Dua Kutipan di Penghujung Tahun : Bagian 2 (++ catatan tambahan)

Kutipan 1—————– DISALIN dari tulisan T.S dalam “Kajian Suluk” tertanggal 31 Desember 2018

“…..orang beriman niscaya akan banyak dihujani dengan hal yang tidak menyenangkan. KENAPA? Targetnya justru mengukur gejolak hati masing-masing, sejauh mana hati menyerang balik, sebesar apa keganasannya. Semakin mudah hati diombang-ambing dan reaktif oleh fenomena luar itu menunjukkan betapa jauh ia dari derajat nafs muthmainnah (jiwa yang tenang).

Ketika mudah meledak emosi saat di keseharian yang dipicu oleh berbagai macam hal: tingkah anak-anak, perilaku asisten rumah tangga, respon pasangan, kelakuan tetangga dsb.Di titik itu kita tengah diberi pertolongan oleh Allah berupa dihadirkannya sebuah cermin yang memantulkan keadaan dalam diri, sesuatu yang sangat susah untuk diteropong karena kebanyakan manusia hanya sibuk berkutat kepada membalas dendam dan mencari solusi horizontal, yang dia pikir bisa memadamkan persoalan. Padahal masalah yang sebenarnya adalah api di dalam hatinya yang jika itu dibawa meninggal dunia ia akan mewujud dan membakar jiwa kita di alam berikutnya, naudzubillahimindzaalik.

Itulah sebabnya dikatakan pemberian yang terbaik kepada seorang manusia adalah kesabaran, karena dengan kesabaran itu dia bisa menerima semua pukulan kehidupan dan melihat bahwa itu semua adalah kebaikan untuk semakin menjernihkan jiwanya yang lama tercelup dalam nuansa dunia berdekade lamanya. Jiwa bentukan yang lupa akan dirinya yang sejati dan lupa arah pulang. Padahal setiap detik masa pakai jasad sebagai kendaraan jiwa semakin berkurang, sementara langkah semakin menjauh dari tujuan menuju sekian fatamorgana yang ia anggap bisa membawa kebahagiaan.

Dengan kesadaran mengenai kebaikan yang hakiki di balik musibah atau sekian keadaan yang kita kerap anggap tidak menyenangkan ini, maka semakin legowo mestinya kita menapaki kehidupan, semakin mudah memaafkan, dan tenang menjalani setiap ‘treatment’ dari-Nya. Sehingga kita mencapai derajat jiwa muthmainnah.
Ibnu Arabi berkata, “Hanya jiwa muthmainnah-lah yang mampu kembali kepada Allah.”
 
“Jika dirimu diserang dan dadamu tidak balik menyerang itu (tanda) muthmainnah.” – An Niffari
 
(Habil menjawab), “Sungguh kalau engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam…”(QS Al Maa’idah : 28-29)
Kutipan 2 ———————- (Sumber : “Tazkiyatun Nafs”; Dr. Anas Ahmad Karzon; Akbarmedia-2010)
Jiwa yang Tenang [Nafs Muthma`innah] merupakan tingkatan tertinggi pada jiwa, yaitu jiwa yang tenang dengan ketaataannya kepada Allah.
Dari Mujahid,”Itu (Jiwa yang Tenang [Nafs Muthma`innah]) adalah jiwa yang ridho terhadap ketentuan Allah yang ia tahu bahwa kesalahannya bukan merupakan musibah, dan segala musibah yang menimpanya bukan merupakan kesalahan.”
Al-Jurjani mendefinisikan Jiwa yang Tenang [Nafs Muthma`innah]; katanya,”Itu merupakan sifat yang menancap di dalam jiwa … pada mulanya cepat hilang, tapi bila terus menerus berulang dan jiwa membiasakannya, akhirnya cara tersebut menancap dan menjadi sulit dihilangkan, kemudian menjadi melekat. Perbuatan tersebut dapat diartikan sebagai kebiasaan dan akhlak.”
++ CATATAN TAMBAHAN :
Kemarahan (ghadhab) merupakan jebakan setan paling besar.
Saat manusia marah, setan akan mempermaikannya.
Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa salah seorang Nabi pernah berkata kepada iblis,”Dengan apa engkau menguasai anak Adam?” Iblis menjawab,”Aku mengalahkannya saat ia marah dan berhasrat.”
Pernah suatu kali iblis menampakkan diri kepada seorang rahib, lalu sang rahib bertanya kepadanya,”Apa perangai manusia yang paling membantumu untuk mengalahkannya?” Si iblis menjawab,”Marah. Jika seorang hamba amat marah, kami bisa membolak-baliknya seperti bocah membolak-balik bola.”
Lalu ditanyakan kepada iblis,”Bagaimana cara engkau membolak-balik anak Adam?” Iblis menjawab,”Jika ia sedang senang, aku mendatanginya hingga aku berada di hatinya. Sedang jika ia marah, aku mendatanginya hingga aku berada di atas kepalanya.”
[Dikutip dari : “Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs”; Syekh Yahya ibn Hamzah al-Yamani; Zaman 2012; diterjemahkan dari Kitab Tashfiyat al-Qulub min Daran al-Awzar wa al-Dzunub)

 

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Pos ini dipublikasikan di Hati, Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.