Hinanya Dunia

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…”(QS Al-Hadid [57]:20)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”(QS Al-A’la [87]:16-17)

“…Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)…”(QS Al-Anfal [8]:67)

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS Yunus [10]:7-8)

“…Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”(QS Ar-Ra’d [13]:26)

“…Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”(QS Muhammad [47]:12)

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.”(QS At-Taubah [9]:55)

Diriwayatkan dari Jabir, bahwasanya Nabi Saw melewati suatu pasar, lalu orang ramai mengelilingi beliau. Kemudian, beliau lewat di hadapan seekor anak kambing yang kedua telinganya kecil dan telah mati, lalu beliau mengambil salah satu telinganya dan bersabda,”Adakah di antara kalian yang menyukai ini dan mau membayarnya dengan satu dirham?” Mereka menjawab,”Kami tidak suka benda itu, dan apa yang kami bisa perbuat dengan benda tersebut?” Rasulullah Saw kembali bersabda,”Apakah kalian suka jika benda ini menjadi milik kalian?” Mereka kembali menjawab,”Demi Allah, kalau pun anak kambing ini hidup, maka tidak ada nilainya. Hewan ini cacat, karena memiliki kedua telinga yang sangat kecil. Lalu, bagaimana lagi jika hewan ini telah mati?” Rasulullah Saw bersabda,”Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi kalian di sisi Allah daripada benda ini.”(HR. Muslim (18/93), bab Az-Zuhd; Abu Dawud (184), bab Ath-Thaharah)

Dari Mustaurid bin Syadad Al-Fihri, bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Tidaklah kehidupan dunia ini dibanding dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti seseorang di antara kamu yang memasukkan telunjuknya ke dalam lautan. Maka, lihatlah seberapa air yang menempel, jika jari tersbut kembali (diangkat).”(HR. Muslim, 18/92; Tirmidzi, 9/199; dan Ibnu Majah, 4108)

Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Jikalau dunia ini sebanding dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air dunia pun kepada orang kafir.”(HR. Tirmidzi, 9/198)

Celaan terhadap dunia, bukanlah ditujukan kepada waktu siang dan malamnya yang berlangsung hingga hari kiamat. Karena, sesungguhnya Allah Swt menjadikan keduanya berganti-ganti sebagai waktu untuk berdzikir dan bersyukur bagi yang menghendakinya.

Demikian juga, celaan terhadap dunia bukan pula ditujukan kepada bumi, tempat dunia ini berada, dan apa yang terkandung di dalamnya seperti gunung-gunung, lautan, sungai, dan kekayaan bumi. Karena, semua itu merupakan nikmat dari Allah untuk para hamba-Nya, yang dapat menghasilkan manfaat, pelajaran dan bukti tentang keesaan, keagungan, dan kekuasaan Allah kepada manusia.

Celaan kepada dunia ditujukan kepada perbuatan anak cucu Adam yang terjadi selama hidup di dunia ini, karena mayoritas perbuatan mereka menimbulkan akibat yang buruk.

Kelompok orang yang disebut dalam QS Yunus [10]:7-8 adalah mereka yang ambisinya hanyalah memburu kesenangan di dunia ini dan menimbun setiap kelezatannya sebelum mati. Sebagaimana firman Allah : “…Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”(QS Muhammad [47]:12)

Yang berada dalam kelompok terbesar adalah mereka yang zalim kepada dirinya sendiri. Kebanyakan mereka senantiasa bergelimang dengan kesenangan dunia, dan memanfaatkannya bukan pada tempatnya yang benar. Dunia bagi mereka menjadi tujuan hidup terbesar, dan karena dunia mereka ridha dan marah. Mereka jadikan dunia sebagai pemimpin hidup mereka. Merekalah orang-orang yang suka bermain-main, bersenda gurau, dan berhias. Secara umum mereka menyakini adanya hari kiamat, tetapi mereka tidak mengetahui maksud dunia dan kehidupannya, dan tidak menjadikan dunia sebagai tempat untuk mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk kehidupan setelahnya.

Dua kelompok lain, yaitu orang yang berada di pertengahan (muqtashid) dan orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan seizin Allah (sabiq bil khairat bi idznillah).

Orang yang berada di pertengahan adalah mereka yang mengambil dunia dari segi yang boleh-bolehnya saja. Mereka melaksanakan seluruh kewajiban mereka, dan berleluasa menikmati kesenangan dunia. Mereka tidak mendapatkan siksa, namun derajat mereka menjadi rendah; “…Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya…”(QS Al-Ahqaf [46]:20)

Adapun orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan seizin Allah, mereka adalah yang memahami akan dunia dan memanfaatkannya sesuai dengan keperluannya saja. Mereka tahu bahwa dunia ini hanyalah tempat untuk menguji siapakah yang terbaik amal perbuatannya; “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”(QS Al-Kahfi [18]:7)

Abu Safwan Ar-Ra’ini pernah ditanya,”Dunia seperti apakah yang Allah cela dalam Al-Qur’an dan harus dihindari oleh orang-orang yang berakal?” Abu Safwan menjawab,”Setiap kesenangan yang engkau miliki di dunia, kemudian engkau ingin meraih kesenangan dunia yang lain, maka itu adalah perbuatan tercela. Dan, setiap sesuatu yang engkau miliki dari Kami, lalu engkau ingin meraih akhirat dengannya, maka itu bukan sesuatu yang tercela.

‘Aun bin Abdullah berkata,”Dunia dan akhirat yang berada di dalam hati ibarat dua daun timbangan, yang jika salah satunya berat, maka akan meringankan yang lain.”

Cinta dunia adalah perbuatan yang banyak mengundang pelakunya masuk neraka. Pecinta dunia hanya akan sadar tatkala ia berada dalam kegelapan liang lahat.

Yahya bin Mua’adz berkata,”Dunia adalah minuman memabukkan milik setan. Barangsiapa yang mabuk karena meminumnya, maka dia tidak akan sadar, kecuali hanya penyesalan yang akan muncul ketika sakaratul maut. Paling tidak, dia akan terlalaikan dari mencintai dan mengingat Allah. Dan, barangsiapa yang dilalaikan oleh hartanya, maka dia termasuk salah satu golongan orang-orang yang merugi. Apabila hatinya telah dilalaikan dari mengingat Allah, maka hatinya akan ditenangkan oleh setan, dan akan dipalingkan kepada apapun sesuai dengan kehendaknya. Dan, barangsiapa yang diberi kepahaman tentang perbuatan jahat dan dia suka terhadap beberapa amal kebaikan, maka kan diperlihatkan kepadanya bahwa di telah melakukan kebaikan.”

Para pecinta dunia sangatlah jauh dari ibadah, lahir dan batin. Paling tidak, seorang pecinta dunia akan melalaikan hakikat kebahagiaan seorang hamba, yakni kosongnya hati selain untuk mencintai Allah, diamnya lisan selain dari mengingat-Nya, juga ketaatan hati dan lisan dengan Rabb-nya.[]

(* Dikutip dari : Tazkiyah An-Nufs; Tazkiyah An-Nafs, Mensucikan Jiwa, Panduan Praktis Manajemen Qalbu dalam Perspektif Nabi Saw dan Ulama Salaf; Syeikh Ahmad Farid,  2012)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Syeikh Ahmad Farid, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , . Tandai permalink.