Catatan Sufistik Tentang Sakit | Suluk

[Sebuah pembahasan eksploratif dari Zaprulkhan, terhadap Risalah Al-Mardha pada Kitab Lama’at dalam Risalah An-Nur dari Bediuzzaman Said Nursi]

“Untuk orang-orang yang tengah dirundung suatu penyakit dan sedang mencari pengobatan suci melalui cahaya hikmah Ilahi. Percayalah tatkala penyakit merengkuh dirimu, sang malaikat kebajikan tersenyum bahagia sedangkan iblis menangis berduka. Namun sewaktu kesehatan menyambangi dirimu, aku khawatir malaikat-malaikat itu meratap dukanya sementara iblis tertawa gembira.”

Apapun bentuk penyakit yang kita alami dalam kehidupan ini merupakan sebentuk kasih sayang Ilahi kepada hamba-hamba-Nya. Kasih sayang itu bisa berupa menghapus segala kesalahan dan dosa, serta melipat gandakan pahala. Bisa berupa penjagaan Allah kepada kita dari berbagai kemaksiatan dan menyebabkan doa-doa kita menjadi mustajab. Juga akan mengajarkan kepada kita agar pasrah kepada suratan takdir Tuhan, menatap wajah kematian secara jernih, mendidik kita tentang kearifan hidup, mendekatkan kita pada singgasana Tuhan.

Tuhan sengaja mengirimkan penyakit ke tengah-tengah kehidupan manusia untuk mengguncangkan ranah kepalsuan dan ketenangan hidup kita, supaya benih-benih kearifan dengan mudah bisa bersemi dan mekar dalam taman jiwa kita.

Secara metaforik, penyakit itu laksana badai pawana yang menghancurkan bunga-bunga yang kering dan layu untuk menumbuhkan tunas-tunas baru yang indah menawan dan mempesona. Atau bagaikan ratapan musim gugur yang menakutkan, menggelisahkan, mencemaskan, namun dibaliknya tersembunyi senyuman musim semi yang amat melegakan, menyenangkan, sekaligus menggairahkan.

Penyakit itu merupakan anugerah, karunia, dan mahkota kemuliaan dari Sang Pencipta Yang Mahaasih lagi Maha Penyayang.

“Sesungguhnya kehidupan manusia baru menjadi murni dengan hadirnya musibah dan ujian, serta baru menjadi suci dengan adanya penyakit dan cobaan. Semua itu menjadikan kehidupan mencapai kesempurnaan dan kekuatan, menjadi meningkat dan produktif, serta mampu meraih tujuan dan misinya. Sehingga dengan demikian, wajah kehidupan telah menunaikan tugas kehidupannya. Sebaliknya, kehidupan yang hanya berteman kesenangan dan kemewahan, hanya bergembira di atas ranjang kenikmatan yang jauh dari berbagai rintangan dan tantangan, kehidupan yang demikian merupakan potret kehidupan yang lebih dekat kepada ketiadaan dan menjadi keburukan murni, ketimbang kepada eksistensi atau keberadaan dan menjadi kebajikan murni.”

Penyakit dalam kehidupan kita jika dihadapi dengan ketenangan, kesabaran, kepasrahan bahkan rasa syukur, maka penyakit itu pasti menjanjikan mahkota kebesaran, kemuliaan, keagungan, dan penghormatan di atas kepala kita sebagai bentuk kasih sayang Ilahi. Bagaimana tidak dikatakan mahkota, kalau dengan perantara penyakit itu kedudukan anda menjadi sangat istimewa di alam malakut dan di hadapan Tuhan? Bagaimana tidak dikatakan anugerah jika dengan penyakit yang anda derita bukan hanya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan anda yang dihapuskan oleh Allah, melainkan juga pahala-pahala kebajikan anda dilipat gandakan oleh-Nya, bahkan setiap detik nafas kehidupan yang anda lalui bersama penyakit sama nilai pahalanya dengan satu hari ibadah? Bukankah penyakit layak disebut karunia apabila bersama penyakit itu anda mampu menatap wajah kematian secara jernih, mendidik anda tentang kearifan hidup, dan membuat anda mampu memahami rahasia kehidupan?

