Mengikuti Perintah Allah (Al-Habib ‘Ali al-Jufri) | Suluk

Ittiba’ (mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah Saw) merupakan masalah paling dasar dan utama.

Seberapa tinggi perjalanan seseorang menuju Allah sangat bergantung pada seberapa kokoh ia berpijak di atas perintah Allah dan sunnah Rasulullah.

Selain itu, karena tujuan perjalanan menuju Allah itu adalah meraih cinta-Nya, maka Dia larang menempuh jalan lain selain jalan Rasulullah Saw. Allah Swt berfirman,”Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu.”(QS [3]:31).

Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk mengatakan kepada kita,”Wahai manusia, siapa yang ingin dekat dengan Allah? Siapa yang ingin bersahabat sejati dengan-Nya? Siapa yang ingin berada di sisi-Nya? Tetapi ingat, semua ini takkan bisa kalian dapatkan kecuali jika kalian melewati pintuku, mengikuti sunnahku, dan menautkan diri denganku.”

Jadi, perjalanan menuju Allah itu dinilai benar hanya jika mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Sebab, mengikuti beliau berarti mengikuti Allah.

Mengikuti Allah berarti keluar dari kehendak pribadi menuju kehendak Allah. Inilah tujuan hakiki ibadah.

Kenapa orang tidak mau mengikuti perintah Allah? Apa yang menghalanginya? Ternyata, penghalang terbesarnya adalah (hawa) nafsu. Tidak ada penghalang yang lebih hebat daripada ini. Dalam sebagian literatur klasik diterangkan bahwa setelah menciptakan akal, Allah berkata,”Hai Akal, berpalinglah.” Akal pun berpaling. “Hai Akal, menghadaplah.” Akal pun menghadap. “Hai Akal, siapakah Aku ini?” Akal pun menjawab,”Engkau Allah, Tuhan alam semesta.” Selanjutnya, Allah menciptakan nafsu dan berkata,”Hai Nafsu, menghadaplah.” Nafsu malah berpaling. “Hai Nafsu, berpalinglah.” Nafsu malah menghadap. “Hai Nafsu, siapakah Aku ini?” Nafsu menjawab,”Engkau adalah engkau, aku adalah aku.” Setelah itu, Allah pun menjadikan nafsu itu lapar. Setelah lemah dan terpuruk, ia baru menyerah dan tunduk. Allah lantas bertanya,”Hai Nafsu, berpalinglah.” Nafsu pun menghadap. “Siapakah Aku?” Nafsu menjawab,”Engkau Allah, Tuhan alam semesta.”

Maka, tidak mengherankan jika masalah menundukkan hawa nafsu menjadi persoalan paling besar yang dihadapi manusia dalam upaya mendekatkan dirinya kepada Allah.

Lebih dalam dari sekadar memerangi hawa nafsu, yaitu menyerahkan kehendak diri pada kehendak Allah.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah mengatakan,”Wahai hambaku, Aku berkehendak, kamu juga berkehendak. Tetapi, kehendakmu bercampur hawa nafsu, dan tidak ada yang terjadi selain atas kehendak-Ku. Karena itu, jadilah kamu seperti kehendak-Ku, niscaya Aku pun menjadi seperti kehendakmu.”

Inilah pintu hakikat penghambaan kepada Allah, dan makna terdalam mengikuti perintah-perintah-Nya. Dengan itu, manusia akan terbantu menundukkan nafsunya. Orang yang ingin derajatnya diangkat Allah, niscaya akan diberi kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, membuatnya tunduk dan mengikuti perintah Allah. Rasulullah Saw sudah mengajari kita segalanya; dari persoalan hukum hingga tata krama menyangkut segala persoalan hidup. Semua ini dimaksudkan untuk menundukkan nafsu agar ia mengikuti teladan Rasulullah Saw. Dengan begitu, nafsu akan terbiasa dengan hal itu, bahkan akan merindukan dan mencintainya setelah itu. Awalnya, nafsu akan merasa berat mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah Saw. Tetapi, jika terus menerus dilatih dan ditekan, maka ia akan tunduk dan sopan bersama Allah.

Dengan demikian, menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah adalah dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah Saw.

Manisnya ittiba’ baru bisa dikecap setelah ia merasakan pahit getirnya lebih dahulu.

Apa pahit getirnya ittiba’? Yaitu, pahit getirnya melawan hawa nafsu. Inilah perjuangan manusia sepanjang hidupnya di dunia. Nafsuku ingin ini dan itu, tetapi tidak aku gubris demi ittiba’-ku kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Semakin nafsu mereguk kegetiran ini, semakin kuat pula orang tadi merasakan manisnya ittiba’.

Jenis ittiba’, ada yang mampu diusahakan (maqdur ‘alayh), ada juga yang tidak–kecuali dengan pertolongan Allah.

Ittiba’ jenis pertama, usaha keras dan sungguh-sungguh untuk mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram, mengerjakan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh, serta mengaitkan segala yang mubah dengan sunnah dan etika Rasulullah Saw. Ini bisa diusahakan manusia dengan cara menundukkan nafsunya. Misalnya, seseorang yang di hatinya terlintas keinginan untuk berghibah, ia segera mengatakan,”Tidak, ittiba’ melarangku berghibah.” Ia pun memilih diam.

Jenis ittiba’ kedua, ittiba’ yang tidak mampu diusahakan. Di tahap-tahap awal, manusia terkadang tidak mampu mengusahakan ittiba’ sendiri, karena memang Allah tidak memberinya kemampuan untuk ber-ittiba’ secara tulus. Setiap manusia pasti mengalami konflik dan pertentangan batin saat berusaha mengikuti Allah Swt dan Rasulullah Saw. Semua pasti menghadapi kesulitan semacam ini. Masalah ini tidak mudah dipecahkan. Tetapi, jika manusia itu betul-betul merasa selalu bersama Allah, berusaha menundukkan nafsu dan  menjejalinya dengan kepahitan-kepahitan, maka selanjutnya semua itu akan menjadi mudah.

“Imam seseorang tidaklah sempurna sampai keinginannya sejalan dengan apa yang aku bawa,” demikian sabda Rasulullah Saw. (Ibn Hajar, Fath al-Bari (XIII/289))

Batin menjadi lunak, nafsu tidak lagi menentang untuk mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Itulah buah dari ittiba’. Buah yang tidak dipetik secara langsung. Perlu kesungguhan dan kegigihan. Butuh perjuangan keras supaya ittiba’ ini terus meningkat sampai pada tingkat ketika semua keinginannya ditautkan kepada sunnah Rasulullah Saw. Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw : “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman (maksudnya iman mereka tidak sempurna) hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan (ini prinsip pertama : mengembalikan segala urusan kepada Rasulullah Saw), kemudian mereka tidak merasa hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan (mereka menentang keinginan nafsu lalu mengerjakan apa yang engkau inginkan) dan mereka menerima dengan sepenuhnya (maksudnya keinginan mereka jadi condong kepada apa yang kamu condongi, kepada apa yang kamu kehendaki)”(QS [4]:65). Inilah makna tertinggi hakikat ittiba’.[]

(* Dikutip dan disarikan dari beberapa sub-judul : “Jalan Mengikuti Perintah Allah”, “Memerangi Hawa Nafsu”, dan “Dua Jenis Ittiba”, dalam “Ma’alim al-Suluk li al-Mar’ah al-Muslimah“, 2007; Terapi Ruhani Untuk Semua-Mengetuk Sanubari untuk Berlari Menjemput Kasih Ilahi, Al-Habib ‘Ali al-Jufri, 2011)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Al-Habib 'Ali al-Jufri, cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.