d.i.a.m! s.i.l.e.n.t!

…Kita tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan dan dibutuhkan hati kita karena kita terus disibukkan dunia.

Seperti anak-anak, kita sibuk dengan mainan plastik dan aneka bentuk permainan bodoh lainnya. Permainan itu baik untuk seorang anak, tetapi kita sedang berusaha menjadi manusia dewasa. Dan, seorang manusia dewasa seharusnya berusaha mencari Tuhan dan mencari cara untuk menyenangkan-Nya.

Orang dewasa seharusnya sudah melepaskan ikatan dengan permainan duniawi yang kekanak-kanakan.

Kita harus meluangkan waktu, menjadi tenang, dan tafakur secara mendalam untuk mengetahui apa yang hati kita inginkan….Kita biasanya begitu fokus pada peristiwa-peristiwa lahiriah dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak memusatkan perhatian pada yang ada dalam diri kita. Waktu kita tersita untuk bekerja,… dan sebagainya. Kita harus luangkan waktu untuk mencari lebih dalam.

Jika kita meminta secara dangkal apa yang kita inginkan, kita hanya akan mendapatkan apa yang diinginkan nafsu.

Nafsu dalam diri kita selalu menginginkan lebih banyak barang–sebuah mobil baru, lebih banyak uang, sebuah rumah yang mewah. Nafsu kita juga menginginkan ketenaran dan puja puji.

Kita tahu apa yang dihasilkan benda-benda itu. Tidak ada satu pun dari benda-benda itu yang berharga atau penting dalam jangka waktu lama. Sebuah mobil baru atau mainan baru lainnya hanya akan tampak bagus selama seminggu atau dua minggu. Kemudian, barang-barang itu menjadi tua. Ketika kita dikendalikan nafsu, kita tidak bisa melihat apa yang ada di balik hasrat yang remeh ini…

…”Apa yang dirindukan hatiku?”…Apa yang ada dalam jantung hati kita? Beberapa hal mungkin tak bisa diungkap dengan kata-kata. Tidak semuanya dapat dinyatakan dengan bahasa. Untuk melakukannya, kita harus bersikap tenang. Kita harus mendengarkan dengan cinta karena cinta adalah kunci untuk lebih memperdalam pemahaman. Semakin kita hening, semakin perasaan kita peka.

…Ada sebuah hukum tua dalam psikologi yang disebut Hukum Weber-Fechner. Hukum itu dikembangkan setelah penelitian tentang persepsi–pendengaran, penglihatan, dan sentuhan–dilakukan selama bertahun-tahun. Hukum Weber-Fechner menyatakan bahwa semakin banyak simulasi dilakukan, semakin sedikit yang kita persepsikan. Semakin kita sibuk dan aktif, semakin kita kurang sensitif. Untuk menjadi sensitif, kita harus bersikap lebih tenang dan diam…

…Kita bisa bersikap tenang dan menjadi lebih hening dan peka sehingga kita dapat mendengar suara hati kita yang paling dalam yang biasanya tak terdengar. Suara batiniah itu teramat lirih dan terdengar lamat-lamat. Nafsu bersuara jauh lebih keras dan menggema terus-terusan. Mungkin karena itulah nafsu sering memenangi perang batin. Ketenangan merupakan sekutu utama yang kita butuhkan untuk menempuh jalan kebenaran.[]

(* Dikutip dari : “Sufi Talks: Teachings of an American Sufi Sheikh“; 2012/ “Obrolan Sufi, Untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh”; Syekh Ragip Frager (Robert Frager, Ph.D); 2013)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Syekh Ragip Frager, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.