Fenomena Ketujuh : Taufik dan Penelantaran

[Penyaksian manusia ketika melakukan maksiat dapat dikelompokkan dalam 13 masyhad (pemandangan/ pengalaman lahir-batin), yaitu : 1) penyaksian yang disimbolkan hewan, 2) pemenuhan syahwat, 3) naluri dan insting serta pemenuhannya, 4) pemaksaan, 5) kekuasaan, 6) hikmah, 7) mendapat taufik dan terjerumus, 8) tauhid, 9) asma dan sifat, 10) iman dan penyaksian-penyaksiannya, 11) rahmat, 12) lemah dan tak berdaya, 13) mahabbah serta ubudiah; Empat hal yang disebutkan pertama dikhususkan bagi orang-orang yang tabiatnya menyeleweng, delapan hal yang disebutkan selanjutnya dikhususkan bagi orang-orang yang istiqamah, sementara hal yang paling tinggi adalah fenomena yang kesepuluh]

 

Fenomena ketujuh : Taufik dan Penelantaran

Apabila seseorang menyaksikan atau mengalami perbuatan dosa, dia akan melihatnya dari sisi antara taufik dan penelantaran Allah Swt kepada hamba-Nya.

Para ahli makrifat sepakat, taufik adalah sebuah kondisi yang Allah Swt tidak menyerahkan diri anda kepada nafsu anda. Sebaliknya, menurut mereka, khadzlan (penelantaran) adalah suatu kondisi yang Allah Swt membiarkan nafsu anda menguasai diri anda.

Tidak disangsikan, seorang hamba pasti terombang ambing antara mendapatkan taufik dan dibiarkan begitu saja tanpa mendapat perhatian dari Allah Swt. Bahkan dalam satu waktu, seorang hamba dikondisikan antara mendapatkan taufik dan ditelantarkan. Kalaupun dia taat kepada-Nya dan Allah pun meridhainya atau dia mengingat-Nya lantas bersyukur kepada-Nya, maka hal itu semata-mata karena Allah memberikan taufik kepada-Nya. Sebaliknya, apabila kemudian ia mendurhakai-Nya, menerjang larangan-Nya, melalaikan-Nya dan Allah pun memurkainya, maka sebenarnya Allah Swt menelantarkannya. Tegasnya, seorang hamba akan terombang ambing antara taufik dan penelantaran. Jadi, kalaupun dia mendapatkan taufik-Nya, hal itu semata-mata karena anugerah dan rahmat-Nya; dan kalaupun dia ditelantarkan, maka hal itu terjadi SEMATA-MATA KARENA KEADILAN ALLAH SWT DAN KEMAHABIJAKAN-NYA.

Dengan demikian, di mata seorang hamba, Allah Swt Maha Terpuji antara memberi taufik dan menelantarkan hamba-Nya. Hanya milik-Nya kesempurnaan puja dan puji. Sekali pun Dia tidak akan menghalangi apa yang menjadi takdir hamba-Nya. Kalaupun Dia mencegah hamba-Nya berbuat dosa, itu pun karena Dia Maha Pemurah untuk memberikan anugerah-Nya. DIA MAHA TAHU BAGAIMANA MENJADIKAN DAN MENGONDISIKAN HAMBA-NYA. Seorang hamba yang mengalami atau menyaksikan perbuatan maksiat dalam sudut pandang yang seperti ini dan bahwa dia mendapatkan apa yang menjadi takdirnya, dia juga akan sadar bahwa dia akan sangat butuh terhadap pertolongan Allah Swt dalam setiap waktu dan kesempatan. Dia juga sadar bahwa keimanan dan keyakinan tauhidnya berada di genggaman Allah Swt. Andai seorang hamba menelantarkan ketauhidannya, niscaya akan ditimpajan ‘Arsy itu kepadanya, dan langit pun akan ditimpakan karena kelalaian sang hamba. Akan tetapi, hanya Allah Swt yang menyangga langit agar tidak jatuh menimpa bumi. Maka sang hamba sadar bahwa yang mencegah dirinya beriman kepada-Nya dan yang membiarkan seseorang tidak mengesakan-Nya adalah Dzat yang menjadikan langit tidak runtuh menimpa bumi, dan itu pun terjadi atas seizin-Nya. Lalu, lisannya akan terus berdzikir dan berdoa,”Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu. Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku agar taat kepada-Mu.”(HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Baghawi, Ibnu Sunni, dan Al-Hakim) Dan dia juga berdoa,”Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Berdikari, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan : baguskanlah segala urusan dan perilakuku. Sedikitpun, janganlah Engkau membiarkan aku dikuasai oleh nafsuku, juga kepada salah satu dari makhluk-Mu.”(**tidak ditemukan redaksi hadits yang sama persis, tetapi ditemukan penggalan-penggalan doa tersebut dalam beberapa riwayat hadits)