Sayidina Ali r.a berkata,”Sungguh aku tidak pernah menyaksikan sesuatu yang pasti akan tersentuh kepunahan tetapi dianggap abadi sebagaimana halnya kehidupan duniawi dan aku tidak pernah pula menyaksikan sesuatu yang memiliki kepastian mutlak namun disangka tidak akan datang seperti halnya kematian.” Beliau juga berkata,”Aku takjub melihat orang yang tertawa ketika mengantarkan jenazah, padahal jenazah itu juga merupakan akhir kehidupan mereka.” Dalam konteks ini, menurut Said Nursi, penyakit hadir dalam kehidupan kita untuk mengingatkan sekaligus mempersiapkan datangnya kematian, walaupun penyakit tidak pasti mengantarkan kita menuju pintu kematian. Inilah hikmah penyakit kali ini, yakni agar kita semua waspada dan bersiap-siap menyambut datangnya kematian. Penyakit menyadarkan tentang maut dan alam akhirat sehingga menyebabkan waspada dan berpacu dalam kebajikan untuk bekal di negeri keabadian. Penyakit yang Allah kirimkan kepada kita semua itu sejatinya merupakan wujud kasih sayang-Nya yang istimewa kepada kita yang lebih sering lalai ketimbang ingatnya pada kematian.

Dalam penyakit tersembunyi kasih sayang Ilahi, karena kalian terjaga dari kelalaian dan kemaksiatan, serta selalu merenungkan wajah kematian dan negeri keabadian. Sedangkan teman-teman kalian malah larut dengan berbagai kemaksiatan bersama kesehatan yang mereka rasakan. Karena itu, derita penyakit yang kalian rasakan ini merupakan kesehatan bagimu (bimatsaabati shihatin laka), sementara nikmatnya kesehatan yang dirasakan oleh teman-teman kalian merupakan penyakit bagi mereka (bimatsaabati marodhin lahum). Teguklah pengobatan suci yang tercermin dalam keimanan disertai taubat, istighfar, shalat, dan ibadah. Saat kita tetap senantiasa melakukan taubat dan istighfar, mengerjakan shalat dan ibadah-ibadah lain di waktu sakit, Dia akan memandang kita dengan pandangan bangga sehingga akan menanamkan kecintaan dalam jiwa kita kepada-Nya semata.

Allah melemparkan penyakit-penyakit jasmani untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ruhani kita. Dia lumpuhkan tubuh kita dengan aneka penderitaan demi mengusir penyakit-penyakit qalb dalam jiwa kita. Dia hempaskan diri kita dalam kelemahan, ketidak berdayaan, dan kehina dinaan yang tak tertahankan agar kepongahan, kebesaran, kekuasaan, dan kesombongan keluar dari perasaan, benak, batin, dan seluruh sendi kehidupan kita. Saat penyakit menerpa, kebanyakan manusia bersimpuh di bawah payung kekuasaan Ilahi. Penyakit memang sengaja Allah lemparkan agar mereka mampu merasakan kelemahan dan ketidak berdayaan mereka sehingga mengantarkan mereka bersimpuh memohon pertolongan Allah, baik melalui lisan maupun bahasa kenyataan yakni ketidak berdayaan yang mereka alami itu sendiri.

Kapankah seseorang mampu menatap betapa berharganya nilai kehadiran sang waktu secara tepat, akurat, dan jernih? Menurut Said Nursi, saat kenestapaan hidup mengunjungi kehidupan manusia, terutama sewaktu penyakit menyambangi dirinya. Kesenangan dan kegembiraan, keglamouran dan kemewahan hidup, kemenangan dan kekuatan, tawa dan senyuman, kelapangan dan kesehatan acapkali membuat kebanyakan kita lengah terhadap putaran waktu.

Ketika sehat, putaran sang waktu berjalan sangat cepat dan berlalu bagaikan kilat yang menyambar. Sewaktu sakit, roda waktu berjalan teramat lambat, bagaikan seekor kura-kura yang merangkak. Pada titik inilah, kesengsaraan atau penyakit menawarkan sebuah perspektif yang sangat jernih untuk menatap hakikat sang waktu. Kita benar-benar menghayati, merasakan, bahkan mengalami gerak eksistensial waktu secara psikologis, bukan hanya larut di dalamnya tanpa kesadaran sedikit pun. Dalam bahasa Martin Heidegger, kita betul-betul berenang dalam kolam waktu, bukan cuma mengikuti arusnya semata. Dalam kesedihan dan kenestapaan, kita secara utuh menyadari bergulirnya waktu itu. Aliran waktu dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, dari jam ke jam, bahkan dari detik ke detik, semuanya teramati oleh kita dengan jernih.

