Mengingat Mati – bagian (1)

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,”Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”(HR. An-Nasa’i dan Ibn Majah; di-hasan-kan oleh At-Turmudzi; juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Umar bin al-Khaththab)

At-Taymi mengatakan,”Ada 2 hal yang memutuskan aku dari kenikmatan dunia, yaitu mengingat kematian dan mengingat keadaan ketika berdiri di hadapan Allah Swt.”(HR. Ibn Abi ad-Dunya)

Anas r.a menuturkan bahwa Nabi Saw telah bersabda,”Perbanyaklah mengingat kematian, karena hal itu dapat membersihkan dosa dan menjadikan zuhud di dunia. Jika kalian mengingatnya ketika kaya, ia akan menghabiskan harta itu ( di jalan Allah); jika mengingatnya ketika dalam keadaan miskin, ia akan menjadikan kalian ridha akan kehidupan.”

Anas r.a menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Sebaik-baik kezuhudan di dunia ini adalah mengingat kematian, dan sebaik-baik ibadah adalah tafakur. Oleh karena itu, barangsiapa yang sibuk mengingat kematian, dia pasti akan menjumpai kuburannya seperti salah satu taman surga.”(HR. Ad-Dailami)

Qatadah bertutur bahwa pernah dikatakan kepadanya,”Keberuntunganlah bagi orang yang mengingat saat kematian.”

‘Atha al-Khurasani menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah berjalan melewati suatu majelis yang diwarnai dengan canda tawa yang cukup keras. Beliau lalu bersabda,”Siramlah majelis kalian itu dengan pengeruh kenikmatan!” “Apa pengeruh kenikmatan itu?” tanya mereka. Beliau menjawab,”Kematian.”

Abu al-Fadhl at-Thusi dalam Uyun al-Akhbar melalui jalan Ibrahim, juga Ibn An-Najjar dalam Tarikh Baghdad jalan Hadbah meriwayatkan hadits marfu dari Anas r.a yang berbunyi,”Sesungguhnya Malaikat maut akan melihat wajah semua hamba manusia ini setiap hari 70 kali pandangan. Jika seorang hamba sedang tertawa, sementara Malaikat maut diutus kepadanya, dia berucap,’Aneh, aku diutus kepadanya untuk mencabut nyawanya, sementara dia tertawa.’

Sufyan pernah mengisahkan,”Seorang tua pernah memberitahu kami, bahwa Rasulullah Saw pernah berwasiat kepada seseorang seraya bertutur,’Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hal itu akan menghiburmu dari (kedukaan) selain itu.’

Ka’ab pernah menuturkan,”Barangsiapa yang mengenal kematian, segala musibah akan terasa ringan baginya.”

‘Ammar menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,”Cukuplah kematian itu sebagai peringatan.”(HR. Ath-Thabrani)

Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Ahmad dalam Al-Zuhd menuturkan bahwa Abu ad-Darda pernah berkata,”Barangsiapa yang paling banyak mengingat kematian, pasti akan sedikit kedengkiannya dan sedikit pula kegembiraannya.”

Ibn Abi ad-Dunya meriwayatkan bahwa Raja’ ibn Haywah mengatakan,”Tidaklah seorang hamba banyak mengingat kematian melainkan dia meninggalkan kesenangan dan kedengkian.”

Dikatakan,”Ya Rasulullah, adakah seseorang yang digiring bersama para syuhada?” Beliau menjawab,”Ya, yaitu orang yang mengingat kematian pada siang dan malam hari tidak kurang dari 20 kali.”

Malik ibn Dinar menuturkan bahwa Hakim pernah mengatakan,”Mengingat kematian dalam hati cukup dapat menghidupkan amal perbuatan.”

Shaffiyah mengatakan bahwa ada seorang wanita yang megeluhkan kekerasan hatinya kepada A’isyah r.a. ‘A’isyah lantas menuturkan,”Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya ia akan dapat melunakkan hatimu.”

Umar ibn al-Khaththab menuturkan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw,”Siapakah orang mukmin yang paling cerdik?” “Yaitu orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya menghadapi masa-masa setelahnya. Merekalah orang-orang yang paling cerdik.” jawab beliau.

Syidad ibn Aws mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,”Orang cerdik adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan beramal sebagai persiapan untuk masa setelah kematian. Sementara orang lemah adalah orang yang menundukkan dirinya pada hawa nafsunya tetapi berharap kepada Allah.”(HR. Ibn Abi ad-Dunya)

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Tidaklah seorang hamba meninggal melainkan dia akan menyesal.” Para sahabat bertanya,”Apa yang disesalkannya itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab,”Jika dia seorang yang berbuat baik, dia menyesal mengapa tidak menambah amalnya. Jika seorang yang berbuat kejahatan, dia menyesal mengapa tidak melepaskan diri dari semua urusan dunia.”[]

(* Sumber : Syarh ash-Shudur bi Syarh Hal al-Mawta wa al-Qubur/ “Ziarah ke Alam Barzakh” (2009), Imam Jalaluddin as-Suyuthi)

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Hadits, Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Jalan Suluk, Kematian, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.