Tentang Riya (Al-Habib ‘Ali al-Jufri)

Hawa nafsu membuat berbangga diri dan membesar-besarkan urusan dunia. Nafsu membuat sibuk mencari kedudukan di sisi manusia. Masalah menyangkut hawa nafsu : ingin dikenal, ingin dikenang, ingin orang-orang mengatakan bahwa amalnya merupakan wujud ketaatan kepada Allah.”

Riya adalah beramal dimaksudkan untuk sesuatu selain Allah, yaitu mencari posisi di hati manusia.

Ketika seseorang terjebak dalam sifat riya seperti : ingin diterima orang, ingin disambut, ingin dihormati, ingin dimuliakan, ingin diperhatikan, dan ingin dipuji orang; ia kehilangan kesadaran bahwa manusia tidak punya kekuatan apa-apa.

Sumber dan penyebab riya sesungguhnya adalah hati yang sudah tidak utuh lagi dalam memuliakan Allah Swt dan memandang milik manusia.

Andaikata hatinya menyerah bulat-bulat kepada Allah, ia takkan menoleh kepada manusia, tidak peduli mereka menerima atau menolak.

Sebagian ulama salaf mengatakan,”Sembilan persepuluh hati tertutup tirai karena pemiliknya menoleh kepada makhluk, kepada manusia.”, artinya : ingin mendapat tempat di hati manusia.

Obatnya adalah ikhlas. Ikhlas bertujuan untuk memperoleh ridha Allah, BUKAN agar Allah menjadikan manusia senang kepada kita![]

(* Dikutip dari  “Ma’alim al-Suluk li al-Mar’ah al-Muslimah“, 2007; Terapi Ruhani Untuk Semua-Mengetuk Sanubari untuk Berlari Menjemput Kasih Ilahi, Al-Habib ‘Ali al-Jufri, 2011)

~ Catatan-catatan terkait, berjudul :

[1] Ikhlas (Syeikh Ibnu Atha’illah)

[2] Jangan Pandang Manusia (Syaikh Abdul Qadir Jailani) | Suluk

[3] Memandang Manusia dengan Mata Tak Butuh (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) | Suluk

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Al-Habib 'Ali al-Jufri, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.