Tua! Sadar?

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”(QS Fathir [35]:37)

Menurut Ibnu Katsir, para ahli tafsir berbeda pendapat tentang batas umur yang dimaksud dalam ayat itu.

Ali ibn Husain Zainal Abidin r.a berpendapat,”Batas umur yang dicukupkan Allah untuk berpikir dalam ayat di atas adalah 17 tahun.”

Abu Ghalib al-Syaibani mengatakan bahwa ayat tersebut menyatakan bahwa masa yang dicukupkan Allah untuk berpikir adalah 18 tahun.

Sementara itu, Wahab ibn Munabbih berpendapat–seperti yang diriwayatkan Abdullah ibn al-Mubarak dari Mu’ammar–bahwa usia yang dimaksud adalah 20 tahun.

Mujahid dan al-Sya’bi menuturkan,“Jika salah seorang dari kalian mencapai usia 40 tahun maka segeralah berhati-hati terhadap ancaman Allah.”

Ibnu Abbas berkata,“Batas usia seseorang di mana Allah telah cukup memberinya kesempatan untuk sadar dan berpikir–sesuai dengan ayat 37 surah Fathir–adalah 40 tahun (*pendapat Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abd al-‘Ula, dari Basyar ibn al-Mufadldlal, dari Abdullah ibn Utsman ibn Khutsaim, dari Mujahid).

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa usia yang dimaksud adalah 40 tahun, seperti itu pula riwayat al-Hasan al-Bashri dan Masruq. Pendapat ini dinilai shahih berdasarkan firman Allah “…sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun…”(QS Al-Ahqaaf [46]:15). Pada usia 40 tahun, kemampuan berpikir seseorang mencapai puncaknya. Setelah masa itu, kemampuan tersebut semakin berkurang, wallahu a’lam.

Namun, ada juga pendapat lain Ibnu Abbas yang juga diriwayatkan Ibnu Jarir : usia manusia di mana Allah tidak lagi memberinya kesempatan untuk beralasan dan menyesali perbuatannya–seperti dalam surah Fathir ayat 37–adalah 60 tahun (*pendapat ini juga diriwayatkan Ibnu Jarir dari al-Tsaury dan Abdullah ibn Idris, keduanya mendapat riwayat tersebut dari Abdullah ibn Utsman ibn Khutsaim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas).

Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa yang diberikan usia 60 tahun oleh Allah, maka Allah tidak lagi menerima alasan-alasannya.”(Al-Hadits; dalam : Al-Adab, al-Baihaqi, juz 3; hal.95, no.799). Maksudnya, Allah mencela orang yang menyia-nyiakan panjang usianya dengan hal-hal yang tidak berguna. Jika di akhir usianya, orang itu banyak berangan dan beralasan, misalnya dengan berkata,”Sekiranya Allah memanjangkan umurku lagi niscaya aku bisa lebih banyak melakukan kebaikan.”, maka ucapannya ini tidak akan pernah diterima Allah. Allah sudah menutup baginya pintu alasan.

Qatadah berkata,”Ketahuilah, panjang umur sesungguhnya adalah beban dan tanggung jawab, maka kami berlindung kepada Allah dari segala tindakan aib selama umur kami.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Allah tidak lagi menerima alasan dan uzur seorang hamba yang usianya telah dipanjangkan-Nya hingga 60 atau 70 tahun; sungguh Allah tidak lagi menerima alasannya, sungguh Dia tidak lagi menerima uzurnya.”(*Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini dari Abd al-Razzaq, dari Mu’ammar, dari salah seorang Bani Ghifar, dari Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a)

Imam Bukhari dalam Shahih-nya, pada bab al-Riqaq, meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Allah tidak lagi menerima alasan seseorang yang ajalnya telah ditentukan hingga usia 60 tahun.”(*Bukhari meriwayatkan dari Abdussalam ibn Muthahhir, dari Umar ibn Ali, dari Ma’an ibn Muhammad al-Ghifari, dari Said al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a). Bukhari berkata,”Riwayat hadits ini juga didukung oleh riwayat Abu Hazim dan Ibnu ‘Ajlan dari Sa’id al-Maqbari.”

Dalam Shahih-nya, Bukhari mencatat satu bab khusus, yaitu [Bab penjelasan tentang hadits] “Allah menutup pintu alasan bagi seseorang yang telah Dia tentukan ajalnya sampai usia 60 tahun” (*Bukhari meriwayatkan dari Abdussalam ibn Muthahir, dari Umar ibn Ali, dari Ma’an ibn Muhammad al-Ghifari, dari Sa’id ibn Abi Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a); yang dimaksud dengan ‘pemberi peringatan’ dalam ayat 37 surah Fathir tersebut adalah munculnya uban di rambut dan tanda-tanda lanjut usia lainnya.

Imam Malik berkata,”Aku mengenal banyak ahli ilmu di negeri kami, mereka sibuk mencari ilmu dan dunia, dan bergaul dengan manusia sampai usia mereka menginjak 40 tahun. Jika telah mencapai usia 40 tahun, mereka mulai mengisolasi diri dan tidak bergaul dengan banyak orang, mereka hanya sibuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.”

Suatu ketika Umar r.a menemui Nabi Saw dan ternyata air mata beliau berlinang. “Apa yang membuat engkau menangis, Rasulullah?”, tanya Umar. Nabi menjawab,”Jibril baru saja mendatangiku dan berkata,”Sesungguhnya Allah malu menyiksa orang yang telah beruban di dalam Islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat kepada Allah.”(dari Abu Hurairah r.a).

(*Sumber : “Semakin Tua Semakin Mulia_Kisah dan Rahasia Meraih Husnul Khatimah”; 2011/ “‘Alamat Husnil Khatimah wa ‘Alamat Su’ul Khatimah“; Aiman Mahmud; 2010)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.