Larik-larik Rindu Membara untuk-Nya (7)

~ Untaian sebelumnya, termuat dalam : Larik-larik Rindu Membara untuk-Nya (6)

“Mulutku menganga tak selesai mengucap nyeri, Kekasih…

…aku tak punya tenggorokan laut untuk segera menelan kasih sayang-Mu

…tapi aku punya airmata untuk menzikiri nama-Mu dari masa ke masa”;

“…sudah malam, tegur-Mu, tapi, di mana Engkau, Kekasih?

aku lelah, biarlah aku menunggu di bilik jantungku ini

menyebut nama-Mu seberulang yang aku bisa

sehabis-habis suara, sehabis-habis…

setangis…setangis…”;

“…burung rinduku, burung rinduku, ya Kekasih

jangan tinggalkan daku

pisau untuk sayap telah dihunus ke langit

dan sayap yang patah akan lebih berterbangan dari kita

dan hari yang kencana luluh dalam ratap dan jerit;

…burung rinduku, burung rinduku, ya Kekasih

jangan tinggalkan daku

cahaya menggeriap menderas dari mentari

sayap ‘lah dikepakkan hingga ke bintang weluku

rindu ‘lah dipulangkan hingga ke lubuk kalbu”;

“…ditagihnya janji rindu, diburunya gelisah sunyi

dikicaukannya dengan darah pengakuan waktu sebelum dibuktikannya cinta itu di hadapan puisi,

langit mengucurkan kembang bulan

dan embun berlinangan di kaca jendela,

dan malam yang kurus

merintihkan senandung mawar

berdesir angin, meraut nyeri yang menggelepar”;

“Menggelepar begini adalah menenun perih

menjadi selembar kain rindu yang ungu

setengahnya lagi adalah kesadaran bahwa aku ada

di sana, sama! menggelepar, menunaikan luka!”;

“…wilayah pedihnya

tempat kita bercengkerama.”;

“…biduk kecilku yang gelisah mempertahankan kerapuhannya

aku tanya Engkau pada tiap apa saja tapi mereka bungkam sambil menundukkan kepala”;

“…kapal kertas yang mengguris badai laut

adalah kapal cintaku

yang senantiasa berkayuh ke arah-Mu…”

(* Dikutip dari : “Mengucap Nyeri”, “Dan Hari pun Malam”, “Burung-burung Rindu”, “Burung Biduan”, “Di Pasir Inilah Kita Menggelepar, Ya, Ikan”, “Aku Perlu Luka”, “Nyanyian Kekasih”, “Kapal Kertas”, dalam “Tragika Sang Pecinta, Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani”; Jamal T. Suryanata; 2010)

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di syair cinta sufistik dan tag , , . Tandai permalink.