Cinta dan Air Mata

Judul asli (dalam blog yang bersangkutan) : Selamatkan Diri dengan Berniaga

Wahai makhluk duniawi yang suka berniaga,
dapatkah kau menjual sesuatu
manakala tak ada pembelinya?

Banyak pengunjung pasar yang hanya melihat-lihat,
tapi tak mampu membeli.

Mereka mondar-mandir,
pura-pura menawar,
hanya untuk habiskan waktu,
atau sekedar iseng.

Karena tengah bosan,
mereka berpura-pura tertarik daganganmu,
menanyakan padamu berapa harganya;
tapi sebenarnya tak ada yang mereka cari.

Barang dagangan diperiksanya berkali-kali,
tapi selalu dikembalikan kepadamu;
panjang-lebar kain dia ukur,
tapi tak ubahnya dia mengukur angin.

Sungguh jauh bedanya pendekatan
dan tawar-menawar seorang pembeli,
dengan keisengan seorang yang sedang bosan.

Karena tak dimilikinya harta sedikit pun,
ucapannya ingin membeli selembar baju
hanya bualan saja.

Dia tak punya modal untuk berjual-beli,
lalu apa bedanya orang malang ini
dengan sesosok bayangan?

Modal berjual-beli di pasar alam-dunia ini
adalah emas;
sedangkan modal untuk alam-akhirat
adalah cinta dan berurai-basahnya
ke dua matamu.   [1]

Barangsiapa pergi ke pasar tanpa modal,
maka hidupnya berlalu tanpa terasa,
lalu dia kembali dengan cepat
dengan penyesalan mendalam.

Ketika ditanyakan padanya:
“Wahai saudaraku, kemana saja engkau pergi?”
(jawabnya): “tak kemana-mana.”               [2]

“Hidangan apa saja yang telah kau cicipi?”
(jawabnya): “tak ada yang lezat.”               [3]

Jadi lah seorang pembeli,
maka akan terulur tangan-Nya padamu,
menawarkan sesuatu;                                  [4]
maka harta karun-Nya yang berlimpah-ruah
akan memunculkan merah delima.            [5]

Jika sang pembeli sedang lalai atau meredup,
maka seru lah kepada Diin yang Haqq,
karena perintah untuk menyeru telah diturunkan.

Terbanglah wahai rajawali,
tangkaplah merpati ruhaniyyah:
ketika menyeru kepada Rabb,
ikuti lah jalan Nabi Nuh a.s.                      [6]

Mengabdi lah bagi-Nya semata;
tak perlu engkau pedulikan penerimaan
atau penolakan manusia.

Catatan
[[1]]  “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya
dua buah mata”
(QS al Balad [90]: 8)

Juga mengingatkan kepada hadits tentang 3 hal yang
Rasulullah SAW cintai di dunia ini, yang menjadi pokok bahasan
Fash Muhammadiyya (Ibn al-‘Arabi, Fushush al-Hikam)**.

[[2]]  Selain susah bergerak secara fisikal di alam dunia,
ini juga berarti “jiwanya tak kemana-mana, karena terpenjara
di dalam raganya sendiri.”

[[3]]  Ini juga berarti “jiwanya tak pernah mencicipi lezatnya
hidangan ruhaniyyah;” yang disediakan bagi mereka yang bertaubat.

[[4]]  “Wahai orang-orang yang beriman, sukakah engkau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itu lah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan ampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan ke tempat yang baik di jannah ‘Adn. Itu lah keberuntungan yang besar. Dan karunia yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada kaum al-mukminiin.”
(QS Ash-Shaff [61]: 10 – 13)

[[5]] “Wahai, Rabb,” nabi Dawud a.s. bertanya,
“karena Engkau sedikitpun tidak membutuhkan kami,
maka jelaskanlah mengapa Engkau ciptakan ke dua alam?”

Rabb menjawab, “Wahai insan,
Aku adalah sebuah khazanah tersembunyi,
Ku-cinta jika khazanah kasih-sayang dan kepemurahan
diungkapkan.

Kutampilkan sebuah cermin:
bagian wajahnya adalah qalb,
bagian belakangnya adalah alam dunia;

Bagian belakangnya lebih baik daripada wajahnya,
jika bagian wajahnya tidak engkau ketahui.”

Jika jerami masih bercampur dengan tanah-liat,
bagaimana mungkin cermin dapat berfungsi.

Ketika engkau pisahkan jerami dari tanah-liat,
cermin menjadi jernih.

Buah-anggur tidak berubah menjadi minuman,
seandainya tidak diragikan di dalam guci;
Jika ingin qalb-mu tumbuh cemerlang,
perlu engkau lakukan sedikit upaya.

Kepada jiwa yang keluar dari tubuh, berkata Sang Raja,
“Engkau datang sebagaimana engkau bertolak:
dimanakah jejak-jejak kepemurahan-Ku.”

Teka-teki termasyhur Alkemi:
bagaimana mengubah tembaga menjadi emas?
Tembaga kami telah diubah oleh Alkemi yang langka.

Dari kepemurahan Tuhan, matahari ini
tidak menginginkan mahkota atau jubah.
Dia sudah menutupi kepala seratus lelaki gundul,
dan menyelimuti puluhan orang telanjang.

Anakku, perhatikan Isa ibn Maryam,
yang mengajarkan kerendahan diri
dengan menunggang keledai.
Sungguh mencengangkan,
intan-permata di atas punggung keledai.

Wahai Ruh, pimpinlah pencarian dan
teruslah mengalir-mencari bagaikan arus air.

Wahai ‘Aql, untuk mendapatkan hidup abadi
teruslah tempuh jalan kematian.

Teruslah ber-dzikr, hingga diri terlupakan,
sehingga lenyap-lebur engkau dalam Yang-Diseru,
tanpa teralihkan lagi oleh penyeru atau seruan.

Catatan:

[1]  Bersumber dari sebuah Hadits Qudsi:
“Aku adalah sebuah khazanah tersembunyi, Aku cinta untuk dikenal, karenanya Kuciptakan makhluk agar Aku dikenali.”

Insan sebagai ciptaan pamungkas diberi potensi tertinggi untuk mengenal penciptanya. Perjalanan pencarian manusia adalah perjalanan mengenal Tuhannya. Dan itu dimulai dengan mengenal diri (nafs)-nya sendiri.
Insan adalah satu-satunya ciptaan yang diciptakan dengan “ke dua belah tangan Tuhan” (QS [38]: 75).