Dalam penyaksian yang seperti ini, seorang hamba yang menyaksikan taufik dan penelantaran Allah Swt juga akan menyaksikan rububiyyah-Nya dan kehebatan penciptaan-Nya. Maka, dia akan memohon taufik kepada-Nya sebagai orang yang memohon karena terdesak. Dia juga berlindung dari penelantaran-Nya sebagai orang yang tak lagi berdaya, dia akan menyerahkan jiwanya kepada-Nya, tersungkur di pintu rahmat-Nya, menundukkan kepala di hadapan-Nya, merasa hina, miskin dan tidak berdaya upaya lagi.

Dengan demikian taufik dapat dinyatakan sebagai kehendak Allah kepada hamba-Nya terkait apa yang terbaik untuknya. Kalau seorang hamba diberi taufik, niscaya hamba tersebut mampu melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, bahkan lebih dari itu dia menghendaki perbuatan itu, menyukainya, dan memprioritaskannya. Di arah yang berlawanan, hamba tersebut akan membenci apa yang dibenci Allah. Tegasnya, hal ini hanyalah sekadar sebuah perbuatan. Meskipun demikian, hamba tersebut menjadi tempat dari taufik yang Dia berikan.

Allah Swt berfirman,”Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Hujurat [49]:7-8)

Allah Swt Maha Tahu siapa saja yang layak untuk menerima anugerah ini dan siapa saja yang tidak layak mendapatkannya. Dia juga Maha Bijaksana kepada siapa Dia menganugerahkannya dan menempatkannya, dan orang yang tidak berhak dan tidak layak niscaya tidak akan pernah mendapatkannya.

Ayat tersebut menegaskan, kecintaan dan keinginanmu terhadap keimanan kepada Allah dan keindahannya akan keberadaannya di dalam hati bukanlah kemauanmu. Akan tetapi, Allah Swt yang menjadikannya demikian : Dia-lah yang membuatmu lebih memilih iman dan kemudian Dia pula yang meridhaimu. Maka dari itu, janganlah kamu kurang ajar kepada utusan-Ku. Jangan kalian berbicara sebelum dia berbicara, jangan pula kalian berbuat sesuatu sebelum dia memerintahkan. Orang yang hatinya dijadikan cinta pada keimanan itu lebih tahu akan urusan  dan kebaikan kalian, sementara kalian andaikata bukan karena taufik-Ku niscaya hati kalian tak pernah kemasukan iman. Artinya, iman itu bukanlah hasil musyawarah dan perbuatan kalian. Sedikit hati kalian tidak akan mencapainya. Andai saja Rasul-Ku menyetujui kemauan kalian niscaya kalian sendiri yang akan mendapat kesulitan dan akhirnya kalian juga yang akan binasa. Lain dari itu, akan banyak maslahat yang akan kalian tinggalkan sedangkan kalian tidak menyadarinya. Janganlah kalian mengira bahwa kalian sudah mengerti apa yang baik untuk kalian. Andai Aku tidak menjadikan hati kalian mencintai keimanan dan membenci hal yang sebaliknya, niscaya semuanya tidak akan terjadi.