Apabila pengalaman kesenangan itu menyatukan kita dengan kebanyakan manusia yang hanyut dalam pusaran waktu tanpa sadar, maka pengalaman eksistensial dalam kesengsaraan itu justru memisahkan kita dari kerumunan orang kebanyakan. Kita menjadi terlempar dan terkucil. Tetapi keterlemparan dan keterkucilan itu mengoyak selubung-selubung yang menabiri eksistensi kita yang sesungguhnya selama ini. Itulah yang disebut momen eksistensial atau momen autentik. Dalam konteks inilah, menurut said Nursi, harus bermuara pada pertanyaan introspektif-kontemplatif : Apakah aku telah mengukir waktu-waktuku sebelum ini dengan aneka kebajikan dan pengabdian atau justru dengan keburukan dan kedurhakaan? Apakah bentangan usia yang telah kulalui selama ini sudah aku renda dengan puspa ragam kearifan dan ketaatan atau malah aku rajut dengan berbagai kelalaian dan kemaksiatan?

Waktu yang dulu tidak bernilai sedikit pun, kini menjadi begitu bermakna bagi anda. Bagaimana tidak sangat bermakna apabila dengan sejenak putaran  waktu itu bisa mengantarkan anda meraih puncak kebahagiaan atau kesengsaraan abadi, menggenggam kemenangan hakikat hidup atau kekalahan mutlak, membawa anda sampai ke singgasana Tuhan atau membuat anda terperangkap dalam cengkeraman setan, menyebabkan anda memasuki istana surga atau malah menjerumuskan anda ke dalam lembah neraka kelak?

Seandainya anda tidak mampu mensyukuri penyakit yang anda derita, bersabarlah bersamanya. Percayalah, penyakit itu akan mengajarkan kepada anda agar menghargai sang waktu dan mengukirnya dengan berbagai lukisan kebajikan, ketaatan, kearifan, dan pengabdian yang akan membuat Tuhan dan para malaikat-Nya tersenyum bangga sehingga membuahkan kebahagiaan abadi. Semoga.

Menurut Said Nursi, ada 2 macam ibadah : ibadah aktif dan ibadah pasif. Ibadah aktif adalah tercakup dalam segala bentuk ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh. Sedangkan ibadah pasif adalah ketika kita ditimpa ujian berupa penyakit yang mengantarkan kita mengadu, memohon, merintih, merasakan lemah tak berdaya dan bersimpuh dengan tulus ikhlas di hadapan Allah Yang Mahakasih lagi Maha Penyayang. Dalam kondisi demikian, menurut penglihatan orang-orang ‘arif yang ahli kasyaf, setiap menit yang kita lalui bersama penyakit itu nilai pahalanya sama dengan satu hari ibadah. Bahkan bagi orang-orang yang baik, shalih, atau alim, maka sedetik bersama penyakitnya sama nilai pahalanya dengan sehari ibadah. Hitungan ini bukanlah bertujuan untuk mengkalkulasi persoalan untung rugi semata, melainkan untuk memperjelas wawasan kita mengenai berlipat gandanya nilai pahala seseorang ketika sedang dinaungi penyakit.

Lebih jauh, Said Nursi sebenarnya mengajak setiap orang yang sedang sakit untuk memperhatikan sesuatu yang lebih esensial yaitu kasih sayang Allah di balik penyakit itu sendiri. Argumentasinya begini : Bukankah yang mendatangkan penyakit sehingga membuahkan pahala yang berlipat ganda sejatinya adalah Dia Sang Penguasa semesta? Bukankah ketika berteman kesehatan yang panjang, kita lebih sering menghabiskan waktu-waktu kita dalam permainan, senda gurau, kelalaian, kesia-siaan, bahkan tidak jarang kemaksiatan? Haruskah kita membenci kasih sayang Allah yang dibungkus penderitaan padahal bersama kesehatan kita semakin larut dalam kealpaan?

Sungguh, seekor kuda lebih baik dipecut dengan keras sehingga menjadikannya kuat, gesit, tangkas, dan memenangkan perlombaan pacuan kuda, daripada dibelai terus menerus namun justru membunuh karakter dirinya sebagai hewan berpacu. Dengan alasan inilah, Said Nursi menasihatkan kepada kita semua yang tengah dirundung penyakit untuk tetap bersyukur, bukan mengeluh.