Derajat kemuliaan insan terletak pada tingkat pengenalannya akan Tuhannya.

[2] “Ke dua alam:” yang tampak dan yang tersembunyi.

[3] “Alkemi” disini berbicara mengenai transformasi “jiwa yang cenderung kepada keburukan” (QS [12]: 53) menjadi nafsul-muthmainnah.

Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, no 4

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. 

[[6]]  Kesabaran luar-biasa yang diteladankan Nabi Nuh a.s. ketika menyeru kaumnya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun …”  (QS Al ‘Ankabuut [29]: 14)

Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 831 – 845
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

(* Sumber : [1] http://ngrumi.blogspot.com/2013/07/selamatkan-diri-dengan-berniaga.html DAN [2] http://ngrumi.blogspot.com/2010/10/khazanah-tersembunyi.html)

–Tanda ** berkaitan dengan catatan di bawah ini :

Hikmah Fardiyyah (Ketigaan: Perempuan, Minyak Wangi, Sholat) di dalam Kalimat Muhammadiyyah 

– Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi –

 Kalimat Muhammadiyyah memilki hikmah fardiyyah, karena dia saw. sudah mewujud sebagai al-insan akmal (al-insan sempurna) yang menjadi alasan terciptanya keseluruhan al-amr dan khotomnya alam semesta . Dia sudah menjadi seorang nabi ketika Nabi Adam masih berupa air (al-maa-i)  dan ath-thiin (Bukhari LXXVIII); dan dengan elemen-elemen pembentuknya, merupakan Segel para Nabi (khootam an-nabiyyiin), al-awwaal dari tiga (ats-tsalaasah) al-afraad, dan semua al-afraad lain (Zat, Kehendak, Kalimat) berasal dari al-afraad nya.

Dia saw. sebagai daliil paling terang untuk mengenalkan Rabb, kepadanya disematkan keseluruhan kalimat Illahiyyah, yang dinamakan oleh Adam, sehingga dia adalah ad-daliil terdekat di dalam fardiyyahnya sendiri; dia sendiri  sebagai ad-daliil bagi daliil dirinya sendiri. Hakikat an-nafs nya ditandai oleh al-fardiyyah al-awwal dan dia dibuat di dalam al-afraad ketigaan. Dia saw. berkata, bahwa al-habbah (cinta) menghubungkan (sholi) al-mawjuudaat (keseluruhan mawjuud), “Tiga hal dari dunia yang dibuat aku mencintai,” dikarenakan ketiganya tidak dapat dipisahkan dari diri Muhammad, yaitu yaitu an-nisaa (perempuan-perempuan), minyak wangi (ath-thiib), dan Muhammad menemukan qurrota ‘ayn  di dalam ash-shalat (Nasaa’ii, 36 : 1).

Bermula dari mendzikiri an-nisaa (perempuan-perempuan), diakhiri dengan ash-shalat, karena dalam manifestasi zatnya, al-maro-ah (perempuan) merupakan  bagian (dzohawur) dari ar-rijaal (laki-laki). Pengenalan (ma’rifah) al-insaan di dalam nafs nya  datang sebelum dia mengenal Rabbnya,  hasil dari mengenal di dalam nafs.

Sabdanya saw., “Man ‘arofa nafsahu, ‘arofa Rabbahu.” : “Barangsiapa mengenal nafs nya, akan mengenal Rabb nya.” Seseorang tidak mampu al-ma’rifat  di dalam al-khobir dan al-‘aziis  jika ia tidak mengenal nafs nya; Seseorang tidak mampu mengenal nafs nya, dan karenanya tidak mampu mengenal Rabb nya; Seseorang mengenal nafs nya, dan karenanya mampu mengenal Rabb nya. Meskipun Muhammad saw. merupakan daliil tertinggi Rabb, tapi setiap bagian (jaza-i) al-‘aalam (alam semesta) merupakan daliil yang menghubungkan (asholah) Dia (Huwa) Rabb. Maka pahamilah.

Allah membuat  Muhammad saw. mencintai an-nisaa (perempuan-perempuan) dan dia saw. memiliki kasih sayang yang besar kepada perempuan dikarenakan merupakan al-amr di dalam nafs nya dari jaanaba al-haqq. Perkataan-Nya tentang elemen pembentuk al-insaaniyyah,         وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي     (Qs. 15 : 29) :“dan Aku tiupkan (nafakh) ke dalamnya Ruuh dari-Ku.”  Allah menshifatkan Diri (nafs)-Nya di dalam ikatan yang mendalam (bisyadat asy-syawqh) dengan manusia. Digambarkan dalam perkataan-Nya kepada seseorang yang dimiliki-Nya, “Ya, Daawud, sungguh Aku mengikat mereka dalam-dalam (asyad syawqh).” Maknanya, sebuah pertemuan khusus (liqoo-i- khoosh). Lanjut-Nya, dalam hadiits tentang  ad-dajjaal, “Sesungguhnya tak seorangpun dari kalian yang akan melihat Rabb nya  sampai dia mawt.” (Muslim, 42 : 95).

Sangat mengejutkan bahwa al-Ahad menshifatkan Diri-Nya dengan “harus terikat dalam-dalam”.  “Ikatan dalam-dalam” Al-Haqq kepada kawn (ciptaan)-Nya membuat-Nya menyayangi (rohim) mereka di dalam cinta dan mengharapkan mereka untuk menjadi al-Muqorrobiin meskipun ketika dilihat dari al-maqoom mereka, mereka tidak layak untuk mendapatkannya. Perkataan-Nya, “   وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ  (Qs. 47 : 31) :    “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad (al-Mujaahidiin) dan bersabar (ash-Shoobiriin) di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu,” meskipun Dia mengetahui  hal ihwal ciptaan-Nya.

Lalu Dia “mengikat dalam-dalam” dikarenakan ash-shifat Al-khusus  itu tidak mawjuud kecuali setelah al-mawt, sementara “ikatan dalam-dalam” mereka kepada-Nya dijaga oleh al-mawt, sebagaimana perkataan ta’ala di dalam hadits qudsi, “Tidak ada yang Aku ragu-ragukan melainkan dalam mengambil nafs abdi al-mukmin-Ku. Dia  membenci al-mawt sama seperti Aku benci untuk menyakitinya; tapi dia harus menemui-Ku.” (Bukhari, LXXXI : 38). Dia ta’ala mengabarkan berita gembira, yaitu dia harus mati, tapi dia malah disedihkan dengan mendzikiri al-mawt, meskipun barangkali dia tidak akan bertemu al-Haqq hingga setelah datangnya al-mawt, sebagaimana perkataan Muhammad saw., “Tidak satupun dari kalian yang akan melihat Rabb nya hingga dia didatangi mawt.” Dia ta’ala berkata, “Dia harus menemui-Ku,” itulah kerinduan al-Haqq dikarenakan an-nisbah-Nya.

