Mutiara Cinta | Sufistik

Dalam Kitab Para Pecinta Allah (Al-Mahabbah wa Asy-Syauq wa Al-Uns wa Ar-Ridla, Ihya Ulum Ad-Din, V), Imam Al-Ghazali menuliskan bahwa dalam berita-berita tentang Nabi Dawud a.s, disebutkan bahwa Allah berfirman,”Hai Daud, sampaikanlah kepada penduduk bumi bahwa sungguh Aku adalah Kekasih bagi orang yang mencintai-Ku; teman duduk bagi orang yang duduk bersama-Ku; teman akrab bagi orang yang akrab dengan mengingat-Ku; pilihan bagi orang yang memilih-Ku…”;

Allah mewahyukan kepada Dawud a.s. :
“Wahai Dawud, barangsiapa yang mencintai Kekasihnya, niscaya dia akan membenarkan ucapan Kekasihnya itu. Barangsiapa yang ridha terhadap perbuatan Kekasihnya, niscaya dia akan ridha terhadap perbuatan Kekasihnya itu. Barangsiapa yang percaya terhadap Kekasihnya, niscaya dia akan bersandar kepada Kekasihnya itu. Dan barangsiapa yang rindu kepada Kekasihnya, niscaya dia akan bersungguh-sungguh pergi kepada Kekasihnya itu. Wahai Dawud, ingatan-Ku adalah untuk orang-orang yang ingat kepada-Ku, surga-Ku adalah untuk orang-orang yang taat kepada-Ku, dan kecintaan-Ku adalah untuk orang-orang yang rindu kepada-Ku, dan Aku adalah milik para pecinta-Ku.”–(‘Uddah ad-Da’i, al- Hilli; dan Kalimatullah, Asy-Syirazi);

[1] “Siapa yang mencintai Allah Swt akan dianugerahi perasaan cinta, sikap taat, gemar mengingat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pada saat kecintaan kepada Allah Swt telah tertanam di lubuk kalbu hamba, pengaruhnya akan tampak secara lahiriah; bisa dalam bentuk kesungguhan untuk berbuat taat yang disemangati oleh pengabdian kepada-Nya. Kalbu orang mencintai diletakkan di antara keagungan dan kesempurnaan Sang Kekasih. Jika kalbu merenungkan keindahan Sang kekasih, akan timbul cinta dan rindu kepada-Nya. Sebab, setiap orang yang mencintai pasti akan selalu rindu akan pertemuan dengan Sang Kekasih.”

[2] “Kecintaan Allah Swt kepada hamba-Nya pasti akan mengungguli kecintaan seorang hamba kepada-Nya. Sebab, jika bukan karena cinta Allah Swt, Dia tidak akan menjadikan cinta berada dalam hati hamba-Nya. Ketika hamba mencintai Allah Swt, maka Dia akan membalas lebih besar dari cinta sang hamba kepada-Nya…”

[3] “Apabila Allah Swt telah mencintai hamba-Nya, niscaya Dia akan menumbuhkan rasa cinta tersebut pada diri sang hamba melalui relung kalbunya yang terdalam…”

[4] “Orang yang benar cintanya, adalah orang yang apabila berbicara, ia akan berbicara karena Allah Swt. Jika ia diam, itu juga karena Allah Swt. Jika ia bergerak, ia bergerak karena perintah Allah Swt. Dan jika ia berdiam diri, maka sungguh ia berdiam diri hanya karena mengharap ridha Allah Swt. Perbuatannya hanya untuk Allah Swt, karena Allah dan bersama Allah. Cinta merupakan kehidupan kalbu dan pembasuh nurani yang kering (mati). Tanpa cinta, kalbu hamba tidak akan pernah bisa merasakan kenikmatan dan kebahagiaan…”

[5] “Cinta yang sempurna, adalah condongnya kalbu secara total kepada Sang Kekasih. Tiap kali kecenderungan itu menguat, maka ketaatan seseorang kepada-Nya akan semakin sempurna dan lebih mengagungkan. Kecenderungan inilah yang mewujudkan nilai keimanan, bahkan ia menjadi ruh dan intisari darinya (keimanan). Orang yang cintanya sempurna akan senantiasa mencari ridha Allah Swt yang sudah menjadi kebutuhan baginya. Ia hanya ingin mencari ridha-Nya karena kehidupan dan keberhasilan dirinya hanya terletak pada kedekatan kepada-Nya, yakni ridha dan cinta Rabb-nya. Dan, orang yang cintanya benar adalah siapa yang memerhatikan balasan terbesar serta berusaha meraihnya, menikmati cinta kepada-Nya, dan rindu akan pertemuan dengan-Nya.”

[6] “Cinta yang tulus selalu diiringi dengan sikap ikhlas atas apa yang dilakukan oleh Sang Kekasih kepada dirinya. Orang yang mencintai tidak akan merasa berat di dalam berusaha, demi untuk mencapai keinginan Kekasihnya. Ia menjadikan kedekatan kepada Sang Kekasih sebagai kebahagiaan kalbu. Sekalipun merupakan beban yang cukup melelahkan bagi tubuhnya. Karena, setiap cinta itu menundukkan kalbu dengan pasti…”

[7] “…Tujuan orang yang mencintai adalah perasaan ridha terhadap ketentuan yang diberlakukan oleh Sang Kekasih, baik itu menyulitkan maupun memudahkan dirinya…”

[8] “Kecintaan seorang hamba mampu menyemangati dirinya untuk bersedia melakukan perenungan dan menyendiri, demi mendekatkan diri dengan Sang Kekasih…”

[9] “Jika telah tumbuh di lubuk sanubarimu rasa cinta, niscaya akan engkau rasakan getaran pengaruhnya pada tubuhmu. Kerinduan mengantarkan orang yang mencintai untuk segera mencari ridha Kekasihnya, walaupun sangat berat rintangan yang harus ia hadapi. Orang-orang yang mencintai merasa enggan dengan segala kesibukan yang melupakan diri dari mengingat Sang Kekasih. Maka dari itu, tidak ada sesuatu pun yang lebih menenangkan kalbu para pecinta sejati selain menyendiri dengan Sang Kekasih.”

[10] “…Kehidupan seorang pecinta bergantung pada kalbu dan jiwanya. Dan, tiada kehidupan bagi kalbu, kecuali disebabkan oleh pendekatan kepada Pencipta-nya, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya, bertaubat, dan bersikap khusyuk dalam mengingat-Nya…”[]

(* Sumber : “Memadamkan Api Neraka dengan Cinta”, Ibnu Ibrahim, 2011);

~ Catatan-catatan yang terkait, berjudul :

[1] Hanya Allah Yang Berhak Dicintai (Imam Al-Ghazali)

[2] Cinta Manusia Kepada Allah | Said Ramadhan Al-Buthy

[3] Sang Maha Cinta (1) | Maulana Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Hati, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, Qalb, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, syair cinta sufistik, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.