“Jika Allah menurunkan ujian kepada seorang hamba yang beriman dengan suatu ujian penyakit pada tubuhnya, maka Allah memerintahkan para malaikat-Nya : ‘Catatlah amal kebajikan untuknya!’ Jika Allah menyembuhkan hamba itu, maka Dia telah membersihkan dan menyucikan segala kesalahannya. Dan bila hamba itu sampai meninggal dunia, maka Dia juga telah mengampuni dosa-dosanya dan memberikan rahmat kepadanya.”(HR. Ahmad)

Kalau anda disodori pertanyaan : Apakah kehidupan dunia dengan segala kesenangannya bersifat abadi atau sementara? Saya yakin anda memilih alternatif kedua, yaitu bersifat sementara. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah apakah wajah kehidupan anda sudah benar-benar mencerminkan kesadaran bahwa dunia ini bersifat sementara? Apakah penuturan, sikap, dan tindakan anda telah betul-betul memperlihatkan penghayatan anda bila kesenangan duniawi ini tidak abadi?

Anda tahu bahwa dunia tidaklah kekal, namun kecintaan buta anda terhadapnya menunjukkan seakan dunia abadi. Anda pun  memahami bahwa seluruh kesenangan dunia tidak layak untuk dicintai qalb anda, namun lagi-lagi hati anda sudah begitu terikat kepadanya.

Tatkala ujian datang, kesenangan berubah menjadi kesengsaraan, kemewahan berganti kemiskinan, kesehatan menjelma penyakitan, dan senyuman bertukar tangisan, anda bukan sekadar mengetahui, mengerti, dan memahami melainkan juga merasakan dan mengalami bahwa dunia tidak kekal. Anda mesti memberi keputusan eksistensial, sebab satu waktu anda yang harus meninggalkannya atau dunia yang akan meninggalkan anda lebih dulu.

Jangan salah paham. Said Nursi tidak melarang kita untuk mencintai seluruh kesenangan dunia dalam segala bentuknya. Yang dipersoalkan Nursi adalah kecintaan kita pada dunia yang didasarkan pada kepentingan ego atau hawa nafsu semata.

Lalu, bagaimana bentuk kecintaan yang dibenarkan oleh agama? Nursi menguraikan, singkatnya, cintailah dunia beserta isinya tidak untuk diri mereka sendiri tetapi atas nama Pencipta mereka dan makna yang mereka kandung. Namun, permasalahan yang acapkali ditemukan dalam kehidupan manusia ketika mereka bergelut bersama kemewahan dunia dalam keadaan sehat, mereka melupakan prinsip itu. Mereka menikmati kehidupan duniawi bukan atas nama Allah tapi atas nama hawa nafsu mereka. Bukan dengan prinsip Ilahi tapi hanya dengan hasrat hewani. Bukan dilandasi kesadaran spiritual melainkan hanya karena kerakusan material belaka. Pada titik inilah, penyakit mesti hadir untuk memainkan perannya. 

Dalam perspektif Said Nursi, penyakit sengaja dihadirkan oleh Allah dalam kehidupan umat manusia untuk menyadarkan kita tentang ketidak abadian dunia. Kesadaran jernih itu hadir, terutama ketika anda sakit parah atau kronis. Allah sengaja kirimkan penyakit itu untuk menghancurkan seluruh hasrat palsu duniawi anda. Makanan dan minuman yang paling lezat kesukaan anda dulu, kini sudah tidak membuat anda berselera lagi. Semuanya terasa hambar, hampa, atau pahit di lidah anda. Bahkan, kemewahan, kekayaan, kesenangan, dan pangkat jabatan yang dulu begitu menjadi obsesi anda, hari ini menjadi hilang pesonanya. Penyakit itu membawa anda dari level pengetahuan menuju penghayatan, dari pemahaman menuju merasakan, dan dari pengertian memasuki wilayah pengalaman. Ternyata derita penyakit yang anda rasakan mampu mendidik anda untuk mencicipi secercah kearifan hidup.

Imam Al-Ghazali berkata bahwa jika pengetahuan itu laksana kita melihat kobaran api (karu’yatin nar), maka kearifan adalah bagaikan masuk langsung ke dalam kobaran api tersebut (kal ishthila’i biha). Mengikuti ilustrasi ini, maka dengan penyakit itu anda dilemparkan ke dalam api kesadaran qalb anda yang hakiki.