Al-habiib (Sang Kekasih) rindu untuk melihatku,

Dan bahkan aku sudah lebih lama rindu untuk melihat-Nya,

An-nufuus berdegup kencang, tapi takdir menghalangi Jalan,

Aku mengerang dalam rintihanku dan begitu pun Dia.   

Sejak Dia meniupkan (nafakh) Ruh dari-Nya ke dalam al-insaan, Dia pun rindu akan Diri (nafs) –Nya Sendiri. Dikarenakan Ruh-Nya, ciptaan (kholaq) –Nya berada di dalam Bentuk (صُوَرَةٌ  )-Nya.

Ketika jasad manusia (man) tersusun dari empat elemen, nafakh-Nya menghasilkan panas dikarenakan ada uap air di dalam jasad. Maka, Dia membuat ruh al-insaan dari api (naar); dikarenakan itulah Allah berbicara kepada Muusa dalam bentuk (صُوَرَةٌ )api dan memasukkan haajat-Nya.  Dan Ruh-Nya akan mencahayai. Disebut di dalam an-nafakh “tiupan”, karena berasal dari Nafas ar-Rohman; dan dengan Nafas-Nya yang bertiup, an-nafakh-Nya mendzahir. Dan  kecenderungannya, bertiup masuk menyalakan api (naar), bukan cahaya (al-anwaar), Nafas ar-Rohmaan  sangat dalam berbulak balik masuk ke dalam al-insaan insaanaan.

Lalu Allah mengambil dari-Nya Bentuk (صُوَرَةٌ  )-Nya Sendiri, al-maro-ah (perempuan). Dan dikarenakan al-amaro-ah mendzhohir dalam Bentuk-Nya Sendiri, ciptaan mensujudi-Nya sebagai  sesuatu yang merindui Nafs-Nya. Laki-laki merindui an-nisaa seperti kerinduan yang sudah begitu lama dan mendalam, sementara perempuan merindui laki-laki seperti tempatnya berpulang. Lalu, an-nisaa dibuat untuk dicintai laki-laki, karena Allah mencintai  apa-apa yang Dia ciptakan dalam Bantuk-Nya Sendiri dan karenanya Dia membuat al-malaaikat mensujudi-Nya, meskipun mereka memiliki kekuatan besar, derajat, dan sifat mulia. Dari sana, terlihat daya tarik  (antara Allah dan manusia) dan Bentuk Illahi paling besar, paling agung dan sempurna. Karena itulah susunan tiga benda langit (matahari, bulan, dan bumi) yang mempertentangkan al-Haqq adalah al-maro-ah, dengan kemunculannya menjadi wujuud, mempertentangkan kemanusiaan. Maka, ketigaan: Allah, ar-rijaal, dan al-maro-ah.  Laki-laki merindukan Rabb nya Yang merupakan sumber-Nya, sebagaimana al-maro-ah  merindukan Allah. Rabb menjadikan an-nisaa mencintai Allah ketika Rabb mencintai di dalam Bentuk-Nya Sendiri. Cinta muncul hanya dari kawn yang memiliki wujudnya, maka laki-laki mencintai apa-apa yang dimiliki oleh wujuudnya, yaitu al-Haqq. Rasulullah saw. mengatakan, “Dibuat mencintaiku,” (Naa’ii, 36 : 1).  Dan bukan berkata,“Aku mencintai,” langsung dari nafsnya sendiri. Cintanya di Dalam Allah Yang Berbentuk al-amaro-ah, menjadikannya mencintai istrinya. Jadi, ar-Rijaal  mencintai al-amaro-ah melalui (as-wasilah) cinta Rabb dalam Bentuk an-Nisaa. Ketika ar-Rijaal mencintai al-mao-ah, laki-laki mencari penyatuan dengan perempuan, atau dengan kata lain penyatuan paling sempurna terdapat di dalam cinta, dan tiada penyatuan elemen paling sempurna melebihi  al-washillah an-nikaah. Dikarenakan asy-syahwat menyerap keseluruhan bagian laki-laki, maka dia diperintahkan untuk melakukan ath-thohaaroh. Pernikahan yang sempurna adalah suatu pemurnian (al-fana) total, laki-laki fana dalam perempuan.  Al-Haqq mencemburui pelayan-Nya yang seharusnya tidak menjumpai kesenangan selain bersama-Nya, maka Dia memurnikan laki-laki melalui ath-thoharoh, sehingga ar-Rijaal sekali lagi menyaksikan Al-Haqq dalam kawn yang mendzohirkan Bentuk-Nya tempat ia fana, dan tiada daripada Dia Yang ar-Rijaal saksikan selain dalam sosok al-maro-ah.

Ketika ar-Rijaal menyaksikan Al-Haqq dalam al-maro-ah, berarti menyaksikan-Nya berada dalam sebuah aspek pasif, sementara ketika A-Rijaal menyaksikan-Nya dalam nafsnya sendiri, maka ar-Rijaali menyaksikan Dia dalam sebuah aspek aktif. Ketika laki-laki menyaksikan Dia di dalam dirinya sendiri, tanpa melihat kepada apapun yang berasal darinya, maka Ar-Rijaal melihat dia sebagai pasif terhadap Diri-Nya. Bagaimanapun, penyaksian laki-laki akan Al-Haqq di dalam al-maro-ah, merupakan  penyaksian paling lengkap dan sempurna dikarenakan dengan washilah demikian ar-Rijaal menyaksikan al-Haqq baik secara aktif maupun pasif, sementara jika menyaksikan al-Haqq hanya di dalam nafsnya sendiri, laki-laki melihat Dia dalam cara pasif.

