MALU

Rasulullah Saw bersabda :

“Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.”(HR. Bukhari)– [Maksudnya adalah bila kamu tidak punya rasa malu yang dapat mencegahmu melakukan dosa, maka lakukanlah apa yang dibisikkan oleh nafsumu. Ini merupakan ancaman dan peringatan dari Rasulullah Saw]-(Abdul Mun’im Al-Hasyimi, dalam “Akhlak Rasul menurut Bukhari dan Muslim)

“Iman itu mempunyai (terdiri) dari enam puluh cabang lebih. Adapun malu (al-Haya’) itu adalah termasuk salah satu cabang/ bagian dari iman.”(HR. Bukhari);

“Nabi Saw pernah lewat di hadapan orang Anshar yang sedang mencela saudaranya, karena saudaranya itu sangat pemalu. Maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Biarkanlah dia! (janganlah engkau cela), karena sesungguhnya malu itu merupakan salah satu cabang/ bagian dari keimanan.”(HR. Bukhari no. 19);

“Sifat malu itu hanyalah mendatangkan kebaikan belaka.”(HR. Muslim);

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”(HR. Ibnu Majah);

Rasulullah saw pernah berkata pada al-Asyad al-‘Asyri, seperti dikutip oleh Ibnu Abbas bahwa : “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat 2 hal yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan rasa malu.”(Musnad Ahmad);

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim);

“Iman mempunyai tujuh puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah bacaan ‘La ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan hal-hal yang membahayakan di tengah jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan.”(HR. Bukhari dan Muslim);

“Rasa malu adalah bagian dari keimanan, dan keimanan berada di surga. Sedangkan tindakan/ ucapan kotor adalah bagian dari perangai yang kasar, dan perangai kasar tempatnya di neraka.”(HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

Anas bin Malik r.a mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Setiap sesuatu yang dihinggapi kekejian, maka akan menjadi tercela. Dan setiap sesuatu yang dibarengi rasa malu, maka akan terhias (dan menjadi indah).”(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam Al-Jaami’ ash-Shaghir (1/197), disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla bila ingin menghancurkan seorang hamba, Dia akan menghilangkan rasa malu pada dirinya, dan bila rasa malu sudah hilang dari dirinya, maka dia akan selalu ketemu dengan orang yang memuakkan dan suka menebar kebencian. Bila dia sudah sering bertemu dengan orang-orang seperti itu, maka sifat amanah pada dirinya akan dihilangkan. Dan bila sifat amanah sudah hilang maka dia akan selalu bertemu dengan orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Dan jika dia sudah sering bertemu dengan orang seperti itu maka rasa kasih sayang hilang dari dirinya. Bila rasa kasih sayang sudah hilang maka dia akan selalu ketemu dengan orang yang terlaknat, dan bila dia sudah sering ketemu orang seperti itu maka ikatan Islam akan terlepas darinya.”

Dalam Kanzul-Ummal dan Al-Jaami’ ash-Shagir (1/197), disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Malu adalah baik, apapun bentuknya.”, “Barangsiapa tidak punya rasa malu terhadap manusia, maka dia tidak punya rasa malu terhadap Allah Swt.”

Dalam Al-Jaami’ ash-Shagir (2/358), disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa menanggalkan ‘pakaian malunya’, maka membincangkannya bukan termasuk ghibah.”

Dalam Al-Jaami’ ash-Shagir (2/164) dan Fath al-Mubdi (3/308), disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang tidak punya rasa malu, hingga ia tega membeberkan rahasianya secara terang-terangan. Termasuk sikap seperti ini adalah bila seorang lelaki melakukan sesuatu pada malam hari, kemudian di pagi harinya dia berkata kepada seseorang,’Wahai Fulan, semalam saya melakukan sesuatu (tindakan aib atau dosa)’. Padahal Allah telah menutupi aibnya itu, dan dia malah membeberkan aibnya sendiri yang ditutupi oleh Allah.”

Dari Ibn Mas’ud, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda,”Milikilah rasa malu pada Allah sebenar-benarnya!” Kami, para sahabat berkata,”Wahai Rasulullah, Alhamdulillah, kami telah memiliki rasa malu.” Rasulullah Saw berkata,”Bukan sekedar itu. Barangsiapa yang malu kepada Allah yang sesungguhnya, hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya. Hendaknya ia menjaga perutnya dan apa yang ada di dalamnya. Hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barangsiapa yang mengerjakan itu semua, berarti ia malu kepada Allah dengan sesungguhnya.”(Musnad Ahmad)

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Swt berfirman,”Barangsiapa menemui Aku dengan senang kepada-Ku, maka Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Barangsiapa menemui Aku dengan rasa takut kepada-Ku, maka Aku elakkan dari neraka-Ku. Barangsiapa menemui Aku dengan rasa malu kepada-Ku, maka Aku buat malaikat lupa menghitung dosa orang itu.”-(dikutip oleh Syekh Nawawi, dalam Nashaih al-Ibad)

“…Allah adalah asal wujud kita. Kita tidak mungkin ada tanpa-Nya. Nikmat wujud adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan-Nya. Namun, untuk itu semua, apakah kita telah mampu mengabdi kepada-Nya dengan sepenuh hati? Kita malu untuk menjawabnya, bukan? Karena itu, al-Junaid berkata,”Perasaan malu adalah kondisi jiwa yang timbul dari kesadaran akan adanya nikmat dan akan adanya kekurangan pengabdian.” Kita malu karena kita berlaku buruk di hadapan Sang Pemberi nikmat…”-(M. Subhi Ibrahim, dalam “Oase Ruhani, Buku Saku Para Pencari Hikmah”, 2013)[]

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Hadits, Hadits Qudsi, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Rasulullah Saw, sufism; tashawwuf, Suluk, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , . Tandai permalink.