Meminta Dari-Nya Sesuatu Yang Berharga (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

(Sub) Judul asli : “Janganlah Meminta  Dari Yang Dermawan Kecuali Sesuatu Yang Berharga”

Sumber : “Adab as-Suluk wa at-Tawasshul ila Manazil al-Muluk“, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani/ “Raihlah Hakikat, Jangan Abaikan Syariat : Adab-adab Perjalanan Spiritual”, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, 2009)

Syaik Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata :

“Janganlah memohon sesuatu dari Allah Swt kecuali pengampunan atas dosa yang telah lalu, dan perlindungan dari dosa pada hari-hari yang akan datang, bimbingan agar tetap taat dan menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, rela atas ketentuan-Nya, sabar atas ujian yang diberikan-Nya, syukur atas berbagai nikmat dan anugerah-Nya, dan memohon wafat dalam keadaan baik, mengikuti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Betapa indahnya teman seperti mereka.

Janganlah meminta dari-Nya dunia, kefakiran diubah menjadi kaya, sakit menjadi sehat**, tetapi harus ridha atas apa yang diberikan-Nya dan renungkanlah. Dan mohonlah kepada-Nya agar senantiasa menjaga keadaanmu, sampai Allah mengubahnya kepada keadaan yang lain sesuai kehendak-Nya. Karena engkau sendiri tidak tahu mana yang lebih baik di antara keduanya, apakah dalam kefakiran atau kekayaan, sakit atau sehat. Semuanya di luar pengetahuanmu. Hanya Allah Yang Mengetahui baik buruknya semua itu.

Telah diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a. : “Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hariku, dalam keadaan yang aku sukai atau yang tidak aku sukai, karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku di antara keduanya.” Beliau mengatakan hal itu karena keridhaannya atas pengaturan Allah atasnya, dan ketenangannya atas pilihan dan ketentuan-Nya.

Allah Swt berfirman : “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Allah Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”(QS [2]:216).

Jadilah orang yang berada dalam keadaan seperti ini hingga nafsu hilang dari dirimu, egomu hancur sehingga ia tunduk patuh kepadamu. Lalu hilang juga ambisi dan angan-anganmu, dan keluarlah segala sesuatu yang sifatnya ciptaan dari dalam hatimu. Tidak ada apapun yang tersisa dalam hatimu kecuali Allah Swt. Sehingga hatimu penuh dengan cinta kepada Allah, kehendakmu benar-benar memohon kepada-Nya. Lalu kehendakmu dikembalikan kepadamu, kemudian Dia memerintahkan kepadamu untuk meminta bagianmu baik duniawi maupun ukhrawi. Maka ketika itulah permohonanmu kepada-Nya semata-mata karena menunaikan perintah dan persetujuan Allah Swt.

Apabila engkau diberi anugerah, maka engkau mensyukuri dan menikmatinya. Dan jika engkau belum diberi, engkau tidak marah kepada-Nya, batinmu tidak berubah, dan tidak menyalahkan-Nya. Karena engkau memohon kepada-Nya tidak dengan hawa nafsu dan kehendakmu, karena hatimu kosong dari semua itu kecuali keinginan kepada-Nya, bahkan menunaikan perintah-Nya untuk meminta.[]

Tanda **, berkaitan erat dengan catatan berjudul : Catatan Sufistik Tentang Sakit | Suluk

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, Suluk Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.