Dikarenakan itulah maka Rasulullaah saw. dibuat mencintai an-nisaa dikarenakan adanya penyaksian sempurna al-Haqq di dalam mereka. Tidak mungkin mampu menyaksikan al-Haqq tanpa melaksanakan aturan, padahal Allah di dalam DZat-Nya, kaya (ghoniiy) melebihi alam semesta.    Karena itu, beberapa bentuk al-amr dari al-wajah diperlukan, dan penyaksian terbesar (‘azham) dan paling sempurna (akmal) adalah menyaksikan al-Haqq di dalam an-nisaa. Al-washilah terbesar (‘adzham) adalah al-washilah an-nikaah, dan bersesuaian dengan kembalinya Allah menghadapkan wajah kepada dia Yang diciptakan-Nya dalam Bentuk-Nya, untuk menjadikannya khalifah, sehingga Dia melihat Nafs-Nya di dalam dia. Berdasarkan hal itu, Dia membentuknya, menyeimbangkannya, dan meniupkan (nafakh) Ruh dari-Nya ke dalamnya, dengan Nafas-Nya, maka aspek luarnya mendzhohir, sementara aspek batinnya bersifat Illahiyyah. Dikarenakan hal itu, Dia menshifatkan-Nya di dalam pengatur (tadbiir) al-Haykal. Seperti Allah ta’ala katakan, يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ    (Qs. 32 : 5) : “Dia mengatur al-amr (urusan) dari as-samaa-i (langit) ke al-ardh (bumi).”, yang rendah menuju  paling rendah, menjadi elemen-elemen paling  rendah.”

Dia menyebut mereka dengan nisaa (perempuan-perempuan), dalam bentuk jama’, sebuah kata tanpa bentuk tunggal. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tiga hal di dunia yang dibuat aku mencintai mereka, yaitu perempuan-perempuan (an-Nisaa)…, “ dan bukan “perempuan (al-maro-ah)”, lebih dapat diterima karena perempuan-perempuan datang setelah al-wujuudnya. Sesungguhnya, kata an-nus-ah bermakna “datang setelah”. Dia  ta’ala berfirman, إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ  (Qs. 9 : 37): “Sesungguhnya mengundur-undurkan (an-nasii-a) bulan haram itu menambah-nambah al-kufr.” Dan di dalam nasii-ah  juga bermakna, “di dalam akhir”.  Lalu Dia mendzikiri “an-nisaa”. Dia mencintai mereka hanya dikarenakan martabat rendah mereka dan menjadi gudang pasifitas (al-anfa’aal). Dalam hubungannya dengan ar-Rijaal, an-nisaa  bershifat Universal, tempat Al-Haqq menyingkap di dalam bentuk-bentuk al-alam semesta dengan mengarahkannya menuju Kehendak dan Al-Amr Al-Ilahi. Pada tingkat bentuk elemen, disimbolkan dengan penyatuan suami-istri (nikaah), pemusatan ruhaniyyah di dalam alam al-Arwaah An-Nuuriyyah, dan menertibkan dasar pikiran menuju sebuah kesimpulan (dalam alam pikiran), dan semuanya bersumber kepada penyempurnaan pernikahan al-fardiyyah al-awwal (Primordial) dalam keseluruhan wajah dari al-wajuuh.

Siapapun yang mencintai an-nisaa dengan cara demikian, berarti dia telah mencintai dengan sebuah Cinta Ilahi; sementara laki-laki yang mencintai an-nisaa sebatas asy-syahwat, maka akan kekurangan seluruh pengetahuan (naqshoh) khusus. Jika demikian, maka mereka bagi laki-laki hanya dipandang dalam bentuknya belaka.   Tidak di dalam Ruh, dan bahkan meskipun kepada dzatnya dimasukkan ruh, akan tiada Bentuk nafs al-Amr; laki-laki (suami) yang mendekati istrinya atau perempuan (al-amaro-ah) lain semata-mata untuk memperoleh kesenangan dengannya, tanpa menyaksikan Kesenangan haqq.   Maka, ar-Rijal itu berada di dalam kebodohan nafs nya, seperti seorang asing yang bodoh akan orang lain sampai orang lain itu membukakan identitasnya kepadanya.

Sebagaimana mereka katakan,

“Mereka benar ketika mengatakan bahwa aku sedang ‘aasyq (mabuk cinta dan kerinduan),

hanya saja mereka tidak tahu kepada siapa aku sedang ‘asyaqiyy. “

Beberapa laki-laki sungguh hanya berada di dalam cinta dengan kesenangan berkisar kawn, dan akibatnya, sekedar mencintai kepasifan, yaitu sekedar perempuan (al-maro-ah); al-Haqq dan hakikat dari al-nikaah tidak diperolehnya. Jika laki-laki mengenal kebenaran, maka dia akan mengenal Dia Yang sebenar Kesenangan dan Penyenang; lalu laki-laki pun akan tersempurnakan.

Al-maro-ah memiliki derajat lebih rendah daripada ar-Rijaal, berdasarkan firman-Nya, وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ     (Qs. 2 : 228): “Akan tetapi ar-Rijaal, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada an-Nisaa.”Sehingga semua ciptaan (al-khuluq) memiliki derajat di bawah Al-Ahad Yang menghiasinya dalam Bentuk-Nya, meskipun wujuudnya dibuat dalam Bentuk-Nya. Dengan superioritas yang membedakan Dia dari ciptaan-Nya, Dialah segala keperluan kawn dan merupakan sumber utama. Dan Bentuk menjadi sebuah sumber hanya jika berada dalam sebuah kagunaan sekunder, karena bentuk manusia tidak memiliki keunggulan yang dimiliki Rabb. Hakikat batin secara sama membedakan berdasarkan derajat-derajat mereka,  dan para ‘arif memberikan kepada segala sesuatunya hak mereka dengan hak-Nya. Karena itu cinta Muhammad kepada an-Nisaa bersumber dari cinta Illahi dan dikarenakan Allah رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ    (Qs. 20 : 50): “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk penciptaannya.”  Intinya, memberikan hak setiap ciptaannya. Rabb memberikan mereka ketetapan kebaikan dalam (kecenderungan batin) zat yang layak mendapatkannya.

Dia ta’ala menempatkan an-nisaa pada bagian pertama yang dibuat-Nya untuk dicintai Muhammad dikarenakan an-nisaa merupakan gudang kepasifan, seperti Alam Universal, dengan bentuknya, datang sebelum amr-amr mendapatkan wujuud mereka dari perempuan. Secara al-haqiiqat, Alam Semesta merupakan an-Nafas ar-Rohmaan yang membentangkan bentuk-bentuk Alam Semesta lebih tinggi dan lebih bawah karena penyebaran dan-nafakh dalam Zat purba, khususnya dalam alam langit, alirannya menjadi berbeda dalam penerimaan wujuud al-arwaah an-nuuriyyah dan perintiwa-peristiwa (al-a’roodh).

