Ridha kepada Allah Ta’ala dan Kematian

* Catatan-catatan sebelumnya, berjudul :

[1] Keridhaan Allah, dan Hadiah dari-Nya

[2] Keridhaan Allah | Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq

“Abdul Wahid bin Zaid r.a ditanya,”Manakah yang lebih utama diantara 2 orang ini : Seorang senang hidup selamanya agar bisa taat kepada-Nya, dan seorang lagi ingin segera mati demi rindu kepada-Nya?”

“Tidak dua-duanya,” jawab Abdul Wahid,

“Tetapi yang utama adalah seorang yang menyerahkan perkaranya kepada Allah Swt, dan ia berdiri di atas jejak ridho kepada Allah dengan benar. Bila ia dihidupkan lama ia pun senang, begitu pula jika ia harus mati ia pun senang. Itulah derajat rela** kepada Allah Ta’ala, dan perilaku orang yang ma’rifat kepada-Nya.”[]

(* Sumber : “Menjelang Ma’rifat” – Haalatu Ahlil Haqiqoh Ma’Allah; Syeikh Ahmad ar-Rifa’y);

** Rela (Al-ridha) merupakan salah satu maqam para penempuh Jalan Cinta. Hakikat cinta adalah seorang pecinta merasa senang dengan segala yang datang dari Kekasihnya.”-(Abd al-Rahman Ibn Muhammad al-Anshari (Ibn al-Dabbagh), dalam Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyub/ “Mari Jatuh Cinta Lagi, Kitab Para Perindu Allah”, 2011);

# Catatan-catatan terkait tulisan Syeikh Ahmad ar-Rifa’y yang lainnya, berjudul :

[1] Demi Mencintai-Nya | Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

[2] Hanya Diri-Mu | Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

[3] Berserasi Dengan Allah Swt | Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Jalan Suluk, Kematian, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.