Alunan Rindu Membara

[I] Kulihat bayang-Nya di segala sesuatu

Kusaksikan padanya Wajah yang aku cinta

Cinta setiap pecinta hanya pada Wajah-Mu

Nyawa setiap jiwa mengalir dari-Mu

Tak ada yang mereka sebut selain nama-Mu.

Tak ada yang pergi selain menuju-Mu

Tak ada sesuatu kecuali Engkau menjelma padanya

Tak ada tempat kudatangi selain Engkau ada di sana;

[II] Peminum arak pasti sadar dari mabuknya

Sedang cinta adalah mabuk berkepanjangan;

[III] Angin sepoi sentuh rumah-rumah yang dilewati

Sebarkan cinta untuk siapa saja yang menginginkan

Kucium wangi Kekasih

Kurasakan hadirnya begitu dekat

Aku merindu, tak tahu pada keindahan yang mana

Aku mabuk, tak tahu oleh minuman apa;

[IV] Rinduku pada-Mu tak terungkap kata-kata

Cintaku yang tersembunyi lebih bergelora daripada yang terlihat

Duhai kiranya tubuh ini tak berbatas

Sehingga aku dapat melihat-Mu seutuhnya

Apa yang Kau kabarkan padaku tentang-Mu

Baru setetes air mata, tentu aku inginkan lebih;

[V] Antara aku dan Engkau terjalin sebuah ikatan

Yang telah dimulai “di sana” dan berwujud di sini

[VI] Kulihat kilat pancarkan cahaya, aku terpaku seperti tanpa hati

Cahayanya ingatkanku akan Kekasih

Bayangan tentang-Nya membuatku tak kuasa menahan air mata;

[VII] Duhai kasihan para muhibbin yang kebingungan

Kau lihat mereka bebas padahal para tawanan

Kau kira mereka sehat dan terkendali diri

Padahal mabuk akibat arak cinta mereka

Jika disebut nama-Nya rindu mereka meradang

Mereka gelisah tak kenal arah

Cinta telah memasuki sepenuh hati mereka

Hati mereka pun tak tenang dan terus meronta;

[VIII] Pada-Mu ada makna memanggil jiwa mencintai-Mu

Padamu ada petunjuk membimbing jiwa mendatangi-Mu

Mata hatiku mengarahkanku pada-Mu

Dan hanya pada-Mu matahatiku memandang –(Diwan Al-Hallaj);

[IX] Aku cinta pada-Mu sepenuh jiwa dan raga

Meski cinta-Mu padaku membuatku mati–(Al-Lima dari Al-Siraj)

[X] Hawa cinta berembus begitu kuat

Dibakar api kerinduan dalam hatiku

Dahan-dahan cinta terguncang angin cinta

Buah-buahnya berserakan diterpa topan cinta

Mentari cinta terbit cahayanya menerobos

Sela-sela ranting dan dedaunan tabir rindu

Waktu tampak begitu jernih pancarkan cahaya

Terangi wajah nan bening sedemikian nyata

Kulihat diriku bukan apa-apa

Selain bahwa Ia adalah Cinta-ku;

[XI] Tanda kekuasaan cinta atas para pecinta adalah tangis;

[XII] Aku sudah muak dengan pembicaraan mereka

Kutahan untuk mereka mata dan lidahku

Bukan niatku jauhkan diri dari mereka

Tapi aku dapati-Mu terlihat di setiap tempat–(dari Risalah al-Qusyayri (1318), hlm. 50);

[XIII] Sungguh penglihatanku cemburu pada-Mu

Hingga kupejamkan mata saat melihat-Mu

Kulihat Engkau membayang dalam semua ciptaan-Mu, dan itu adalah ujian bagiku

Maka aku cemburu dari dan kepada-Mu;

[XIV] Dulu hatiku punya banyak cinta yang berserak

Sejak mataku melihat-Mu seluruh cintaku bersatu pada-Mu–(Diwan Al-Hallaj);

[XV] Jika aku berjalan membawa jasadku

Maka hatiku selalu bersama-Mu

Tapi melihat-Mu dengan mata punya makna khusus

Karena itu Musa minta melihat-Mu dengan matanya–(dari Al-Futuhat al-Makiyyah, I, hlm. 108; 3, hlm. 195, 287, 443)[]

(* Sumber : Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyub, Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Anshari (Ibn al-Dabbagh); “Mari Jatuh Cinta Lagi, Kitab Para Perindu Allah”, 2011)

Yang seirama : Larik-larik Rindu Membara untuk-Nya (5)

————————————-  # Judul-judul catatan dengan tema lainnya, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Jalan Suluk, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, Qalb, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, syair cinta, syair cinta sufistik dan tag , , , , . Tandai permalink.