Lalu Nabi Muhammad lanjut memberikan penjelasan kepada tiga hal yang dibuat beliau saw. mencintainya. Jika an-nisaa bersifat feminin, maka hal berikutnya bersifat maskulin. Dan beliau saw. berkecenderungan mengatakan bahwa feminin berada di atas maskulin. Nabi saw. mengatakan  tsalaats (tiga), bukan tsalatsah, yang digunakan untuk menjumlah kata-kata benda maskulin. Luar biasa, Nabi saw. menyebutkan minyak wangi (ath-thiib) sebagai kata benda maskulin, dan biasanya orang-orang al-Arab lebih senang memberikan perhatian lebih dan membesar-besarkan gender maskulin. Perkataan, “Fatimah dan Zaid ke luar (menggunakan jamak orang ketiga maskulin),” dan bukan jamak orang ketiga feminin.  Dalam cara itu, mereka lebih menyukai kata benda maskulin, bahkan jika hanya ada satu macam kata benda maskulin bersama beberapa kata benda feminin jamak. Meskipun Nabi saw. berkebangsaan Arab, beliau saw. dalam konteks ini memberikan perhatian khusus pada signifikansi hal-hal yang dibuat dia saw. mencintainya, bahwa nyatanya bukan dia sendiri yang memilih untuk mencintai mereka. Rabb lah Yang mengajarkannya saw. apa-apa yang tidak diketahuinya, dan kemurahan Rabb kepadanya begitu berlimpah ruah. Karena itu Dia menetapkan kedudukan feminin di atas maskulin dengan menyebutkan tsalats. Betapa mengenalnya Nabi di dalam al-haqhooiqh  dan betapa besar penyaksiannya akan sesuatu yang lebih utama (al-haqhuqh).

Lebih jauh, Nabi Muhammad saw. dibuat mencintai ash-shalat pada bagian akhirnya dengan menempatkan an-nisaa yang feminin (ta’niits) sebagai al-awwwal, ath-thiib yang maskulin pada bagian kedua. Memulai di dalam perempuan, dan mengakhiri di dalam shalat, yang juga sebagai kata benda feminin. Minyak wangi sebagai kata benda maskulin berada di antara keduanya, dengan wujuudnya, sejak ar-Rijaal ditempatkan antara Dzat (kata benda feminin) tempatnya mendzahir, dan amaro-ah  yang mendzahir dari laki-laki.  Ar-Rijaal berada di antara dua entitas feminin; an-nisaa merupakan  feminin hakiki, sementara ash-sholat merupakan feminin ghayr haqhiqhiyy. Ath-thiib ditempatkan di antara keduanya sebagaimana Adam ditempatkan antara adz- Dzat yang merupakan sumber al-mawjuud, dan Hawaa yang merupakan al-mawjuud yang berasal dari Adam.  Terminologi lain, seperti ash-shifat dan al-qudrah, termasuk kata benda feminin.  Bagaimanapun, dalam semua kata benda, sifat feminin mendominasi. Bahkan para Kausalis (ashaab) berkata bahwa al-Haqq adalah penyebab (‘illah) wujuud al-‘aalam, dan al-‘illah bersifat feminin. Hikmah dari ath-thiib dan ditempatkan kecintaan kepadanya setelah an-nisaa, itu dikarenakan bau harum di dalam an-nisaa, menjadi ath-thiib paling menyenangkan di dalam pelukan al-habiib (sang kekasih).

Ketika Muhammad dicipta sebagai hamba ash-sholih, dia saw. tidak memiliki keinginan untuk as-sayyaadah (pemimpin mulia), tapi hanya ingin terus-menerus mensujudi dan bergantung kepada Rabb, dengan menjadi suatu kawn pasif, sampai Rabb memasukkan Tujuan-Nya ke dalamnya, menganugerahinya sebuah peran aktif (al-faa’aliyah) dalam ‘alam Al-Anfaas, yang merupakan ath-thiib tertinggi (al-a’roof). Lalu Dia menjadikan ath-thiib dicintai oleh ar-Rijaal, ditempatkan setelah an-nisaa.  Dia memberikan penghormatan kepada derajat-derajat Al-Haqq dalam perkataan-Nya,   رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ (Qs. 60 : 15): “Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy .” Dia mendirikan ‘Arsy di atas Nama ar-Rohmaan-Nya, sehingga segala sesuatu yang meliputi al-‘Arsy berada dalam naungan ar-Rahmat Illahi, sebagaimana perkataan-Nya, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ     (Qs. 7 : 156): “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu-Nya.”

Al-‘Arsy meliputi segala sesuatunya, sedangkan Ar-Rohman menempatinya, sehingga ar-Rohmat menembusi alam semesta, sebagaimana sering kami jelaskan, baik dalam al-kitab ini maupun dalam Al-Futuuhaat al-Makiyyah (hal 390 dan 310).  Allah ta’ala menempatkan minyak wangi (tiib, juga dapat diartikan sebagai kebaikan/ ath-thoyyib) dalam konteks an-nikaah; mengambil contoh dari ‘Aisyah al-Mubaro’ah (tidak bersalah), ketika Dia berkata, الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ (Qs. 24 : 26), “ Perempuan-perempuan yang keji (al-khobiitsiin) adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat perempuan-perempuan yang keji (pula), dan perempuan-perempuan yang baik (ath-thoyyibaat) adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih (Al-Mubaro’ah) dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).”