Said Nursi menggambarkan penyakit sebagai mursyid yang memberi peringatan dan nasihat kepada orang-orang yang sakit. Penyakit bertugas sebagai penasihat ruhaniah atas ketidak kekalan hidup duniawi. Allah menghadirkan ujian dalam bentuk penyakit sebagai teguran kepada kita. Jika dengan hilangnya dunia dalam kehidupan orang lain atau perginya orang itu terlebih dulu meninggalkan segala kesenangan duniawi merupakan isyarat teguran yang lembut, maka dengan penyakit, Allah sengaja menegur kita dengan secara paksa. Kesusahan hidup dan penyakit sengaja Allah kirimkan kepada kita untuk memperingatkan keteledoran, kealpaan, kesalahan, dan menjaga kita dari perbuatan maksiat. Ujian berupa penyakit merupakan sebentuk peringatan Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang sedang lalai.

Lagi-lagi, ungkapan pujian syukur kepada-Nya sebab penyakit itu merupakan sebentuk kasih sayang-Nya, walaupun secara jasmaniah terasa sangat menyakitkan. Apabila penyakit itu teramat memayahkan dan menyiksa kita hingga tak tertahankan, Nursi menasihati kita untuk berlindung kepada Allah agar Dia berkenan mengaruniai benteng kesabaran. Ulama Sufi, Al-Harits Al-Muhasibi berpesan,“Apabila kalian ditimpa ujian oleh Allah dengan suatu kesusahan, kepayahan, dan musibah, maka kalian harus menyongsongnya dengan kesabaran. Meskipun terasa sangat pahit, kalian mesti menyadari bahwa semua itu merupakan bentuk perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya. Ketahuilah, ujian yang Dia hadirkan dalam kehidupanmu adalah penyaksian-Nya kepadamu. Saat itu Dia selalu memandangmu.” 

Ketika Dia menurunkan prahara ujian, maka saat itulah Dia memberikan “perhatian yang khusus”. Pengetahuan dan penglihatan-Nya, penyaksian dan pengawasan-Nya benar-benar terfokus kepada hamba-hamba-Nya yang sedang patah jiwanya bersama ujian yang Dia kirimkan. Allah mengkhususkan pandangan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang terluka. Tatkala kita sakit, Allah betul-betul memperhatikan kita. Kita harus merasakan bila saat itu Allah sedang mencurahkan pandangan kasih sayang-Nya secara istimewa kepada kita. Nursi berkata,”Melalui penglihatan keyakinan, saat sakit engkau tidak berada dalam kesendirian dan keterasingan, sebab penyakitmu ini menjadi sarana bagi datangnya tatapan kasih sayang Allah kepada dirimu. Dan tatapan tersebut telah melampaui segalanya.”

Dengan ungkapan tersebut, Nursi mengajak kita bukan hanya memperhatikan perlakuan istimewa Allah kepada kita sewaktu sakit, tapi juga mendidik kita agar pengabdian kita kepada-Nya tidak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang datang kepada kita : entah itu kekayaan atau kepapaan, kebahagiaan atau kesengsaraan, kelapangan atau kesempitan, senang atau susah, ataupun sehat atau sakit. Nursi mengajak kita untuk melampaui hal-hal tersebut dan memasuki pelataran wilayah orang-orang yang jatuh cinta, maqam muhibbin. Nursi ingin membawa kita pada perasaan bangga seperti yang dikatakan oleh pujangga Sufi Persia, Sa’di Shirazi di hadapan Tuhan : “Jika pandangan kasih sayang-Mu menaungi kepalaku, maka bagiku langit berada di tingkat yang paling rendah. Sungguh, satu berkas sinar keagungan perhatian-Mu sudah cukup bagiku ya Allah. Karena pandangan sekilas dari Sang Kekasih sudah cukup untuk orang yang mabuk cinta.”

Ibn Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dan Imam Al-Bayhaqi dalam Asy-Syu’ab menuturkan bahwa Abu ad-Darda berkata,”Aku mencintai kemiskinan sebagai wujud sikap tawadhu kepada Tuhanku. Aku mencintai kematian sebagai wujud kerinduanku kepada Tuhanku. Aku pun mencintai sakit sebagai penghapus kesalahanku.”

Orang-orang bijak mengatakan bahwa salah satu alasan kebanyakan manusia tidak mampu untuk bersabar bersama kenestapaan hidup atau saat dalam sebuah permasalahan adalah karena mereka tidak dapat melihat hikmah yang tersembunyi di dalamnya. Padahal, dalam sebuah kisah disebutkan bahwa seorang guru Sufi berkata,”Ada sebutir mutiara yang tengah diasah dalam dirimu dan suatu waktu percikan cahayanya akan menyinari sekelilingmu.”

