Takut sebagai Buah Ilmu (Al-Habib ‘Ali al-Jufri) | Suluk

[1] Menyombongkan ilmu agama adalah salah satu bentuk kebodohan.

[2] Orang yang belajar ilmu mestinya takut. Tanda orang yang belajar ilmunya berhasil adalah bertambahnya rasa takut kepada Allah. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”(QS [40]:28)

[3] Tanda bahwa hakikat ilmu sudah diraih adalah munculnya perasaan takut.

[4] Ada bentuk ilmu, ada hakikat ilmu.

Bentuk ilmu adalah menghafal ayat-ayat, hadits, hukum-hukum fikih, dan yang lainnya;

Hakikat ilmu adalah niat yang benar, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengamalkan tuntutan-Nya, dan tumbuhnya perasaan takut bahwa ilmunya justru menjadi hujah untuk menjatuhkan dirinya pada hari kiamat nanti.

[5] Allah Swt menghisab orang bodoh satu kali, dan orang pandai seribu kali. Dia Ta’ala berfirman,”Orang bodoh yang tidak beramal celaka satu kali, sementara orang alim yang tidak beramal celaka seribu kali.”

[6] Setiap kali mendapatkan ilmu, itu artinya Allah memuliakan kita dengan memberi ilmu (warisan para nabi). Tetapi, pada saat yang sama, kita juga mesti cemas bahwa ilmu itu malah menambah hujah yang menjatuhkan kita di akhirat kelak. Orang yang menerima ilmu dengan hakikat ini, takut akan menjadi hujah yang menyerang dan menjerumuskannya, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk takabur. Ia merasa takut. Semakin ilmunya bertambah, ia kian merasa dikepung marabahaya dan hujah. Semakin sopan kepada Allah, ia makin menunduk dan merasa diawasi Allah, sehingga kesempatan untuk takabur benar-benar tertutup.

[7] Orang yang ilmunya meliputi bentuk dan hakikat akan santun dan takut kepada Allah. Inilah buah ilmu yang mesti ditemukan para pencari ilmu, bukan malah menyombongkan diri dengan ilmu yang didapat.

Rasulullah Saw bersabda,”Di antara kalian ada yang melakukan amal ahli surga hingga jarak dirinya dengan surga hanya satu hasta. Namun, karena takdir yang sudah ditetapkan untuknya, ia lalu melakukan amal penduduk neraka, hingga masuk ke sana. Ada juga orang yang melakukan amal penduduk neraka hingga ia dengan neraka hanya berjarak satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, ia lalu melakukan amal penduduk surga, hingga masuk sana.”(HR. Al-Bukhari no. 3332, dan Muslim no. 6665); Nabi Saw hendak mengingatkan kita, agar kita takut Allah, supaya kita santun kepada Allah.

[8] Jika seseorang melakukan ketaatan melalui ibadah, dan dilakukan dengan benar, tanpa cacat, tanpa niat riya atau ingin didengar, tanpa maksud mencari pangkat atau kedudukan di tengah manusia, tanpa ujub, tanpa mengungkit-ungkit kepada Allah, maka ia pasti merasa cemas bahwa amalnya tidak diterima Allah. Ia melihat kebesaran Allah di hatinya. Ia tidak menganggap banyak amal yang dilakukannya. Karena tidak menganggap banyak, ia tidak sombong. Karena, sumber kesombongan dengan amal shalih adalah menganggap amalnya sudah banyak, menganggap dirinya telah memenuhi hak-hak Allah. Padahal, jika hati selalu melihat kebesaran Allah, seluruh amal tidak ada artinya di mata kita.

“Di antara ulama salaf shalih ada yang mengerjakan shalat semalam suntuk, tidak tidur. Pagi harinya, ia menangis sambil berkata,”Mahasuci Engkau, kami tidak menyembah-Mu dengan sungguh-sungguh”(HR. Imam Ahmad dalam Musnad-nya V/173). Para malaikat yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah dan senantiasa melaksanakan perintah-Nya, ada yang rukuk terus menerus, tidak pernah bangun, sampai hari kiamat. Ada yang bersujud tiada henti-hentinya, tidak pernah bangun sampai kiamat…”

Bagaimana dengan kita yang hanya rukuk sebentar, sedekah sedikit?

Alhamdulillah beramal ini, beramal itu. Amal apa? Apakah sebelum kita tidak ada yang beramal seperti ini?

Karena itu, setiap mukmin hendaknya memahami etika dalam beribadah. Jika ia merasa besar kepala dengan ibadahnya, ini pertanda ibadahnya tidak diterima.

Ketika merasa besar kepala, takjub, atau terangkat karena sudah beribadah, cepatlah selidiki amal. Pasti di situ terselip aib yang membuka celah amal ditolak Allah. Waspadailah penyakit ini, obatilah dengan selalu ingat mati.[]

(* Dikutip dari  “Ma’alim al-Suluk li al-Mar’ah al-Muslimah“, 2007; Terapi Ruhani Untuk Semua-Mengetuk Sanubari untuk Berlari Menjemput Kasih Ilahi, Al-Habib ‘Ali al-Jufri, 2011)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Al-Habib 'Ali al-Jufri, cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Hati, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Qalb, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , . Tandai permalink.