Lalu, Dia memperbincangkan an-nisaa sebagai bau yang manis, mendzahir menjadi nafas, yang merupakan bentuk dari bau wangi, datang langsung (dari mulut) dengan disukai dan tidak disukai (thiib khobiits).  Bagaimanapun, menjadi sebuah sumber (syajaroh) Illahi, semuanya berbau manis dan baik; tapi bersesuaian dengan diterima atau tidak diterimanya,  maka bau yang diterima pun akan menghasilkan baik atau buruk. Tentang bawang putih, Nabi Muhammad saw. berkata, “Itu adalah tanaman yang baunya aku tak suka” (Muslim, 5 : 76); dan beliau saw. tidak berkata, “Aku tak menyukainya.” Karenanya, itu bukan urusan “menjadi tidak suka”, tapi hanya sebuah urusan (al-amr) yang berasal dari bau bawang putih. Macam perasaan tidak suka atau anti pati mungkin tampak dalam sebuah pertanyaan, antipati, hukum, penyimpangan, atau lainnya. Jika lalu dibuat perbedaan antara baik (ath-thoyyib) dan buruk (al-khobiits), maka Muhammad saw. dibuat untuk mencintai kebaikan dan bukan keburukan. Dikatakan, bahwa al-malaaikah dihalangi dari bau-bau al-khobiits, yang muncul dari proses pembusukan yang berhubungan dengan elemen-elemen dasar pembentuk Ar-Rijaal, karena mereka dibuat dari tanah liat dan lumpur yang bau وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ (Qs. 15 : 26), “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Maksudnya, bahwa ada macam variasi bau, sehingga para malaikat merasa jijik menemukan hal demikian. Dalam cara yang mirip, dengan sifat alaminya, kotoran kumbang menghindari bau bunga mawar, yang, meskipun bagi kita merupakan sebuah bau yang baik, tapi bagi kumbang merupakan bau yang dia tak suka. Maka, setiap orang yang seperti kumbang; ketika dia mendengar haqq, dia akan menolaknya dan bergembira di dalam kesalahan, sebagaimana Dia katakan,   وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ  (Qs. 29 : 52): “Dan orang-orang yang percaya (aamanuu) di dalam bathil dan kafir di dalam Allah.” Allah menshifati mereka sebagai orang-orang yang merugi dan kehilangan nafs nya. وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan orang-orang yang percaya (aamanuu) kepada yang bhatil dan kafir di dalam  Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi (al-khoosiriin).” Siapapun yang tidak dapat melihat kebaikan/ ath-thiib (ath-thoyyib/ ath-thiib) di dalam keburukan (al-khobitsat), tidak dapat melihat-Nya.

Rasulullah Muhammad saw. dibuat untuk mencintai, hanya kebaikan/ ath-thiib (ath-thoyyib/ ath-thiib) di dalam segala sesuatunya, Dia di dalam segala sesuatunya. (Barangkali kita bertanya) Apakah semua itu maksudnya bahwa kita hanya mengetahui yang ath-thoyyhib/ att-thiib dari segala sesuatunya di kawn, dan tidak mengetahui yang buruk?  Jawabannya, bukan seperti itu maksudnya, karena sejak ciptaan-Nya mawjuud dari sumbernya, yaitu Al-Haqq, ada yang berperilaku yakrohu: enggan dan cinta; al-khobiits  adalah apa-apa yang kita enggankan, dan ath-thoyyib adalah apa-apa yang kita cintai. Alam semesta tercipta dalam Bentuk Al-Haqq, dinamakan makrokosmos, dan manusia yang juga tercipta dalam Bentuk Al-Haqq, dinamakan mikrokosmos; sehingga tidak bisa apapun yang diciptakan-Nya hanya memiliki satu aspek saja. Tentunya ada orang yang bisa memisahkan kebaikan dari keburukan, dan bahwa suatu keburukan disebabkan oleh pengalaman inderawi dan kebaikan merupakan pengalaman non-inderawi, tapi itu dikarenakan kekuatan mengenali pengalaman non-inderawinya mengungguli kekuatan mengenali pengalaman inderawi. Tercetuslah ide bahwa manusia harus  menghapus keburukan dari penciptaan kawn, tapi tentu saja hal itu tidak mungkin dikarenakan karena Rahmat Allah meliputi al-khobits dan ath-thoyyib. Berdasarkan ha itu, bahwa yang buruk adalah baik dan baik adalah buruk. Sesungguhnya, tidak ada yang baik, melainkan hanya “tampaknya”, dan juga yang buruk menuju sesuatu yang buruk, dan sebaliknya.

Kecintaan yang ketiga, yang melengkapi al-fardiyyah, berada di dalam ash-sholat. Dia saw. berkata, “Dan qurrota ‘ayn ku terletak di dalam shalat,” (Nasaa’ii, 36 : 1), dikarenakan ash-sholat merupakan sebuah kondisi musyahadah, merupakan munaajah antara Allah dan ‘abduh. Allah berkata, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ   (Qs. 2 : 152): “Dzikirilah Aku, maka Aku akan mendzikirimu.” Ash-sholat merupakan ‘ibadah yang dibagi seimbang peruntukannya antara Allah dan ‘abdi-Nya; setengah untuk Allah, dan setengahnya lagi untuk ‘abdi-Nya. Hadits Qudsi, “Aku membagiperuntukan  shalat seimbang antara Aku dan abdi-Ku, setengah untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk abdi-Ku yang juga Aku penuhi apapun yang dimintanya.” (Muslim, IV : 38).

  1. Ketika abdi berucap, بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah menjawab, “Abdiku mendzikiri-Ku.”

  1. Ketika abdi berucap, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allah menjawab, “Abdi-Ku memuji-Ku.”

  1. Ketika abdi berucap, الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah menjawab, “Abdi-Ku meninggikan-Ku.”

  1. Ketika abdi berucap, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Allah menjawab, “Abdi-Ku memuliakan-Ku dan menyerahkan dirinya kepada-Ku.”

Keseluruhan ayat di atas (1 – 4) adalah milik Allah. Allah berkata, “Kesemua al-fatihah dibagi antara Aku dan abdi-Ku; untuknya apa yang dia minta,” lalu memperkenalkan sebuah elemen pengambilan bagian dalam ayat di bawah ini:

Ketika abdi berucap, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Allah menjawab, “Ayat-ayat ini untuk abdi-Ku yang meminta apapun.”

Ayat-ayat terakhir (5 – 7) adalah milik abdi , sebagaimana ayat-ayat sebelumnya adalah milik Tuhan. Dari sini kita menyadari kebutuhan untuk membaca surat al-Fatihah, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.  Barangsiapa yang mengurangi bacaan itu, berarti sedang tidak melaksanakan ash-sholat, yang merupakan setengah bagian untuk Allah dan setengah bagian lainnya untuk abdi.