Sampai di sini mungkin terlontar : Mengapa untuk menyingkap hikmah-hikmah kehidupan manusia, harus melalui sesuatu yang menyakitkan? Jawabnya : umumnya kebanyakan kita sering kali mengingkari nikmat-nikmat yang Allah berikan ketika nikmat itu tengah bersama kita.

Seandainya penyakit tidak mengunjungi kehidupan manusia, niscaya mereka tidak akan mengetahui nikmatnya kesehatan. Kita merasakan betapa berharganya nikmat sehat sewaktu sakit mengunjungi hari-hari kita. Penyakit, apapun bentuknya, boleh jadi semua itu merupakan peringatan Allah kepada kita untuk mensyukuri kenikmatan sehat yang telah Dia anugerahkan kepada kita dalam waktu yang amat panjang, namun selalu kita lupakan atau belum juga kita syukuri.

Rasulullah Saw bersabda,”Dua kenikmatan yang diabaikan banyak orang : kesehatan dan waktu luang.”(HR. Bukhari, no. 5933)

Rasulullah Saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit kecuali Allah menggugurkan dosa-dosa sebagaimana daun pohon yang berguguran.”(HR. Bukhari, no. 5647)

Said Nursi  mengumpamakan penyakit dengan sabun pembersih yang bertugas membersihkan keruhnya noda-noda kelalaian yang mengotori jiwa, menghilangkan buruknya kesalahan-kesalahan dan menyucikan dosa-dosa yang melekat pada diri kita. Allah sengaja menghadirkan bermacam-macam penyakit kepada kita dalam rangka membersihkan dosa-dosa yang kita kerjakan.

Kita harus mengucapkan puji syukur kepada Allah atas penyakit yang Dia kirimkan kepada kita. Mengapa? Paling tidak ada 2 alasan untuk menjelaskan hal ini :

1. Tidak setiap orang mau dan mampu melakukan taubat atas dosa-dosa yang telah mereka kerjakan. Padahal dosa-dosa ini akan mendatangkan azab yang sangat mengerikan, lebih-lebih di akhirat kelak. Kalaupun bertaubat, biasanya taubat kita tidak sepenuh hati, sehingga dosa-dosa kita belum terhapuskan juga. Untuk itulah, sebelum malaikat maut menjemput kita, dengan kasih sayang-Nya Allah kirimkan penyakit kepada kita, sehingga ketika kita menghadap-Nya kita sudah bersih dari segala dosa-dosa dan terbebas dari siksaan-Nya. Dengan menurunkan penyakit pada kita sejenak di dunia ini, Allah membebaskan kita dari azab-Nya yang abadi di yaumul hisab kelak.

2. Tidak setiap orang terkena penyakit. Alasan kedua ini barangkali naif, tapi coba perhatikan fakta ini. Bukankah dalam kehidupan ini waktu sehat yang kita alami jauh lebih lama daripada masa sakitnya dan orang-orang yang sehat jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang sakit? Dan yang lebih menakjubkan lagi, bukankah sering kita saksikan orang-orang yang ahli maksiat tidak pernah tersentuh penyakit sedikit pun sampai sang maut menjemput nafas kehidupan mereka? Mereka enggan untuk rukuk dan sujud kepada Allah. Mereka pun merasa bangga melakukan berbagai kedurjanaan dalam mendurhakai Tuhan. Anehnya, kehidupan mereka tenang-tenang saja dan tidak pernah diuji penyakit sampai wajah kematian mengunjungi mereka. Gejala apakah ini? Rasulullah Saw memberi petunjuk kepada kita,“Apabila engkau menyaksikan seseorang yang dianugerahi apa saja yang disenanginya namun ia tetap berada dalam kemaksiatannya, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah Istidraj.”(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi). Bukan hanya sabda Nabi Saw, Al-Qur’an pun menguak rahasia ini : “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami akan menarik mereka dengan perlahan-lahan ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.”(QS [7]:182-183), dan “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.”(QS [3]:178). Oleh karena itu, sering kita lihat dalam kehidupan ini orang yang sedang berada dalam puncak kesenangannya, menikmati kemewahan dan kedudukannya, namun tiba-tiba maut datang menjemput mereka. Kematian datang seketika saat mereka lalai kepada Tuhannya. Dari perspektif ini, semakin jelas bahwa penyakit yang Dia berikan kepada kita merupakan sebentuk kasih sayang-Nya yang terselubung tirai penderitaan untuk menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan membersihkan dosa-dosa yang kita lakukan di dunia ini “secara langsung”. Rasulullah saw bersabda,“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Dia langsung membalas dengan ujian atas dosa hamba itu di dunia ini juga.”(HR. Ahmad dan Thabrani) 

