Sikap Jiwa Ksatria | Suluk

* Catatan pada laman ini melengkapi catatan sebelumnya, yaitu Futuwwah (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Sikap iblis yang tertutup, mengintip, dan menipu adalah sikap yang diembuskannya ke dalam potensi hawa. Sehingga manusia harus melawan sikap hina ini dengan menampakkan diri sebagai sosok ksatria yang dikenal dengan Futuwwah.

Kata futuwwah berasal dari kata “fata” (kejujuran, heroik, yang jamaknya adalah “fityan” yang berarti pemuda yang tampan dan gagah berani).

Sikap futuwwah ini akan menghapuskan gejolak hawa.

Kisah kecemerlangan Islam telah sarat dipenuhi oleh sikap ksatria sehingga menjadi agama ini menjadi salah satu kumpulan dari para ksatria semata-mata. Mereka mempunyai sikap yang berpihak hanya kepada Allah sebagai akarnya dan kesadaran yang tinggi bahwa sikap jujur adalah batang pohon dari futuwwah.

Sikap yang dikandung nilai-nilai futuwwah antara lain : keberpihakan kepada kebenaran, kejujuran, keberanian, kebebasan, dan kasih sayang.

Keberpihakannya kepada kebenaran menyebabkan dirinya tenggelam dalam upaya-upaya kemaslahatan. Tidak henti-hentinya, ia menyampaikan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Untuk memperkokoh keberpihakannya kepada kebenaran (ash-Shiddiq), dia sibukkan dirinya dalam menggali pengetahuan dan tak henti-hentinya melatih diri untuk mendapatkan kecemerlangan kalbunya, sehingga tampak sikapnya yang santun, lembut, mempunyai integritas (iffah), dan terjun dalam gelombang kehidupan yang nyata. Hidupnya penuh dengan debu perjuangan, tangguh, dan tidak mengenal kata “berhenti”. Bagi mereka, kata berhenti hanya ada di pekuburan yang sepi. Mereka adalah garam kehidupan yang memberikan makna tanpa mengharapkan tepukan atau pujian manusia.

Ciri lain seorang futuwwah adalah kejujurannya. Sikap awal dari Rasulullah Saw adalah penampakannya sebagai orang yang jujur terpercaya (al-Amin)–namun dalam diri kita, sikap teladan kejujuran ini telah mulai lindap ditelan oleh angkara hawa. Banyak orang yang tersungkur dalam perbudakan dunia karena mereka tidak mempunyai nilai kejujuran tersebut. Mereka bergembira dalam pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Sikap ini tidak mungkin berada dalam jiwa seorang ksatria.

Sikap seorang futuwwah, dirinya merasa dimonitor kamera Ilahiah, sehingga rasa takutnya hanya kepada Allah telah melahirkan keberanian moral. Sikap jujur yang melahirkan keberanian, kemudian mengukir kalbu para pribadi futuwwah menjadi manusia yang merdeka dan memberikan makna pada makhluk lain sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Seseorang belumlah disebut memiliki futuwwah selama di dalam kalbunya masih ada rasa dendam kesumat, karena sikap ini menunjukkan sifat seorang budak yang belum sampai pada kelezatan kemerdekaan sebagai hamba Allah.

Mana mungkin seseorang disebut sebagai merdeka selama di dalam kalbunya penuh dengan bara angkara.

Jiwa ksatria adalah jiwa “fastabiqul khairat” untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Dalam mencapai kemuliaan tersebut, dia tidak mempunyai perhitungan lain kecuali menggapai tujuan yang paling puncak, yaitu pengorbanan untuk Allah semata-mata, sehingga terasa dirinya menjadi semakin dekat dengan-Nya (qurbah).

Pribadi muslim yang kaffah memiliki sikap futuwwah, sikap pemberani (syaja’ah), setia (wafaa), dan penuh kedermawanan (al-juud). Keberaniannya bukanlah karena kenikmatan dunia, tetapi dalam menghadapi rintihan kesengsaraan. Kenikmatan dunia yang membutakan pandangan menuju cahaya Ilahi adalah sikap pengecut untuk menghadapi penderitaan akhirat yang abadi. Tipikal seorang pengecut itu (dayuts) dikatakan oleh Sayyidina Ali r.a.,”Sangat waspada kalau hartanya terkena musibah, tetapi jika agamanya tertimpa musibah dia tidak mempunyai perasaan cemburu.”

Belumlah disebut seorang yang kaffah dan mempunyai sifat futuwwah kecuali dia diuji terlebih dahulu.[]

(* Sumber : Menuju Muslim Kaffah, Menggali Potensi Diri; Toto Tasmara; 2000)

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.