Doa Yang Sesuai Dengan Akidah

“…Jangan pernah jadikan doa dan pintamu sebagai tuntutan terhadap Allah Ta’ala…”

Banyak orang yang ketika berdoa, doanya menjelma syirik.

Hal itu terlihat dalam doa-doa yang berbentuk mantra, misalnya.

Ada pula orang yang berdoa di saat dia tertimpa musibah dan doanya persis seperti titah tuanku kepada hamba sahaya. Doa semacam itu menganggap seolah-olah Allah Ta’ala adalah pesuruh yang bisa disuruh melakukan sesuatu sekehendak hati. Padahal dinyatakan, seburuk-buruk manusia adalah dia yang ketika tertimpa musibah kemudian berdoa sambil menangis dan menjerit-jerit, tetapi setelah hidupnya aman dan nyaman kembali dia lupa dan tidak lagi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Karena itu, sebagai hamba yang baik, jangan pernah menjadikan doa kita sebagai mantra.

Jangan jadikan doa sebagai alat memprotes Allah Ta’ala. Atau pun menjadikan doa sebagai alat untuk memerintah Allah Ta’ala seenaknya.

Yang benar adalah, jadikanlah doa sebagai mukhul ‘ibadah–intinya ibadah.

Sistematika doa yang benar adalah, pertama, berdoalah atas dasar keharusan hamba menyampaikan keinginan hati sekaligus pengakuan ketidakberdayaan hamba di hadapan-Nya. Kedua, jadikan doa sebagai sarana untuk mengakui kebesaran Allah Ta’ala. Karenanya, jangan pernah protes apalagi memerintah Allah Ta’ala seenaknya, karena Dia lebih tahu apa-apa yang baik dan tidak baik untuk hamba-Nya. Pasrahkan saja semuanya pada Allah karena Dia Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.

“…Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”(QS Al-Baqarah : 186)

Doa yang baik adalah doa yang dilandasi oleh akidah tauhid. Yang tetap mengembalikan semua hal kepada Allah Ta’ala. Karena, bila doa disampaikan oleh orang yang tidak memahami ilmu tauhid, maka yang terjadi adalah doa itu kemudian menjelma mantra, menjelma protes, dan menjelma perintah. Doa semacam itu, kalau pun dikabulkan bukan dikabulkan atas ridha Allah, tapi istidraj*. Doa yang disampaikan dengan cara seperti itu kalau dikabulkan bukan berarti Allah Ta’ala mengabulkan doa seorang hamba yang dekat dengan-Nya.

Doa yang terkabul terkadang bisa merusak akidah. Contohnya adalah doa orang yang meminta rezeki pada Allah Ta’ala. Doa tersebut kemudian terkabul. Lalu, orang yang berdoa tersebut kemudian mengucap Alhamdulillah dan menyakini bahwa berkat doanya terkabulkan maka ia memperoleh rezeki. Hal itu hukumnya syirik karena dia lupa kepada Allah Ta’ala. Dan hal semacam itu hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan. Orang lain tidak bisa menuduh apalagi memvonis bahwa seseorang telah istidraj atau tidak, telah lupa kepada Allah atau tidak. Yang bersangkutanlah yang bisa menghukumkan dirinya istidraj karena di dalam dirinya telah ada rasa. Contoh yang lain lagi, kalian meminta hujan dan tak lama kemudian hujan turun. Setelah itu kalian mengucap Alhamdulillah karena doanya telah dikabulkan maka hujan turun. Berhati-hatilah, karena hal itu jelas-jelas istidraj. Karena kalian sudah merasa mempunyai kekuatan untuk berdoa dan menghilangkan kekuasaan Allah Ta’ala. Seolah-olah kalian lebih berkuasa daripada Allah Ta’ala dan Dia bisa disuruh-suruh oleh kalian. Karena hakikatnya, setiap doa itu dikabulkan atau tidak dikabulkan hanya atas dasar kehendak Allah Ta’ala saja.

Di dunia ini tidak ada orang yang mau hidup miskin, tidak ada orang yang mau jadi rakyat jelata, tidak ada yang mau hidup susah. Tapi hidup ini beragam. Ada yang susah dan ada yang senang. Ada yang berkekurangan dan ada yang berkelebihan.  Dan ada yang jadi rakyat namun ada pula yang jadi pejabat dan pemimpin. Faktanya, seseorang menjadi seperti apa itu hanya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah Ta’ala. Meski berdoa siang dan malam meminta agar dirinya menjadi pejabat, tapi kalau Allah Ta’ala tidak menghendaki maka ia tidak akan menjadi pejabat.

Doa adalah ibadah.

Doa adalah penghambaan.

Doa adalah tadharru’ atau perendahan diri.