Pertanyaan : Secara spesifik, mengapa ketenangan, kedamaian, dan ketentraman hidup manusia diguncang Allah dengan berbagai prahara penyakit? Dengan ungkapan yang agak filosofis, mengapa Dia menciptakan duri-duri yang menyakitkan di sekeliling keindahan bunga mawar yang mempesona? Menurut Said Nursi, Allah menciptakan semesta jagat raya beserta isinya termasuk kehidupan manusia dengan segala pernak-pernik yang mewarnainya adalah untuk memanifestasikan Asma-asma-Nya secara aktual. Nursi berkata, jika kita melihat seluruh fenomena alam semesta dengan segala hal yang berada di dalamnya termasuk warna-warna kehidupan umat manusia melalui jernihnya kesadaran akal dan mata jiwa kita, niscaya kita akan menyaksikan stempel Asma-asma Allah terpahat pada setiap lembaran alam semesta dan kehidupan manusia secara transparan.

Dengan penyakit yang menyelubungi diri, apapun bentuknya, adalah untuk mengantarkan orang-orang yang sakit mengenal dan memahami kesucian Asma mulia Allah sebagai  Asy-Syaafi, Tuhan Yang Maha Menyembuhkan. Melalui perantaraan penyakit, kita dibuat lemah tak berdaya agar kita merintih, bersimpuh, serta berlindung ke hadirat keagungan Asma Allah, Asy-Syaafi ‘Sang Maha Penyembuh’. Perlindungan itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah melalui lisan Khalilullah Ibrahim a.s. : “Dan jika aku menderita sakit, maka hanya Dialah yang memberikan aku kesembuhan.”(QS Al-Syu’ara:80)

Melalui hikmah penyakit ini, Said Nursi menasihati kita yang sedang dilanda penyakit untuk tetap bersikap pasrah ke pangkuan Ilahi Rabbi. Mengapa? Nursi berkata, karena diri kita, keberadaan kita, organ-organ tubuh, semua perangkat jasmani dan ruhani yang kita miliki, hakikatnya secara jasmaniah dan ruhaniah bukan milik kita melainkan milik Sang Pencipta secara mutlak. Dia mempunyai hak sepenuhnya terhadap diri kita, sedangkan kita tidak dapat mengklaim hak apapun terhadap-Nya, Tuhan Yang Mahakuasa.

Cinta dan kasih sayang Tuhan acapkali menyapa hamba-hamba-Nya di luar hasrat keinginan manusia. Tuhan memiliki cara yang tak terhingga dalam membentangkan busana cinta-Nya kepada kita. Prahara kehidupan berupa kesulitan, kesengsaraan, kenestapaan, dan penyakit memang sering kali mengakhiri kesenangan, kegembiraan, ketenangan, dan kenikmatan hidup yang kita rasakan selama ini. Namun, satu hal yang pasti, bukankah tidak jarang penyakit itu juga yang telah menyelamatkan hidup kita yang tak keruan, berantakan, ugal-ugalan, dan tidak diridhai Tuhan sebelumnya? Penyakit merupakan sebuah karunia Ilahi bagi sebagian umat manusia, sekaligus hadiah terindah dari Tuhan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang untuk menjaga anda dari segala macam bentuk perbuatan yang tidak diridhai-Nya.

Melalui penyakit itu, Allah menginginkan supaya kita melabuhkan sejuta harapan, permintaan, dambaan, dan kebutuhan kita kepada-Nya semata. Kita dituntut untuk mengakui kelemahan kita dan kekuatan Allah, ketidak berdayaan kita dan keperkasaan-Nya, kefakiran kita dan kekayaan-Nya, kebutuhan kita dan keserba cukupan-Nya, serta kehina dinaan kita dan kemuliaan-Nya. Dengan penyakit, Allah mengantarkan kita berjumpa dengan kesejatian diri kita. Itulah salah satu momen terbaik dalam episode kehidupan kita sebagai hamba Tuhan. Syaikh Ibnu Athaillah r.a. berkata,”Sebaik-baik keadaan dalam rentangan episode kehidupanmu adalah saat-saat di mana engkau merasakan dan mengakui kebutuhanmu, serta engkau kembali menyadari hakikat kehina dinaan dirimu.”

