Al-Jama’ah | Suluk

Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran meski jumlahnya sedikit.

Dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, vol. 5, hlm. 87, bab Mabhats as-Syudzudz wa al-Jama’ah, Imam Ibnu Hazm menguraikan : Yang dimaksud dengan Al-Jama’ah adalah orang-orang yang berada di pihak yang benar (ahl al-Haqq). Bahkan, andaipun di muka bumi ini hanya ada satu orang yang berpihak pada kebenaran maka satu orang itulah yang disebut sebagai al-jama’ah.

“Orang yang sabar dan jujur tidak merasa gentar dengan sedikitnya kawan, atau kehilangan sahabat; bila hatinya merasakan kebersamaan dengan para Nabi, ash-Shiddiqin, asy-Syuhada, ash-Shalihin, dan merekalah sebaik-baik kawan. Maka kesendirian seseorang di jalan pencariannya menunjukkan kebenaran apa yang dicarinya.”

Ishak bin Rahaweh pernah ditanya tentang permasalahan ini, kemudian ia menjawab. Kemudian ada yang berkata padanya,”Sesungguhnya saudaramu Ahmad bin Hanbal dalam masalah ini berkata sepertimu.” Kemudian ia menjawab,”Aku tidak mengira bahwa seseorang menyetujuiku dalam masalah ini.”

Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismael, yang masyhur dengan julukan Abu Syamah, dalam buku al-Hawadits wal Bida’ dikatakan bahwa ia datang untuk bergabung dengan jama’ah. Maksudnya adalah bergabung dan mengikuti kebenaran, meski sedikit orang yang berpegang teguh dengannya dan banyak orang yang menentangnya karena kebenaran adalah apa yang ada pada jama’ah pertama dari masa Nabi Saw beserta para sahabatnya. Tidak memandang banyaknya pelaku kebatilan setelah masa itu.

Amru bin Maimun al-Audi berkata,”Aku menemani Mu’adz di Yaman, aku tidak meninggalkannya hingga aku menguburnya di Syam. Kemudian setelah itu aku berteman dengan orang yang paling faqih di masanya, Abdullah bin Mas’ud. Aku mendengarnya berkata,”Hendaklah kalian berjama’ah karena sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah.” Kemudian pada suatu hari aku mendengarnya berkata,”Akan datang kepada kalian para pemimpin yang suka mengakhirkan shalat dari waktunya, hendaklah kalian shalat tepat pada waktunya, itulah faridhah. Dan shalatlah kalian bersama mereka, yang demikian itu akan menjadi nafilah bagi kalian.” Kemudian aku bertanya,”Wahai sahabat Muhammad, aku tidak mengerti apa maksudmu? Engkau perintahkan aku shalat berjama’ah, kemudian berkata shalatlah sendirian, sebagai faridhah, dan shalatlah berjama’ah, sebagai nafilah. Ia menjawab,”Wahai ‘Amru bin Maimun, tadinya aku mengira engkau adalah penduduk desa ini yang paling faqih, tahukah apa itu al-jama’ah?” Aku menjawab,”Tidak.” Kemudian ia melanjutkan,”Sesungguhnya mayoritas golongan adalah yang memisahkan dari jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran, meskipun engkau sendirian.”

Di dalam jalur yang lain, riwayatnya berbunyi,”Lalu ia menepuk punggungku dan berkata,”Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia memisahkan dari jama’ah, sesungguhnya (maksud) jama’ah adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Swt.”

Nu’aim bin Hamad berkata,”Bila jama’ah bubar, hendaknya engkau setia dengan jama’ah (peraturan jama’ah) sebelum bubar, meskipun engkau hanya sendirian. Karena pada waktu itu engkaulah yang termasuk dari al-jama’ah.” Riwayat ini disebutkan oleh al-Baihaqi dan lainnya.[]

(* Dikutip dari : [1] Risalah al-Mustarsyidin, Tuntunan bagi Para Pencari Petunjuk; Al-Harits al-Muhasibi; 2010, dan [2] catatan kaki dari sub-judul “Harus Sabar Meminum Obat” dari judul “Tanda-tanda Hati yang Sehat dan Sakit”, dalam : Thibb al-Qulub; Ibnu Qayyim al-Jauziyah/ “Tombo Ati, Cerdas Mengobati Hati Sendiri”, 2007)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk dan tag , , , , , . Tandai permalink.