Larik-larik Rindu Membara untuk-Nya (6)

~ Untaian sebelumnya, termuat dalam : Larik-larik Rindu Membara untuk-Nya (5)

“…Dari apapun pintu itu, Allah, aku hanya ingin, Engkau selalu menyambutku saat aku menginginkan-Mu. Tapi bukankah, nadiku berdetak dengan inginku, pada-Mu? Jadi apa perlunya pintu itu? Ia hanya memberitahuku, bahwa aku tidak sepenuhnya bermukim bersama-Mu. Maka kulepaskan. Kulepaskan. Tak ada pintu. Hanya Engkau dan aku.”-[“Langit (6)” dari “Kubah 3” dalam “9 Kubah”; Evi Idawati; 2013]

“Mengingat-Mu, aku seperti mendengar suara pilu yang lirih dan jauh. Seakan rintihan yang menyayat udara hingga angin membawaku pada gesekan biola di sebuah luka. Nyaris tanpa desir; darah mengalir begitu lambat dan debar di dada adalah gumaman cinta yang patah dan rebah. Aku memang mengingat-Mu, di dalam kesakitan yang merubuhkan rindu…”[“Mengingatmu” dari “Kubah 3” dalam “9 Kubah”; Evi Idawati; 2013)

“Jika hujan ini adalah kabar, aku hanya ingin berita yang indah untuk-Mu, Kekasihku. Bukan deru angin yang menghancurkan, tidak pula air berlimpah hingga menjadi bah; Aku ingin memahami Diri-Mu lebih banyak dan menyediakan hatiku untuk belajar tentang hidup bersama-Mu. Aku mengatakan itu pada hujan saat ia menanyakan mengapa airmataku tak hendak jeda; Meneguk pagi dengan Diri-Mu, bagiku teh ini, kental dan padat oleh desah rindu. Begitupun dengan hujan yang menderu.”[“Kabar Hujan”- (1),(3),(4); dalam “Kubah 4” dalam “9 Kubah”; Evi Idawati; 2013]

“Hujan memang tumpah malam ini, mengiris awan, angin dan gelegar halilintar, serpihan yang jatuh ke bumi adalah rindu yang terpahat di hatiku untuk-Mu…”[“Kabar Hujan”- (5); dalam “Kubah 4” dalam “9 Kubah”; Evi Idawati; 2013]

“…Di langit dan hatiku. Hanya rindukulah yang berkarib dengan cinta. Semakin ingin aku menjumpai-Mu, semakin besar aku merasa memiliki-Mu…; Atas nama-Mu, atas nama cinta, aku mengasingkan diriku. Aku menutup diriku hanya untuk perjumpaan dengan-Mu. Maka tak kudengarkan bisik dan seru. Tak kuhiraukan tangis dan sendu apalagi gelegar tawa dan bius semu. Aku merapat, aku mendekat. Aku merapat, aku mendekat. Aku mengakar kuat. Pada cintaku : pada cinta-Mu.”[“Kubah Cinta” dalam “Kubah 9” dalam “9 Kubah”; Evi Idawati; 2013]

“…Dengan luapan cinta dan pemujaanku pada-Mu, aku senantiasa menyapa langit dan semesta; menyerahkan diriku untuk mencintai-Mu; getar dan detak; tangis yang menggenangi pori-pori; limpahan rindu untuk diri-Mu…”[“Sajadah” dalam “Mencintaimu”; Evi Idawati; 2010]

“…Percikkan padaku kecemerlangan; bukakan untukku langit; agar aku bisa menderu dalam rindu; Kau lihat, aku menari dalam kemabukanku untuk-Mu…; Setiap jengkal tanah yang aku pijak ini, menyimpan gumam rindu dan cinta kepada-Mu; begitupun darah yang mengalir di tubuhku…; Tak ada yang aku puja selain Diri-Mu, tak ada yang aku inginkan kecuali Engkau…; Tapi sujudku pada-Mu Ya Rabb, adalah ketaklukan cinta dengan gemuruh rindu setiap waktu.”[“Sujudku” dalam “Mencintaimu”; Evi Idawati; 2010]

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, sufism; tashawwuf, syair cinta sufistik dan tag , , , , . Tandai permalink.