Ash-sholat, yang merupakan munaajaah (percakapan), juga merupakan dzikr; barangsiapa yang mendzikiri Al-Haqq, sedang duduk (jaalasahu) dengan Al-Haqq dan  Al-Haqq sedang duduk dengannya. Kata-Nya ta’ala, “Aku adalah teman (jaliis) orang yang mendzikiri-Ku.” Dan siapapun yang duduk mendzikiri-Nya, maka dia melihat (bashoro) temannya. Adanya musyahaahadah dan rukyah. Tanpa ash-sholat, tidak ada dua hal itu. Dari keterhubungan dengan satu ash-sholat, seseorang mampu untuk menaikkan derajatnya, baik pakah dia memiliki kemampuan untuk melihat al-Haqq pada waktu shalatnya atau tidak. Jika dia tidak mampu melihat (ar-Rukyah)-Nya, maka biar dia beribadah di dalam iman seolah-olah melihat-Nya, membayangkan melihat Al-Haqq sedang berada di dalam qiblat selama percakapan (munaajaah) yang terjadi, dan biarkan dia mendengar (as-sama’) dengan penuh kewaspadaan apa yang Al-Haqq katakan padanya sebagai jawaban atas percakapan selama ash-shalat. Jika dia menjadi imaam (baik untuk keluarganya maupun kelompok lain) dan para malaikat terhubung dan sholat bersamannya dalam kepengabdian, maka dia di dalam ash-sholatnya memiliki kedudukan yang sama dengan ar-Rasul dalam menghadirkan Allah.  Sesungguhnya, setiap orang yang menjadi seorang imaam ash-sholat, para malaikat shalat di belakang setiap satu orangnya, sebagaimana hadits: Ketika dia berkata: “Sami’ Allahu liman hamidah,” (Bukhori, 9 : 16) dimam membiarkan orang-orang yang shalat mengikutinya mengetahui bahwa Allah mendengarnya, dan para malaikat dan makhluk lain yang ikut shalat lainnya mendukung, “Yaa, Rabb, abdi-Mu memuji-Mu,” dan juga bermakna bahwa Allah Sendiri Yang berkata pada lidah abdi-Nya, bahwa, “Sami’ Allahu liman hamidah.”

Keagungan ash-sholat dan  derajat ar-rukyah akan melekat kepada abdi yang mendirikannya. Bagaimanapun, seseorang yang tak mendapatkan ar-rukyah di dalam ash-sholatnya, tidak akan mencapai puncak keagungan ash-sholat dan tidak dapat menemukan qurrota ‘ayn di dalamnya karena dia tidak mampu melihat Dia yang diajaknya bercakap-cakap. Jika dia juga tidak mampu mendengar jawaban Al-Haqq, berarti dia belum cukup memiliki kewaspadaan untuk mendengar.  Sesungguhnya, dia yang tidak menghadirkan Raab di dalam ash-sholat, tidak mendengar dan tidak menyaksikan (syahid)-Nya, maka sebenarnya sama sekali sedang tidak mendirikan ash-sholat karena tidak mendengar dan tidak melihat Allah. Pada akhirnya, tidak ada ritual ibadah lain yang sebenar memisahkan keasyikan abdi dengan makhluk lainnya, hanya asyik makhsyuk bercakap-cakap dengan Rabb nya, selain di dalam ash-sholat.

Di dalam ash-sholat, elemen yang paling berpengaruh adalah dzikrul Allah yang terbentuk dalam kata-kata dan tindakan. Digambarkan dengan shifat dari ar-Rijal al-akmal di dalam ash-sholatnya, tercantum dalam al-Futuuhaat al-makiyyah (Bab II, hal 468; Bab III, hal 296 – 297).  Allah ta’ala berkata,   إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ   (Qs. 29 : 45): “Sesungguhnya ash-shalat itu mencegah dari al-fakhsya (keji) dan al-munkar (mungkar),”  bahwa seseorang yang berada di dalam ash-sholat terhalang dari mendudukkan dirinya sendiri dengan segala sesuatu di luar ash-sholat karena dia terikat dengan Allah. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ  :“Sesungguhnya mendzikiri Allah lebih akbar keutamaannya dibanding ibadah lainnya,”  bahwa, di dalam konteks ash-sholat, Dzikir-Nya akan abdi-Nya ketika Dia menjawab permohonan abdi-Nya, itu lebih akbar keutamaannya. Lebih jauh lagi, di dalam ash-sholat, pujian abdi bagi Allah lebih akbar keutamaannya daripada mendzikiri-Nya, karena segala kemuliaan milik Allah ta’ala. Maka, Dia berkata,  wallaahu ya’lam maa tashna’uun    (Qs. ): “Allah Maha Mengetahui apa-apa yang biasa mereka lakukan,” dan, atau“Mendengar (as-sama’) dan menyaksikan (syahiid).” ”Mendengarkan” berasal dari Allah Yang mendzikiri abdi-Nya di dalam ash-sholat.

Maka, dari pergerakan (harokah) yang dengannya alam semesta mawjuud dari al-adam menjadi al-wujuud, ash-sholat memiliki tiga fase, yaitu:

1. sebuah pergerakan (al-harokaat) vertikal ketika abdi berdiri di dalam ash-sholatnya,

2. sebuah pergerakan horizontal ketika  abdi rukuk di dalam ash-sholatnya,

3. dan sebuah pergerakan ke bawah ketika abdi bersujud di dalam ash-sholatnya.

Pergerakan al-insaan disimbolkan dengan gerakan vertikal, pergerakan binatang (al-haywaan) disimbolkan dengan  gerakan horizontal, dan pergerakan tanaman (an-nabaati) disimbolkan dengan gerakan ke bawah, sementara benda-benda tidak memiliki gerakan; sebuah batu hanya begerak jika dipindahkan oleh dzat yang memiliki gerakan.

