Tak Sempurna…

…Banyak dari kita yang menilai dan menghakimi diri sendiri dengan keras karena kita tidak menempuh jalan ini dengan sempurna. Kendati demikian, kita juga harus menyadari, bahwa kita tidak akan pernah menjadi sempurna. Tuhan tidak mengharapkan kesempurnaan. Dia menilai niat dan kerja keras yang kita lakukan untuk meraih kesempurnaan.

…Suatu hari Nabi Muhammad Saw bertanya apakah ada di antara para sahabatnya yang dapat mengerjakan shalat secara sempurna dengan pikiran yang tidak mengembara kemana-mana. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan itu. Akhirnya, Abu Darda, salah seorang sahabat Nabi Saw menjawab,”Jika Allah berkenhendak, mungkin aku bisa.” Nabi Muhammad Saw bersabda,”Kerjakanlah shalat dua rakaat saja dengan pikiran yang tidak mengembara ke mana-mana dan aku akan menghadiahkan jubahku.” Ketika Abu Darda memulai shalatnya, Nabi Muhammad Saw mengawasinya lekat-lekat. Kemudian, setelah Abu Darda menyelesaikan rakaat pertama, Nabi Saw memalingkan wajahnya. Sewaktu Abu Darda selesai melaksanakan shalatnya, Nabi Saw bertanya,”Apa yang terjadi?”–“Alhamdulillah, pikiranku tidak berkeliaran ke mana-mana selama rakaat pertama. Namun, saat memulai rakaat kedua, selintas pikiran hinggap di benakku,’beliau mempunyai dua jubah; yang mana yang akan kudapatkan?’

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kita tidak akan pernah menjadi sempurna. Kita tidak diciptakan sempurna…Kita diciptakan untuk membutuhkan bantuan, kemurahan hati, dan ampunan Allah…

Menjadi sempurna bukanlah pilihan bagi kita. Tetapi, kita tidak butuh untuk menjadi sempurna dan kita mestinya tidak mencoba menjadi sempurna. Kendati demikian, kita harus berjuang keras menuju kesempurnaan. Nafsu sering kali berusaha menyakinkan kita bahwa kita harus sempurna karena tanpa kesempurnaan kita tidak akan pernah membuat kemajuan di jalan spiritual. Jika kita mengikuti bujukan nafsu, ia menang karena sesungguhnya kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan.

Sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan segala keterbatasan, kita bisa meneguhkan niat untuk meraih kesempurnaan dan berjuang untuk mewujudkannya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Hanya ini yang bisa kita lakukan. Ini merupakan langkah besar yang akan membutuhkan banyak pengorbanan. Jangan meremehkannya!

…Semestinya kita tidak merasa takut dengan apa yang tidak bisa kita lakukan, tetapi bersyukurlah atas apa yang bisa kita kerjakan. Kemudian, mintalah ampunan kepada Allah atas segala kekurangan…[]

(* Dikutip dari : “Sufi Talks: Teachings of an American Sufi Sheikh“; 2012/ “Obrolan Sufi, Untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh”; Syekh Ragip Frager (Robert Frager, Ph.D); 2013)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Syekh Ragip Frager, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , . Tandai permalink.