Tulus

* Catatan sebelumnya, berjudul : Hati yang Tulus

Syaikh al-Qusyayri berkata : “Ketulusan minimal adalah bila terlihat atau tak terlihat orang dirasa sama saja.”

Abu Ali al-Daqqaq berkata : “Ikhlas berarti menghindar dari perhatian makhluk, dan tulus berarti bersih dari penurutan nafsu. Orang yang ikhlas tak punya sifat riya, dan orang yang tulus tak punya sifat ujub.”

Sahl al-Tustari berkata : “Tidaklah mencium aroma ketulusan, orang yang memuji dirinya atau orang lain secara berlebihan.”

Syaikh al-Harits al-Muhasibi menjelaskan :

“Ketulusan dan hawa nafsu bisa saja berpadu dalam kebajikan. Pasalnya, kehendak untuk beramal terjadi sebelum amal itu, syahwat atau hawa nafsu muncul menyertai amal, sedangkan niat dan ketulusan berada di belakang keduanya (kehendak dan hawa nafsu).

Setiap kali seorang hamba berkehendak atau bertekad untuk beramal, baik dalam waktu dekat atau tidak, maka hawa nafsu, syahwat, dan niat yang tulus akan segera berlomba menuju hatinya dengan mengingat-ingat apa yang bisa diharapkan dan dicitakan dari amal seperti itu, berupa kebutuhan-kebutuhan duniawi, kesenangan-kesenangannya, manfaat-manfaatnya, dampak-dampaknya, kelezatan-kelezatannya, dan segala sesuatu yang menyenangkan, serta sesuatu yang memperbaiki posisinya di tengah manusia dan yang membuatnya dikenang dengan pujian, sanjungan, kehormatan, kedudukan, ketinggian, dan kekuasaan. 

Siapa yang dikarunia Allah nikmat sehingga keinginan yang tulus berada di depan hawa dan syahwat dirinya dan sehingga ia mendambakan ridha Allah dan kampung akhirat dengan amalnya, maka, dalam hal ini, kesibukan hati dan segenap pengharapannya menjadi tertuju kepada ridha Allah dan balasan-Nya.

Jika nafsu, hawa, dan syahwat mendahului keinginan yang tulus, maka orang yang mengalaminya perlu diam, melakukan perenungan, dan berpikir sehingga hatinya bersih dari nafsu, syahwat, dan hawa yang menimpanya, serta meletakkan keinginan terhadap Allah di posisi itu, bahkan di depannya.

Ketulusan (dan keikhlasan) terjadi jika manusia hanya menginginkan Allah dengan amalnya dan di dalamnya tiada sedikit pun maksud-maksud duniawi. (Sedangkan riya adalah jika seluruh keinginan ditujukan untuk dunia).

Jika belum didahului niat dan ketulusan, maka amal itu tidak berarti apa-apa.”[]

~ Catatan yang terkait erat, berjudul : Ikhlas (Syeikh Ibnu Atha’illah)

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.