“Ikhlaskanlah Dia”

“Ikhlas itu tiada terucap. Ikhlas itu sembunyi dalam sunyi, bahkan lenyap dalam senyap. Ikhlas itu rahasia, tanpa kata meski bukan tanpa makna”

“Keikhlasan : ‘abadikan kebaikanmu dengan cara melupakannya’; Tak suka mengungkit kebaikan, tak pula mengungkap keburukan

“Ikhlas tidak butuh pengakuan”

“Ikhlas adalah kesabaran untuk sadar dan kesadaran untuk sabar”

“Ikhlas itu kesadaran melepas”

Jika mengikhlaskan Allah, maka kita meridhai segala tindakan-Nya atas makhluk, termasuk diri ini.

Mengikhlaskan Allah berarti meridhai-Nya berbuat apapun terhadap diri kita; Bahkan musibah pun telah berhasil kita maknai sebagai Kasih Sayang Allah untuk menjemput pulang makhluk yang selalu dirawat-Nya.

[Sering kali manusia tidak sadar betapa ia tidak ikhlas bahwa Yang Satu hanya Allah. Entah sengaja atau tidak sengaja, kita menuhankan hal-hal lain selain Zat-Nya. Entah itu kekuasaan, jabatan, harta, atau takhta. Kita juga suka bermain laksana Tuhan : menghakimi, mengadili, bahkan menjatuhkan hukuman atas nama kebenaran. Menyalahkan yang berbeda, mengkafirkan yang berlainan keyakinan, mengharamkan pemahaman yang selayaknya didiskusikan; Kita sok kuasa menyerobot kekuasaan Tuhan, padahal pasti gagal; Kita marah pada yang salah, gusar pada yang benar, mengutuk yang buruk, menampik yang baik. Entah apa onak di hati, segala yang mendarah daging harus sesuai yang diingini]

Allah itu Maha Esa, dan kita wajib mengikhlaskan-Nya demikian tanpa pertanyaan, tanpa perlawanan, dengan segala keniscayaan yang mutlak dalam kekuasaan-Nya.

Hamba-lah yang membutuhkan Tuhan, dan bukan sebaliknya. Allah adalah Allah, tak tergantikan. Tidak ada Tuhan baru, sebagaimana tidak ada Tuhan lama. Dia tidak terkungkung oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan-Nya. Dia berhak, berkehendak, berwenang, berkuasa penuh untuk berbuat sesuka-Nya.

Kehendak Allah segala-galanya. Seluruh makhluk takluk. Pilihannya hanya satu : ikhlas.

Ikhlaskanlah Allah berbuat sesuai kehendak-Nya. Ikhlaskanlah Keesaan Allah dengan segala kemutlakan-Nya. Ikhlaskanlah Allah tanpa bertanya, tanpa mempertanyakan, tanpa berdusta, tanpa mendustakan, tanpa mendebat, tanpa membantah, karena itu semua percuma belaka. Ikhlaskanlah Allah, maka hati kita akan penuh Cinta.

Allah itu Penguasa segalanya. Apalah kita tanpa-Nya. Berhentilah melawan, segera berserah diri, rukuk, sujud. Percuma kita mengagungkan prestasi, itu karya Ilahi. Kehormatan, kekuasaan, kemuliaan, kekayaan, berasal dari Allah. Kepadamu mudah bagi-Nya memberi, semudah bagi-Nya mengambil kembali. Pun demikian halnya kehinaan, Dia Yang menguasai.

Dia Maha Berkehendak, dan bahkan tiada yang bisa menahan-Nya menghapus kehendak-Nya sendiri jika itu yang Dia kehendaki. Suka-suka Dia. Alam semesta ciptaan-Nya sendiri. Makhluk ciptaan-Nya sendiri. Tak ada yang bisa mempengaruhi-Nya untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dia-lah Sang Maha Pengatur, tak ada yang bisa mengatur-Nya. Ikhlaskanlah saja, ikhlaskanlah saja. Ikhlaskan dirimu, ikhlaskan Dia.

Ikhlaskanlah Allah berbuat sekehendak-Nya. Kepada Jibril yang bertanya tentang ikhlas, dari pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah Saw, dari seorang sahabat yang menanyakan hal itu, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyampaikan jawaban nan indah. Bisikkanlah kepada hatimu, dan mulailah mengikhlaskan segala sesuatu. Mulai dari mengikhlaskan Allah atas dirimu.

“Ikhlas adalah rahasia di antara rahasia-rahasia-Ku dan Aku menempatkannya di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.”(HR. Al Qazwani)[]

(* Dikutip dari : “Ikhlaskanlah Allah”, Candra Malik; Candra Malik; 2014)

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.