Pemaaf dan Lemah Lembut | Suluk

Al-‘Afwu (Pemaaf) adalah salah satu nama dari nama-nama mulia Allah Swt.

Yang dimaksud dengan Al-‘Afwu adalah berlapang dada dalam memberikan maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, dengan tanpa disertai rasa benci di hati, apalagi merencanakan pembalasan terhadap orang yang melakukan kesalahan itu, meskipun dia sanggup melakukan pembalasan itu.

Bila sikap kompromi itu hanya sementara dan bersifat lahiriah saja, sedangkan hatinya masih menyimpan dendam bahkan merencanakan pembalasan di lain waktu, maka sikap seperti ini tidak termasuk sikap pemaaf. Begitu juga bila pemberian maaf itu dilakukan oleh orang yang lemah dan tidak punya daya upaya. Sikapnya itu belum masuk kategori sikap pemaaf. Juga tidak termasuk pemaaf bila seseorang memberikan maaf kepada orang lain, namun hatinya masih dongkol dan benci kepada orang yang melakukan kesalahan kepadanya, meskipun tidak sampai merencanakan pembalasan.(Ahmad al-Hufi, dalam “Min Aklaaqin-Nabi”, hlm. 46)

Rasulullah Saw adalah orang yang lapang dada dan banyak memberikan maaf. Pengampunan yang beliau berikan selalu didasari dengan hati yang bersih dan dada yang lapang, meskipun beliau mampu melakukan balas dendam. Kelapangan hati beliau sungguh merupakan teladan yang tiada tara.

Rasulullah Saw sangat menganjurkan manusia untuk mempunyai jiwa besar, bersikap toleran dan suka memberikan maaf.

Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah, Maha Pengampun dan suka kepada orang yang suka memberi ampun.”(Kanzul-‘Ummal, 2/77), dan “Barangsiapa mau memberi maaf di saat dia mampu (membalas), Allah akan mengampuni dosa-dosanya besok di hari yang penuh dengan kesulitan.”(HR. al-Bukhari)

Sayyidah Aisyah r.a berkata,”Rasulullah Saw tidak pernah (berusaha untuk) menang ketika dizalimi, selagi hal itu tidak menyebabkan terlanggarnya larangan-larangan Allah Swt. Namun bila ada larangan-larangan Allah Swt yang dilanggar, beliau sangat marah dan tegas menyikapinya.”(HR. Muslim)

Yang perlu diperhatikan adalah dalam memberikan maaf, seorang muslim tidak boleh mengorbankan agama dan hak-hak Allah Swt.

Di sisi lain,

Ada sifat lemah lembut.

Ibnu Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah berkata kepada al-Asyji,”Kamu mempunyai 2 sifat yang membuat Allah dan Rasul-Nya senang : lemah lembut dan murah hati.”(HR. Muslim)

Sayyidah Aisyah r.a menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka terhadap kelemahlembutan dalam segala hal.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sifat lemah lembut adalah kebalikan sifat pemarah.

Rasulullah Saw, bila beliau melihat ada larangan-larangan Allah Swt dilanggar, beliau marah. Namun, di saat lain, kelemahlembutan harus selalu muncul menghiasi diri.(Ihya ‘Ulumiddin)

Imam Al-Ghazali mendefinisikan kelemahlembutan dengan kalah dan tunduknya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. 

Menurut Al-Ghazali, tumbuhnya sifat lemah lembut dalam diri manusia bisa dimulai dengan melatih diri menahan amarah. Hal ini bisa dilatih dengan cara berusaha sekuat mungkin menahan setiap amarah yang sedang bergejolak. Bila seseorang sudah terbiasa dengan sikap seperti ini maka kelemahlembutan akan menjadi akhlaknya, dan amarahnya tidak akan bergejolak, kalaupun bergejolak tentu tidak akan sulit untuk mengendalikannya.(Ihya ‘Ulumiddin. 3/154) Sehingga bisa dikatakan bahwa kelemahlembutan merupakan parameter kesempurnaan akal dalam mengendalikan nafsu kemarahan.(Ihya ‘Ulumiddin, 2/153)

Ada sebagian orang yang menganggap sifat lemah lembut adalah sikap menahan nafsu. Pendapat ini kurang tepat, karena nafsu yang harus ditahan jumlahnya banyak sekali, tidak hanya kemarahan saja.

Sifat lemah lembut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sifat sabar. Dua sifat ini memang hampir sama. Oleh karena itu, kedua kata “al-hilmu” dan “ash-shabru” sering digunakan untuk menunjuk satu makna yang sama, sebagaimana dalam firman Allah Swt : “…Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”(QS [3]:186)

Ayat ini menegaskan bahwa menghadapi gangguan dengan tenang dan tabah bisa disebut dengan kesabaran dan juga kelemahlembutan (al-hilmu). Begitu juga dalam ayat berikut ini : “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”(QS [16]:126)

Tidak membalas dendam bisa disebut sebagai sikap lemah lembut dan juga bisa disebut sebagai sikap sabar.

