Antara Syukur dan Pengingkaran

Imran ibn Hushayn mendengar Rasulullah Saw bersabda,”Tiga hal yang akan mengantarkan seorang hamba pada kesenangan dunia dan akhirat : bersabar atas musibah, meridhai takdir, dan berdoa dalam keadaan lapang.”(HR. Abu al-Syekh, dalam al-Tsawab (15/43211/kanz)

Ucapan Nabi Saw,”Berdoa dalam keadaan lapang” menyiratkan peringatan agar kita tidak pernah lupa bersyukur saat mendapat nikmat dan agar tidak menyikapi karunia yang Allah anugerahkan dengan kekufuran.

Al-Tirmidzi menukil sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.,”Suatu hari aku berada di sisi Rasulullah dan beliau Saw bersabda : ‘Hai anak muda, maukah kau kuajari sesuatu yang berguna bagimu?’ ‘Tentu saja, wahai Rasulullah,’ ujarku. ‘Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, pasti Dia ada bersama-Mu. Kenali Allah di saat lapang, pasti Dia mengenalimu di saat sempit. Jika meminta, mintalah kepada Allah. Jika memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada-Nya. Ketahuilah, andai seluruh umat berkumpul untuk memberimu kebaikan, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan andai mereka berkumpul untuk mendatangkan bahaya untukmu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.'”(HR. al-Tirmidzi, dalam Sunan-nya. Sanadnya shahih)

Rasulullah Saw bersabda,”Kenikmatan dunia sangat liar. Maka, ikatlah dengan syukur.”

Ibnu Athaillah r.a berkata,”Siapa yang tidak mensyukuri nikmat berarti sengaja membiarkan nikmat itu lenyap. Siapa mensyukurinya berarti ia mengikatnya dengan tali.”

Ketika diberi nikmat, hamba yang beriman akan berusaha menjaga pohon nikmat itu dengan sikap menerima dan rasa syukur. Ia jaga dedaunannya agar tidak dirusak racun pembangkangan dan pengingkaran.

Pengingkaran mewujud dalam aneka bentuk, seperti menampakkan perhiasan dan kemuliaan diri dengan banyaknya pelayan dan pengawal, pakaian yang indah, makanan yang lezat, dan banyak hal lain yang mempengaruhi jiwa dan menebalkan karat hati. Parahnya, sebagian orang bodoh mengira tindakan seperti itu sebagai wujud tahadduts bi al-ni’mah (menampakkan nikmat). Padahal tidak demikian. Sebab, pengungkapan nikmat dilakukan dengan memberikan kebaikan, menolong orang, menggunakan anggota badan untuk melakukan ketaatan, serta menghindari berbagai larangan dan dosa.

“Junayd al-Baghdadi pernah berkata,”Terdapat 3 hijab kalangan awam, yang membuat mereka terpisah dari Allah. Tiga hijab tersebut adalah makhluk, dunia, dan nafsu diri. Dan bagi kalangan khusus, terdapat 3 hijab untuk orang yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Tiga hijab tersebut adalah pamer amalan, mencari pahala, dan pamer nikmat.”

Bentuk pengingkaran lainnya adalah meminta dialihkan dari keadaan saat ini, baik karena merasa tidak nyaman, atau untuk menggapai kedudukan dan nikmat dunia yang lebih tinggi. Kau mengira itu lebih berguna untuk keadaanmu dan lebih bisa memenuhi keinginan. Padahal semua itu muncul akibat ketidaktahuanmu terhadap nikmat yang Allah anugerahkan. Seandainya ada yang lebih untukmu dari keadaanmu sekarang, tentu Dia sudah memberikannya. Ibn Athaillah mengingatkan hal ini dalam al-Hikam,”Jangan meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari satu keadaan pada keadaan yang lain. Sebab, jika Dia berkehendak, tentu Dia akan mengalihkanmu pada suatu keadaan tanpa mengeluarkanmu (dari keadaan sebelumnya).

Terimalah keadaan apapun yang ditetapkan Allah untukmu, baik lapang maupun sempit. Allah berfirman,”…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS Al-Baqarah [2]:216)[]

(* Dikutip dari : “Buku Saku Rahasia Kebahagiaan_Bekal Spiritual Orang Beriman Menghadapi Kesulitan Hidup”, 2013; Kitab Hall al-‘Iqal, Ibnu Qadhib al-Ban)

~ Catatan terkait : Sabar dan Syukur | Jihad dalam Suluk

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, Sabar dan Syukur, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , . Tandai permalink.