Mengkambinghitamkan Takdir

“Seseorang  tidak dapat beralasan dengan menyatakan ia melakukan dosa karena suratan takdirnya. Sementara, pada saat yang bersamaan ia juga tahu bahwa hal itu dosa, dan dirinya pun mempunyai kehendak dan kemampuan untuk berbuat, baik aktif maupun pasif. Andaikata mereka diperkenankan mengemukakan alasan bahwa perbuatan maksiatnya itu adalah takdirnya, mestinya mereka tidak dihukum dan dimurkai, baik ketika mereka masih di dunia ataupun saat sudah berada di akhirat.”

Apabila ada yang menyatakan, betul pernyataan di atas cocok sekali dengan sudut pandang syara’, tetapi jika diterapkan dengan hakikatnya yang sejati niscaya akan sampai pada kesimpulan bahwa manusia berbuat dosa karena takdirnya menyuratkan demikian.

Mereka akan menjadi sesuai yang dikehendaki Allah Swt., dan apa yang telah Dia tetapkan dan Dia takdirkan pasti terjadi. Mereka hanya akan meniti suratan takdir mereka yang telah ditetapkan. Panah-panah takdir itulah yang sedang membidik mereka, dan sekali pun panah-panah takdir itu tidak akan pernah meleset dari objek sasarannya. Hanya saja, bagi orang yang sudah diliputi oleh musyahadah hikmah-hikmah kosmik akan memahami bahwa mereka berbuat dosa karena takdir mereka menentukan demikian.

Anda pun boleh ingkar kepada kami dengan memakai perspektif syara’. Kalau demikian, kami pun juga boleh berkesimpulan bahwa manusia berbuat dosa karena takdir mereka menyuratkan demikian menurut perspektif hikmah. Dan menurut kami, kita pun sama-sama benar.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.”(QS. Al-A’raf [7]:178)

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.”(QS. Al-Anbiya [21]:23)

Dalam satu atsar dinyatakan sebagai berikut :

“Sesungguhnya apabila seorang hamba berdosa itu berkata,’Ya Rabb, ini adalah kehendak-Mu dan Engkau telah menakdirkannya untukku. Engkaulah yang menetapkan takdir itu untukku.’ Maka, hal ini dijawab oleh Allah Swt.,’…, bukankah kamu yang melakukannya, kamu juga yang mengusahakannya, kamu juga yang menghendakinya, dan kamu juga yang berusaha keras untuk mencapainya. …, sekarang Aku akan menyiksamu.’

Sebaliknya, ketika seorang hamba yang berdosa berkata kepada Tuhannya,’Ya Rabb, aku zalim pada diriku sendiri, aku mengaku salah, dan aku ini adalah orang yang melampaui batas. Benar, akulah yang melakukan dosa itu.’ Maka, Allah Swt. akan menjawab perkataannya,’Iya benar, Aku-lah yang menakdirkannya untukmu, Aku-lah yang menghendakinya dan Aku pula yang menetapkannya untukmu. Akan tetapi, Aku akan mengampunimu.’

Dan apabila seorang hamba yang beramal saleh berkata,’Ya Rabb, aku telah melaksanakannya; aku telah bersedekah, aku juga shalat, juga memberikan santunan.’ Maka hal ini dijawab oleh Allah Swt., ‘Aku-lah yang memberi daya kepadamu untuk melakukan semua itu dan Aku-lah yang memberi taufik kepadamu.’ Kemudian hamba itu berkata lagi,’Ya Rabb, Engkaulah yang memberikan daya kepadaku untuk melakukan amal saleh dan Engkau juga yang memberikan taufik kepadaku.’ Maka, Allah Swt. menjawabnya,’ Ya benar, tetapi kamulah yang melakukannya, kamulah yang mengusahakannya dan kamulah yang berusaha keras untuk mewujudkannya.'”

Mereka yang berdalih bahwa dosa yang dilakukannya itu disebabkan suratan takdir yang ditetapkan kepadanya harus mengemukakan hujah mereka. Namun di sisi lain, niscaya Allah Swt. akan menyanggah hujah mereka dari sisi mana pun, dan Allah Swt. memiliki hujah yang nyata. Orang-orang yang mempunyai uzur, seperti : bocah yang belum tamyiz (belum mengerti), orang idiot, orang yang tidak sampai kepadanya dakwah Islam, dan orang buta dan tuli, maka Allah Swt. tidak mengazab mereka bukan karena mereka tidak berdosa**. Adanya argumen ini juga mempunyai hikmah yang lain ketika sudah berada di akhirat.

Jelasnya, manusia diuji dengan adanya para rasul yang turun kepada mereka untuk memerintah ini dan melarang itu. Jika dia taat, dia akan dimasukkan surga, sebaliknya jika ia durhaka dia akan dimasukkan neraka[]

~ Dikutip dari : “Ensiklopedia Taubat”_”Dari Dosa Menuju Surga” (diterjemahkan dari Kitab “At-Taubah Wa al-Inabah”; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

# Catatan lain yang terkait berjudul : Dosa dan “Sebab – Akibat”

———————

**maksudnya, orang-orang yang disebutkan di atas tidak diazab bukan karena mereka tidak melakukan dosa. Akan tetapi, mereka tetap melakukan dosa/ kesalahan yang kemudian mereka diampuni. Ini sama halnya ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan dan membuat majikannya murka. Bagaimanapun kesalahan itu tidak dapat diubahnya lagi, karena memang sudah terjadi. Akan tetapi, setelah melihat uzur (alasan) yang ditemui oleh sang majikan atau yang dikemukakan langsung oleh orang tersebut, maka sang majikan memberi maaf. Kira-kira demikian tamsil yang bisa disampaikan mengenai hal ini.

 

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di dosa, maksiat, taubat dan tag , , , . Tandai permalink.