Satu amsal yang sangat tepat untuk dijadikan ibrah dari semua ini. Alkisah, tersebutlah seorang raja yang memerintahkan utusannya ke salah satu negeri yang masih menjadi wilayah kedaulatannya. Bersamaan itu pula sang raja menuliskan surat kepada penduduk negeri tersebut berikan peringatan bahwa musuh sudah mendekati mereka dan akan menyerang. Dalam surat tersebut juga diberitahukan bahwa musuh-musuh tersebut akan membunuh mereka semua dan akan meratakan negeri mereka dengan tanah. Sang raja juga mengirimkan perbekalan, kendaraan, dan petunjuk jalan yang memadai untuk semua penduduk negeri tersebut agar mereka segera mengungsi dari negeri mereka. “Pergilah kalian bersama para pemberi petunjuk jalan itu dan aku juga telah menyertakan bersama mereka apa yang kalian butuhkan,” kata sang raja dalam surat tersebut. Kemudian dia berkata lagi kepada para punggawanya yang akan diutus ke wilayah yang dimaksud,”Pergilah kalian menemui Fulan dan Fulan, gandenglah tangannya dan jangan sampai kalian lepas gandengan tangan kalian. Adapun selain yang tidak aku sebutkan biarkan saja dan jangan hiraukan mereka. Mereka tidak pantas hidup di wilayah negeriku.” Maka, pergilah para utusan itu menjemput nama-nama yang telah disebutkan sang raja, bahkan mereka menghadapkannya kepada raja. Akhirnya, musuh pun membantai mereka yang tersisa di kota yang akan diserang tersebut hingga banyak di antara mereka mati terbunuh sedangkan sisanya dijadikan tawanan.

Pertanyaannya, apakah sang raja telah zalim kepada rakyatnya atau berbuat adil kepada mereka? Benar, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan perhatian khusus dari sang raja dengan berbagai kebaikan dan karunia sang raja, bahkan hal itu merupakan anugerah yang sang raja berika kepada siapa saja yang dia kehendaki.[** Maha Suci Allah Yang telah menjadikan amsal-amsal. Sesungguhnya Dia Maha Tahu sedangkan manusia tidak mengetahuinya. Dia-lah Tuhan seru sekalian alam Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dia juga Yang mendidik makhluk-Nya dengan nikmat dan kasih sayang-Nya]

Beda halnya dengan aliran Jabariyah, mereka menafsirkan bahwa taufik adalah penciptaan taat sedangkan penelantaran adalah maksiat. Benar mereka menyatakan bahwa maksiat dan taat adalah ciptaan Allah Swt, tetapi sayangnya mereka salah dalam membangun prinsip teologi mereka. Mereka tidak mengakui adanya hikmah dan sebab yang ada di balik penciptaan taat dan maksiat sebagai hal yang murni kehendak Allah Swt.

Kebalikan paham ini adalah Qadariyah yang menafikan sama sekali kehendak Allah dalam setiap perbuatan manusia. Menurut mereka, taufik adalah penjelasan yang bersifat umum atau petunjuk yang umum, yang kemudian petunjuk atau penjelasan itu berpotensi bagi adanya ketaatan dan sebagai sebab yang menghantarkan seseorang menjadi mukmin. Tentu saja dengan pengertian seperti ini antara yang kafir dan yang musyrik sama-sama menerima hujah (bukti atau alasan) dan sama-sama juga berpotensi untuk beriman. Bahkan, menurut mereka, antara kafir dan mukmin juga mendapatkan bagian yang sama dari sampainya hujah kebenaran ini kepada mereka sebab potensi untuk menyimpulkan dari adanya dalil-dalil dan hujah itu juga sama-sama mendapatkan penjelasan dan hujah. Kemudian, apabila seseorang beriman dengan adanya penjelasan itu maka jadilah penjelasan itu sebagai taufik, sementara apabila dia kufur maka kekufurannya itulah yang disebut penelantaran.

