Cinta dan Takut | Suluk

“Kekasih hati adalah Allah Swt.”

Syaikh Abu Bakr al-Wasithy r.a berkata,”Posisi cinta lebih di depan dibanding posisi takut. Siapa yang ingin masuk dalam bagian cinta, hendaknya ia selalu husnudzan kepada Allah Swt dan mengagungkan kehormatan-Nya.”

Abu Abdullah an-Nasaj r.a mengatakan,”Setiap amal yang tidak disertai cinta kepada Allah Swt, tidak bisa diterima.”

“Siapa yang mencintai Allah Swt, maka Dia mengujinya dengan berbagai cobaan. Dan siapa yang berpaling dari-Nya pada selain-Nya, ia terhijab dari-Nya dan gugur dari hamparan para pecinta-Nya.”

Abdullah bin Zaid r.a berkisah,”Saya sedang bertemu dengan lelaki sedang tidur di atas salju, sementara di keningnya bercucuran keringat. Aku bertanya,”Hai hamba Allah! Bukankah sangat dingin!” Lalu ia menjawab,”Siapa yang sibuk mencintai Tuhannya, tidak pernah merasa dingin.” Lalu, apa tanda pecinta itu?” tanyaku. “Merasa masih sedikit atas amalnya yang banyak, dan merasa meraih banyak walau mendapatkan sedikit karena datang dari Kekasihnya,” jawabnya.

“Kalau begitu beri aku wasiat.”

“Jadilah dirimu hanya bagi Allah, maka Allah bakal bagimu.”[]

(* Sumber : “Menjelang Ma’rifat” – Haalatu Ahlil Haqiqoh Ma’Allah; Syeikh Ahmad ar-Rifa’y);

Sebagian para cendekiawan yang bijak mengatakan : “Barangsiapa dianugerahi suatu kecintaan, tetapi dia tidak mengimbanginya dengan sifat khasyyah (rasa takut), maka ia adalah orang yang terpedaya.

Telah diriwayatkan bahwasanya Al-Fudhail mengatakan al-hubbu (cinta) afdhalu (lebih mulia) minal khaufi (daripada rasa takut).

Telah diterima pula cerita dari Ismail bin Muhammad dari Zubair Al-Bisri, katanya : “Aku bertemu Sya’wanah dan ia berkata kepadaku,’Alangkah baiknya tarekatmu, sayang sekali engkau mengingkari mahabbah (cinta) itu.”

Jawabku kepadanya : “Sekali-kali tiada aku bermaksud mengingkari mahabbah itu.”

Lalu ia bertanya kepadaku : “Apakah engkau mencintai Tuhanmu?”

Aku menjawab tegas : “Ya!”

Maka ia berkata : “Mengapa engkau merasa takut bila Allah tidak mencintaimu, sedang engkau mencintai-Nya?”

Kujawab : “Aku mencintai-Nya karena karunia baik yang dianugerahkan kepadaku, dari ma’rifat-Nya dan aneka nikmat-Nya, sedang pada diriku masih terdapat dosa-dosa dan inilah yang membuatku takut bila Dia tidak mencintaiku karena kesalahan-kesalahan itu.”

Tiba-tiba pingsanlah Sya’wanah (sang wanita tersebut) dan setelah siuman kembali ia berkata : “Zih (yakin dan benar).”

Abu said r.a berkata : “Alangkah baiknya apa yang dikatakan orang ini, bahwa inilah kata-kata yang benar!”[]

(* Sumber : Ath-Thariqu Ilallaah/ “Napak Tilas Jalan Allah”, Asy-Syekh Abdul Halim Mahmud, 1994);

# Catatan-catatan lain yang terkait, berjudul :

[1] Hanya Allah Yang Berhak Dicintai (Imam Al-Ghazali)

[2] Engkau, milik para pecinta-Mu

[3] Cinta Allah | Imam Al-Ghazali

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Hati, Jalan Suluk, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, Qalb, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.