidak henti-hentinya mengalir, bahkan bertambah dan makin bertambah.

Demikianlah makna awal yang harus dipahami dan ditancapkan ke hati setiap orang yang betul-betul ingin menempuh jalan menuju Allah.[]

(* Sumber : “Ma’alim al-Suluk li al-Mar’ah al-Muslimah“, 2007; Terapi Ruhani Untuk Semua-Mengetuk Sanubari untuk Berlari Menjemput Kasih Ilahi, Al-Habib ‘Ali al-Jufri,  2011)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, Al-Habib 'Ali al-Jufri, Jalan Suluk, Jihad Akbar, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.