Merasa Diri Mulia. Tak Guna!

Abu al-Laits rahimahullah berkata,”Allah memiliki malaikat-malaikat di langit ketujuh yang senantiasa melakukan sujud kepada-Nya sejak mereka diciptakan. Tubuh mereka bergetar karena rasa takut kepada Allah Swt. Ketika hari kiamat tiba, mereka mengangkat kepalanya dan berkata,‘Maha Suci Engkau, kami tidak menyembah Engkau dengan sebaik-baiknya…’-(Imam Al-Ghazali; dalam Tahdzib Mukasyafah al-Qulub; [Menyelami Isi Hati, 2014])

Dalam “Gulistan Sa’di” (Bab II, kisah 7), Syekh Musliuddin Sa’di Shirazi berkisah : “Aku ingat masa kecilku yang amat alim, bangun pada malam hari, bersembahyang dan menyerahkan diri dengan khusyu kepada Allah. Suatu malam aku sedang duduk bersama ayah, dengan memeluk Al-Qur’an tercinta. Sementara orang-orang di sekitar kami tidur dengan lelap. Aku berujar,’Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengangkat kepala atau sholat tahajud. Mereka terlelap seperti orang mati.’ Ayahku menimpali,’Wahai putra kesayangan ayah, apa yang engkau lakukan? Lebih baik tidur daripada menghina mereka.'”-(Gulistan; 2005)

“Seorang yang merasa mulia, tidak melihat orang lain kecuali dirinya sendiri. Karena dia mempunyai cadar untuk menutupi bagian depan. Jika dia diberkahi oleh Allah Yang Maha Melihat, dia akan tahu bahwa tidak ada orang yang lebih lemah selain dirinya sendiri”-(Syekh Musliuddin Sa’di Shirazi)

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Imam Al-Ghazali, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Syekh Musliuddin Sa'di Shirazi, tazkiyatunnafs dan tag . Tandai permalink.