Dua Kutipan di Penghujung Tahun : Bagian 1

Kutipan Pertama————- “Belajar Bersama Tuhan”

(Sumber : Anonim/ Unknown)

#1… Menyakitkan sekali belajar bersama-Mu, Tuhan

Belum lagi aku paham

Belum lagi aku lolos

Belum lagi aku lulus

Belum lagi aku bisa melesat ke titik terindah menurut otakku dalam lingkaran takdir

Engkau terus menerus menghamburkan banyak belati yang menghujam hatiku

#2… Belum lagi hati ini kembali utuh

Belum lagi hati ini menemukan kembali bentuknya

Engkau terus menerus meremukannya tanpa aku sempat sepenuh sadar akan diriku

Aku “mabuk derita” dalam ketidak berdayaanku, Tuhan

#3… Aku tak pernah meminta menjadi seorang pendosa

Aku tak pernah meminta menjadi seorang pembangkang

Aku tak pernah berhasrat menjadi musuh-Mu

#4…Tuhan, Engkau hancurkan aku tanpa aku pernah paham maksud-Mu

Saat “Jalan Cinta” atas keyakinanku pada-Mu mulai kupandang, saat asa membawaku menjejaki titiannya, pun saat aku tak pernah yakin lagi akan kaki-kakiku sendiri- entah masih menapakinya ataukah sudah meninggalkannya dengan sebegitu jauhnya, justru…cinta pula lah yang mencabik, menyayat, menikam, dan menghancur luluh lantakkan habis diriku

#5…Menyakitkan sekali belajar bersama-Mu, Tuhan

Belum lagi aku mati, cinta yang membuatku kehabisan darah dan kehabisan nafas, melumpuhkan banyak asa dan banyak cita

Aku amat sangat menginginkan

Tapi aku bagai jauh terpisahkan jurang dari semua yang kuinginkan

Hanya hatiku yang sayup menjerit di kejauhan, meratap memohon pada jasadku agar aku tetap berjuang meraihnya walaupun tubuh hancurku habis terbelah

Saat airmata dan darah memanjang hingga aku menyentuh keinginanku, aku luruh melepuh terpanggang ketakutanku akan suatu kehilangan

Aku terbakar, Tuhan…

Aku terbakar…

Aku rusak, Tuhan…

Aku rusak…

#6…Tuhan, pikiranku kacau tanpa pernah tahu bagaimana untuk sebenar kembalinya

Hasrat jasadku pun memenjarakan aku hingga aku berputar terus dalam kegelapan

Kapan Engkau akan merengkuh aku, Tuhan…membawa ku ke dalam terang

Kuharap..kelak saat waktunya tiba, ketika Engkau menyelamatkan aku dari kubangan darah dan remah-remah kehancuran diriku sendiri, Engkau akan membuat aku sepenuh sadar bahwa cinta pula lah yang menyelamatkan aku

#7…Menyakitkan sekali belajar bersama-Mu, Tuhan

Atas harap dan prasangka baikku kepada-Mu…kumohon…

Kasihani aku,

Selamatkan aku,

Ampuni aku…

—————– [dalam malam terkelam hidup seorang pengelana]———————————–

 

Kutipan Kedua——————— (Sumber : tulisan dari T.S, dalam “Kajian Suluk” tertanggal Kamis, 27 Desember 2018)

“…..takdir itu suci dan mensucikan. Jika sesuatu telah ditakdirkan terjadi, pastilah ada hikmah serta kebaikan yang banyak didalamnya. Bukankah Allah itu Maha Baik? Kalaupun belum terjangkau dimana kebaikannya, bersabarlah akan datangnya hari akhirat dimana semua hal yang luput dari pengetahuan manusia akan ditampakkan sejelas-jelasnya…..”[]

 

 

 

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Pos ini dipublikasikan di Hati, Uncategorized dan tag . Tandai permalink.