Dan doa adalah mukhul ibadah–intinya ibadah.

Soal dikabulkan atau tidak dikabulkannya sebuah doa adalah hak mutlak Allah Ta’ala.

Kalian boleh berharap sepenuh hati dan memiliki optimisme tinggi, tetapi berhati-hatilah, jangan sampai harapan dan optimisme itu kemudian menjelma ambisi dan yakin sekali bahwa setiap doa yang dipanjatkan akan dikabulkan.

Doa orang yang saleh itu bukan doa yang disampaikan dengan nada tinggi disertai ambisi meluap-luap. Doanya orang yang dekat dengan Allah Ta’ala itu adalah doa yang disertai kepasrahan kepada-Nya, karena ia yakin betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui.

Ketidaktahuan kita akan akhir takdir memang kerap melalaikan dan membuat kita panik. Kita tidak pernah tahu akhir dari setiap persoalan yang tengah melanda hidup kita. Itu sebabnya kita sering berdoa dengan cara dan etika yang tidak benar. Padahal, setiap doa harus disandarkan sepenuhnya pada kehendak-Nya. Bahkan, doa yang berbunyi : “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar”, itu pun harus disampaikan dengan landasan kesadaran bahwa doa itu adalah firman Allah Ta’ala. Tidak boleh diakui bahwa doa itu adalah bahasa dan keinginan hati kita.

Setiap berdoa sampaikanlah dengan bahasa dan intonasi yang baik dan sertai kesadaran demikian :Saya berkata dan berdoa ini ya Allah sesuai dengan perkataan dan kehendak-Mu. Saya tidak berharap apapun. Karena Engkau menyuruh saya berdoa dan mengatakan ini semua, maka saya lakukan dan saya katakan. Saya yakin Engkau sudah mengetahui semua tentang saya dan semua kebutuhan saya, karena Engkaulah yang menciptakan saya.”

Hidup memang terkadang buruk, terlampau pahit, dan berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Tapi itu semua pasti sudah diukur oleh Allah Ta’ala. Tetap yakinlah bahwa ukuran Allah Ta’ala itu baik untuk kita.

Orang yang miskin dan sangat berkekurangan hatinya pasti sedih. Karena, di luar kesulitan hidupnya dia juga terus menerus berdoa. Tapi apa daya, hidupnya tak juga berubah. Hal semacam itu merupakan jihad. Berperang melawan hawa nafsu merupakan hakikat hidup. Dan itu ketetapan Allah Ta’ala. Menurut pandangan dan nafsu manusia, kemiskinan itu tidak baik dan tidak enak. Penderitaan berupa fitnah juga membuat hati kita tidak nyaman. Kesedihan itu mengguncang jiwa. Tapi, kalau kita mampu mengembalikan semua keadaan itu kepada Allah Ta’ala dan hanya kepada-Nya, kemudian kita “paksa” kesadaran kita bahwa di balik semua itu pasti ada kebaikan dari Allah Ta’ala yang masih disembunyikan-Nya untuk kita, maka kita akan sabar dan tenteram. Karena kita tahu, bisa saja kekayaan yang dimiliki seseorang itu justru menjerumuskan dan mempercepat proses kesesatan diri.  Bisa saja kesehatan seseorang itu menjadi awal bagi kezhaliman yang akan dilakukannya. Bisa saja kepandaian seseorang justru membuatnya masuk neraka. Karena itu janganlah berdoa dan meminta sesuatu yang kita tidak tahu akibatnya bagi diri kita.

“…jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS Hud : 46)

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan hidup kita. Bisa saja penderitaan yang kita alami sekarang malah akan menuntun dan menghantar kita menjadi lebih dekat dengan Allah Ta’ala.

Berdoalah karena berdoa itu adalah kewajiban kehambaan kita.

Apapun yang disampaikan dalam doa-doa, jadikan itu sebagai ibadah agar doa kita tetap di jalur akidah yang benar.

Namun, kalau kalian menjadi takut kemudian tidak berdoa dan menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala itu juga salah.

Tetaplah berdoa, karena kalau tidak berdoa berarti kalian sombong. Kalau tidak berdoa, kalian menjadi syirik.

“Siapa yang tidak mau meminta kepada Allah, Dia justru akan murka kepadanya.”(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dari Abu Hurairah)

Maka, berdoalah dengan baik dan benar. Dengan landasan tauhid dan akidah yang benar. Di sinilah mulai dibutuhkan bimbingan dari seorang guru–seorang mursyid.[]

(* Dikutip dari : “Musibah Adalah Anugerah”; CM Hizboel Wathony Ibrahim; 2014)

~Catatan terkait : Makna dan Hakikat Doa

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, sufism; tashawwuf dan tag , . Tandai permalink.