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

Lemah lembut adalah menahan diri untuk tidak membalas dendam perlakuan buruk orang lain yang menyakitkan hati dengan balasan yang sama. Sedangkan sabar adalah menerima dengan lapang dada kondisi yang tidak menyenangkan.

Jadi, lemah lembut menyangkut hal-hal yang manusia masih mampu melakukan aksi balas dendam. Sedangkan sabar berhubungan dengan hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia.

Perbedaan lainnya, adalah lemah lembut merupakan kebalikan sifat pemarah yang merupakan pemberontakan jiwa karena tidak kuasa menahan amarah dengan disertai sikap menantang. Sedangkan sabar adalah kebalikan sifat mengeluh yang merupakan sikap tidak berdaya menghadapi kondisi yang menimpa dan tidak disertai sikap menantang.

Allah Swt berfirman : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”(QS [7]:199-201); “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS [3]:133-134).

Berkenaan 2 rangkaian ayat di atas, Ahmad al-Hufi dalam kitabnya “Min Akhlaq an-Nabi Saw” menerangkan : “Pada rangkaian ayat pertama terdapat perintah untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut dan meminta perlindungan kepada Allah Swt dari keinginan untuk marah dan balas dendam. Sedangkan dalam rangkaian ayat kedua, diterangkan bahwa menahan amarah, melakukan perbuatan-perbuatan fi sabilillah dan juga memaafkan orang lain adalah sama (pentingnya).”

Bila kita tahu bahwa menahan amarah kedudukannya masih di bawah sikap lemah lembut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa sikap lemah lembut adalah sikap yang sangat mulia. Menahan amarah adalah usaha untuk menjadi lemah lembut. Hanya orang yang amarahnya bergejolak sajalah yang membutuhkan usaha untuk menahan amarah. Bila seseorang selalu berusaha menahan amarah maka sikap seperti ini akan menjadi kebiasaan dan amarahnya tidak akan sering bergejolak, bila bergejolak pun dia tidak akan kesulitan untuk mengendalikannya.

Rasulullah Saw sangat lemah lembut. Di sisi lain, beliau sangat tegas terhadap orang-orang yang menghina Islam, mencemooh konsep keesaan Tuhan dan hari kebangkitan atau menganggap rendah kebenaran-kebenaran absolut. Menghadapi hal-hal seperti ini, Rasulullah Saw tidak segan-segan untuk marah. Namun, sebagaimana diterangkan oleh Ali bin Abi Thalib, kemarahan beliau bukan karena motivasi keduniaan. Kemarahan beliau didorong untuk membela kebenaran. Meskipun kemarahannya adalah untuk membela kebenaran dan dengan cara-cara yang benar, namun beliau tetap berusaha mempersingkat kemarahannya itu. Selesai marah beliau selalu berusaha mengubah kondisi dan suasana menjadi penuh kelemahlembutan dan ketenangan.

Abu Hurairah r.a menceritakan bahwa bila Rasulullah Saw marah dalam keadaan berdiri, beliau berusaha duduk. Bila marahnya dalam keadaan duduk, beliau berusaha untuk berbaring, dan setelah itu marahnya akan hilang dengan sendirinya.(Ihya ‘Ulumiddin, 3/148);

Sayyidina Ja’far Ash-Shadiq berkata : “Luqman Hakim berkata kepada anaknya,’Hai anakku, setiap sesuatu memiliki tanda untuk mengenalnya. Dan ada 3 tanda bagi agama : rasa malu, ilmu, dan kelembutan sikap.'(Qishash al-Anbiya, hlm. 196, dan Bihar al-Anwar, jilid 13, hlm. 420).[]

(* Dikutip dari sub-judul “Pemaaf” dan “Lemah Lembut”, dalam : Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim; Abdul Mun’im al-Hasyimi; 2009, dan Hikmat Nomeh Luqman– Syaikh Muhammad Ray Syahri; Luqman Hakim Golden Ways, Menemukan Bening Mata Air Kearifan dan Kebijakan, 2012)

~ Catatan-catatan terkait, berjudul :

[1] Memaafkan | Suluk

[2] Adab Suluk | (Menahan) Amarah

[3] Sabar terhadap Perlakuan Manusia – bagian [2] (menurut Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani) | Suluk

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di akhlaq demi Cinta, cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah Saw, Ekspresi cinta, Hati, Imam Al-Ghazali, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Qalb, Rasulullah Saw, sufism; tashawwuf, Suluk, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.