Sabda Rasulullah saw., “Dan qurrota ‘ayn ku berada di dalam ash-sholat,” (Nasaa’i, 36 : 1). Rasulullah saw. tidak menshifatkan itu kepada nafs nya sendiri, karena tajali al-Haqq di dalam ash-sholat datang dari Allah ta’ala, dan bukan dari abdi yang mendirikan ash-sholat. Sesungguhnya, Rasulullah saw. tidak menyebutkan hal itu dari nafsnya sendiri, tapi Allah memerintahkannya untuk mendirikan ash-sholat tanpa penyingkapan Nafs-Nya kepadanya saw. Sejak ash-sholat menjadi kesenangannya saw., maka menyaksikan-Nya juga menjadi kesenangannya saw.  “Dan qurrota ‘ayn ku berada di dalam ash-sholat,” maknanya bahwa menyaksikan Sang Kekasih merupakan qurrota ‘ayn. Hal itu dikarena kataqurroh berasal dari kata istiqraar (memperbaiki), sehingga mata pecinta diperbaiki, ditetapkan untuk ditutupi dari selain-Nya. Itu merupakan alasan bahwa bahkan melihat sekitar tempat shalat tidak diizinkan, karena dengan jalan itulah Setan  mencuri sesuatu dari ash-sholat yang didirikan oleh abdi dengan tujuan untuk menghalanginya menyaksikan Sang Kekasih. Jika Allah adalah Kekasih abdi yang selalu melihat abdi-Nya, maka abdi-Nya, di dalam ash-sholat, hanya akan menghadap kiblat. Setiap al-insaan yang mengenal nafsnya baik ketika sedang berada di dalam al-‘ibaadah ataupun tidak,  بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ, وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ    (Qs. 75 : 14 -15): “Bahkan al-insaan itu melihat (bashiiroh) nafnya sendiri, meskipun dia banyak mengemukakan alasan-alasan,” sesungguhnya, setiap al-insaan itu dapat mengenali kesalahan dari kebenaran yang ada di dalam nafsnya karena tidak ada satu orang pun yang sebenar-benar jahil jika dzawq (rasa jiwa) nya terbuka.

Hal itu juga disebut dengan ash-sholat, memiliki aspek lain Yang Dia perintahkan kita untuk mendirikan ash-sholat dan mengatakan kepada kita bahwa Dia juga mendirikan ash-sholat untuk kita, maka ash-sholat menjadi milik kita dan Allah. Ketika Allah mendirikan ash-sholat, Dia menghubungkan dengan asma Al-Akhir-Nya, yang datang setelah wujuud al-‘abd, dan sungguh, Al-‘Abd ‘ayn Al-Haqq  di dalam Qalbnya sendiri, baik dengan akalnya sendiri maupun melalui pembelajaran ritual ibadah yang dilakukannya.  “Keimanan (aqidah) kepada Allah”, dipahami dengan banyak pemaknaan. Al-Junayd mengatakan maknanya ketika ditanya tentang makna al-ma’rifatullah dan al-‘aarif, “Warna air sama dengan warna wadahnya,” (Qushayri, Al-Risaalah, Kairo, 1346 Hijriyyah, hal. 127, 142), merupakan jawaban paling tepat, menunjukkan al-amr sesungguhnya. Karena itu berati bahwa Allah yang mendirikan ash-sholat untuk kita. Juga, ketika kita mendirikan ash-sholat, kita  mengadakan al-ism al-akhir, memposisikan sama dengan Dia Yang tepat memiliki al-asma al-Akhir. Itu karena, bagi-Nya, kita hanya diperintahkan sesuai dengan haal (keadaan) kita. ketika menjadi masbuk (shalat berjama’ah dalam keadaan terlambat), Dia melihat kita hanya dalam al-Ism yang kita sediakan bagi-Nya.

Allah berkata, كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ  (Qs. 24 : 41): “Masing-masing mengetahui shalat dan tasbihnya,”yang bermakna  bahwa derajat keterlambatan dalam beribadah kepada Rabb, juga merupakan cara pengagungan (tasbiih) yang menegaskan at-tanjiih Rabb yang terus-menerus. Sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang dapat mengalirkan pujian kepada Rabb al-Haliim dan al-Ghofuur. Karena itu, tasbihnya alam semesta, dalam setiap bagian-bagiannya, tidak dipahami oleh kita يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ  (Qs. 17 : 44): “Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” Dengan cara itu, kata ganti pujian-Nya  juga merujuk kepada pengagungan (al-misbah) al-abd di dalam perkataan-Nya, “Tidak ada yang lain selain Dia Yang mengagungkan pujian al-‘abd,” yang bermakna memuji pujian al-‘abd, Maka, kata ganti di dalam “pujian-Nya” kembali kepada pujian yang diungkapkan kepada-Nya di dalam apa yang menjadi aqidahnya, ketika seseorang hanya memuji Allah yang diimaninya yang telah diikatnya di dalam nafsnya sendiri. Apapun amalnya, kembali kepada nafsnya sendiri. Sesungguhnya dia hanya (dalam kenyataannya) memuji nafsnya tanpa keraguan. Seseorang memuji pembuatnya, kepuasannya, atau sebaliknya memantulkan  siapapun pembuatnya. Mirip, beraqidah  di Dalam Allah membuat seseorang berada di dalam pembuatannya, sehingga pujiannya untuk yang diaqidahinya berada di dalam pujiannya sendiri. Karena itu mengapa dia menolak perbedaan aqidah orang lain, meskipun dia tidak akan melakukan hal demikian jika dia tak berat sebelah. Orang yang beribadah dengan cara demikian, bagaimanapun, biasanya masih berada dalam kebodohan (jaahil), karena dia biasa untuk semangat (ghiroh) menuju – mengikuti apa-apa yang orang lain imani (a’taqodah) di dalam Allah. Jika dia sebenar memahami apa yang Al-Junayd katakan tadi, dia harus membiarkan setiap orang yang memiliki aqidah apapun merasa bebas dengan aqidah nya dan akan mengenali Allah dalam setiap bentuk (shuurot) dan dalam setiap aqidah. Sikapnya tadi, bagaimanapun, lebih sekedar prasangka (dzhon), bukan di dalam al-‘ilm. Allah berkata, “Aku sesuai prasangka (dzhon) abdi-Ku,” (Bukhori, XCVII : 15), bahwa Dia mendzhohir di dalamnya hanya dalam bentuk  aqidahnya, baik secara universal ataupun partikular.

Aqidah di dalam Allah memiliki batas-batas tertentu, dan begitulah Al-Haaq  Yang mengisi Qalb abdi-Nya, karena Allah al-Muthlaq tidak bisa mengisi apapun, menjadi ‘ayn dari segala sesuatunya dan ‘ayn dari Nafs-Nya Sendiri. Sesungguhnya, seseorang tidak bisa berkata juga bahwa segala sesuatunya meliputi Nafs-Nya Sendiri. Jadi, pahamilah! Allah mengatakan al-Haqq dan Dia adalah Penunjuk kepada as-Sabiil.

(* Sumber : mengutip sebuah Catatan dari Dwi Afrianti, tertanggal 10 Juli 2012)[]

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Maulana Jalaluddin Rumi, sufism; tashawwuf, Suluk dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.