Kemudian, dari paham yang mereka anut ini mengandung konsekuensi-konsekuensi yang tidak dapat diterima oleh orang-orang yang berakal. Sementara itu, mereka juga tidak konsekuen dengan ketentuan dasar akidah yang mereka bangun. Akibatnya, nyatalah bahwa mazhab akidah yang mereka anut itu batil dan mereka juga harus menanggung berbagai kesimpulan yang tidak sinkron.

Beda halnya dengan orang-orang yang beriman, dengan izin Allah Swt mereka tidak berselisih karena Dia-lah yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki.

Orang-orang yang beriman sedikitpun tidak terpengaruh baik kepada aliran Jabariyah maupun Qadariyah, bahkan mereka bersaksi bahwa kedua kelompok ini telah melenceng dari jalan yang benar.

Bagi orang-orang yang beriman, qadha dan qadar adalah ketetapan Allah Swt untuk seluruh makhluk-Nya. Mereka juga menyakini sebab-sebab, hikmah, tujuan dan kemaslahatan di balik semua ketentuan Allah yang tertuang dalam qadha dan qadar-Nya. Mereka juga menyucikan Allah dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya dan dari hal yang sia-sia. TIDAK ADA SATU PUN DI JAGAD RAYA SESUATU YANG ADA DAN BERLAKU KECUALI ATAS KEHENDAK-NYA. TIDAK ADA SATU PUN DARI PERBUATAN-NYA YANG KELUAR DARI KEHENDAK-NYA YANG MUTLAK. Dan barangsiapa yang tidak mengakui hal ini, maka sebenarnya dia tidak mengetahui Tuhannya dan belum bisa dinyatakan sebagai orang yang menyucikan-Nya dari perbuatan buruk dan sia-sia. TIDAK SATU PUN SESUATU YANG ADA DI ALAM INI DIA CIPTAKAN DENGAN SEMBARANGAN DAN DIA TIDAK BERBUAT SIA-SIA. SEMUA PERBUATAN-NYA MENGANDUNG HIKMAH YANG DALAM, YANG UNTUK ITU PULA DIA MENJADIKANNYA DAN UNTUK ITU PULA MENCIPTAKAN SEBAB-SEBABNYA.

Tegasnya, dalam setiap ciptaan serta takdir yang telah Dia tentukan kepadanya niscaya di situ pula terdapat hikmah yang dalam. Hikmah itulah yang menjadi sifat-Nya yang terus ada bersama Dzat-Nya. Sifat ini bukanlah makhluk sebagaimana yang dinyatakan oleh kaum Qadariyah.

Mereka yang menetapi jalan yang benar adalah orang-orang yang membebaskan diri dari dua golongan ini, kecuali ada beberapa hal yang diantaranya sama dengan prinsip akidah mereka. Akan tetapi, kesamaan prinsip ini tidak lantas membuat kedua kelompok ini (Jabariyah dan Qadariyah) terbebas dari kebatilan, sebab di antara paham-paham mereka juga terdapat paham yang melenceng dari jalan yang benar. Tegasnya, orang-orang mukmin itulah yang menjadi saksi Allah, merekalah orang-orang kepercayaan Allah. Mereka hanyalah orang-orang yang sadar dan paham akan kedudukan Tuhan dan bagaimana seharusnya mengimani-Nya, lalu pemahaman mereka ini mereka jadikan tolok ukur bagi pemahaman manusia.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua[]

(Dikutip dari : “Gambaran Manusia ketika Melakukan Maksiat” dalam “Ensiklopedia Taubat_Dari Dosa Menuju Surga” [Terjemahan dari Kitab “At-Taubah Wa al-Inabah“], Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, 1999)

 

 

 

 

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Manusia dan tag , , . Tandai permalink.