Umur Dengan Aroma Kematian

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS Ali Imran : 185)

“…Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.”(QS An-Nahl : 61)

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”(QS An-Nahl : 70)

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”(QS Ar-Ruum : 54)

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Lukman : 34)

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).  Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”(QS Faathir : 11)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al-Munaafiquun : 10-11)

Suatu saat Ummu Habibah bertanya kepastian ajal yang akan menjemput manusia. Nabi Saw berkata kepadanya : “Engkau menanyakan kepada Allah tentang ajal yang sudah dipastikan, hari yang sudah ditentukan, dan rezeki yang telah dibagikan. Dia tidak akan memajukan atau menunda sesuatu dari waktunya.”(HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda,”Kematian secara tiba-tiba adalah kesenangan bagi orang mukmin dan penyesalan bagi orang yang maksiat.”(HR. Ahmad, dari Siti Aisyah dengan isnad shahih)

Imam Ali bin Abi Thalib k.w berkata : “Bila keadaanmu makin mundur, sedangkan maut terus datang mengejar di belakangmu, alangkah cepatnya pertemuan akan terjadi.”

Dalam hikmah lain, Imam Ali bin Abi Thalib k.w mengatakan : “Segala sesuatu memerlukan makanan pokok, sedangkan kalian adalah makanan pokok serangga. Barang siapa berjalan di permukaan bumi maka tempat kembalinya adalah perut bumi.”

Imam Ali bin Abi Thalib k.w berkata : “Ikatlah kuat-kuat ikat pinggangmu untuk mati. Sesungguhnya, mati akan menjumpaimu. Janganlah kamu bersedih hati karena mati. Apabila ia datang di lembahmu.”

Imam Ali bin Abi Thalib berkata : “Aku sungguh heran terhadap seseorang yang lupa akan kematian, padahal dia melihat orang-orang yang meninggal dunia.”

Dalam Nahjul Balaghah termuat wasiat Imam Ali bin Abi Thalib k.w : “Wahai manusia, setiap orang dalam pelariannya pasti akan menjumpai apa yang menyebabkannya lari. Ajal adalah tempat penghalauan jiwa. Oleh karena itu, melarikan diri darinya sama saja dengan menjemputnya. Betapa sering aku mengejar waktu guna menyingkap rahasianya yang tertutup rapat, tetapi Allah tetap menyembunyikannya. Sungguh dia tak terjangkau. Ia adalah ilmu Allah yang tersimpan rapi; Adapun wasiatku kepadamu, hendaklah kamu selalu bersungguh-sungguh dalam menjaga diri dari menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya, dan agar kamu selalu mengikuti jejak Muhammad saw dan tidak menelantarkan sunnahnya. Tegakkanlah dua tiang ini, nyalakanlah kedua pelita ini. Sungguh kamu akan bebas dari kecaman apapun selama tidak menyimpang dari kebenaran kedua-duanya. Curahkanlah segala daya upayamu. Dan semoga Allah Yang Maha Pengampun berkenan meringankan orang-orang yang tidak mengerti, di bawah naungan agama nan lurus dan bimbingan yang arif; Aku kemarin adalah kawanmu. hari ini aku menjadi pelajaran bagimu. Dan esok aku kan meninggalkanmu. Oleh karena itu, semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu. Bila pijakanku di atas jalan licin ini cukup kuat tertahan, aku masih akan bersamamu. Namun, jika kaki tergelincir juga, hal itu adalah wajar pula. Kita semua selalu terhalang oleh bayang-bayang berbagai ranting, diombang-ambingkan oleh embusan angin, di bawah naungan awan tebal yang berserakan,  lalu hilang lenyap di atas bumi; Sesungguhnya, aku ini tetanggamu. Tubuhku bersamamu untuk hari-hari tertentu, kemudian kamu akan mendapatiku sebagai jasad tak bernyawa, tenang setelah bergerak, dan diam setelah bicara. Oleh karena itu, jadikanlah pelajaran bagimu tenang dan pejamnya mataku serta diamnya kedua tangan dan kakiku. Yang demikian itu lebih mendalam pengaruhnya daripada ucapan yang paling mencekam atau kata-kata yang paling memukau; Kuberdoa bagi kamu sekalian seraya mengucapkan selamat tinggal, saat seorang menunggu saat perjumpaan kembali. Esok kamu akan menyadari kebaikan hari-hariku bersamamu dan tersingkap bagimu rahasia-rahasia perbuatanku. Kamu akan benar-benar mengenal diriku setelah kepergianku dan hadirnya penggantiku di tempatku.”

“Apakah aku belum memberitahukan tentang hari kefakiranku kepada kalian? Yakni, hari ketika aku diletakkan di liang kuburku.”-Abu Dzar Al-Ghifari

“Yang harus diingat oleh seorang hamba adalah dia sesungguhnya sedang membawa kematian, sedang berjalan menuju kematian, dan sedang menunggu kematian itu entah datang di pagi hari atau ketika sore nanti.”-‘Aidh Al-Qarni

Imam An-Nawawi pun berkata : “Ya Allah! Sungguh, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat dan belum aku perbuat.

Ya Allah! Ilhamkanlah petunjuk kepadaku dan lindungilah aku dari kejahatan diri sendiri.

Ya Allah! Sungguh, aku berlindung kepada-Mu dari perasaan penakut dan bakhil. Aku berlindung kepada-Mu dijauhkan dari kepikunan. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan fitnah kubur.

Ya Allah! Sungguh, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitnah kejahatan ad-Dajjal.

Ya Allah! Sungguh, aku memohon kepada-Mu atas hal-hal yang membuat terlimpahnya rahmat-Mu, kepastian ampunan-Mu, keselamatan dari segala dosa, kemampuan meraih segala kebajikan, keberhasilan dalam mendapatkan surga dan keselamatan dari api neraka.

Ya Allah! Bantulah aku dalam menghadapi keberatan dan kesulitan sakaratul maut.”[]

————————————-  # Judul-judul catatan lain dengan tema berbeda, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Kematian, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.