Lebih lanjut, Said Nursi menguraikan bahwa melalui derita penyakit yang kita rasakan Allah akan mengantarkan kita memasuki lingkaran hamba-hamba-Nya yang istimewa. Dengan kata lain, ujian penyakit itu datang dalam rangka mengangkat derajat kita di hadapan Allah. Dia menurunkan ujian berupa penyakit itu sebagai pengganti kekurangan-kekurangan amal kebaikan kita. Bisa jadi amal-amal kebajikan yang kita kerjakan belum memenuhi syarat untuk mengantarkan kita menjadi hamba-Nya yang istimewa di sisi-Nya. Mungkin kita belum betul-betul ikhlas dalam mengabdi kepada-Nya. Atau barangkali masih sering terselip penyakit riya, sombong, dan ujub dalam ibadah-ibadah yang kita kerjakan walaupun tanpa kita sadari. Ibnu Athaillah r.a. berkata,”Adakalanya engkau mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah dengan berbagai cobaan yang Dia titipkan kepadamu, di mana engkau tidak bisa meraih kedudukan agung itu melalui ibadah-ibadah puasa dan shalatmu.”

Apabila Allah memberikan kesembuhan, sesungguhnya itu semua berkat karunia dan kemurahan-Nya.

Selain itu, penyakit mampu menyentuh aspek lahir dan batin kita, bahkan mampu menelisik ke dalam perasaan, hati, jiwa kita, sehingga dalam beribadah kita mempunyai kesadaran yang utuh mengenai ibadah yang sedang kita kerjakan. Shalat yang kita lakukan ketika sehat sangat berbeda sekali bobotnya dengan shalat yang kita jalani di waktu sakit. Begitu pula pengaduan, rintihan, doa, dan dzikir yang anda ucapkan saat anda jatuh dalam kubangan kepapaan, penyakit, dan ketak berdayaan hari ini, sungguh berlainan getarannya dengan kidung-kidung puja-puji dan doa-doa yang anda haturkan tatkala anda bersama kekayaan, kesehatan, dan kekuatan hari kemarin. Dengan ungkapan lain, penyakit itu Tuhan lemparkan ke tengah-tengah kehidupan umat manusia untuk menyaring manusia-manusia pilihan yang berkesadaran dari kerumunan manusia kebanyakan yang berkelalaian. Orang-orang ‘arif mengungkapkan bahwa sebutir kerikil amal-amal yang dilakukan dengan kesadaran utuh secara ruhaniah adalah jauh lebih mulia di sisi Allah daripada amal-amal lahiriah yang dikerjakan dengan kelalaian meskipun sebesar gunung.

Pada pelataran wilayah orang-orang yang jatuh cinta, maqam muhibbin, mereka tidak lagi melihat ujian tapi melihat Allah Sang Pemberi ujian. Orang-orang pada level ini tidak disibukkan oleh musibah tapi memperhatikan Sang Pencipta musibah. Bukan hanya ketika diuji dengan kesusahan hidup dan penyakit, tapi juga segala kesenangan dan kemewahan duniawi tidak lagi mampu memalingkan perhatian cinta mereka kepada Allah. Pengabdian mereka sudah terlepas dari segala kepentingan, baik kepentingan duniawi bahkan kepentingan ukhrawi. Kesedihan tidak membuat mereka berduka sebagaimana kesenangan tidak membuat mereka bersuka ria. Bagi mereka, wajah Sang Kekasih melampaui segalanya.

Siapapun yang hendak memasuki rumah Tuhan, ia mesti mereguk air penderitaan. Nestapa memang sengaja diberikan oleh Sang Kekasih agar si pecinta merasakan getar kerinduan kepada-Nya yang telah menorehkan luka itu. Kenestapaan itu berpuspa ragam bentuknya dan salah satunya adalah berupa penyakit-penyakit yang kita rasakan. Terlebih lagi untuk menggapai cinta Tuhan. Syarat untuk meraih cinta Tuhan adalah memeluk kenestapaan. Taman cinta itu akan berbunga kalau sang pecinta menitikkan air mata kerinduannya sehingga duri-durinya lebih menawan daripada mawar. Sebab sebuah duri dari taman cinta yang menusuk hati sang pecinta jauh lebih berharga ketimbang seratus mawar di taman duniawi.

Maulana Jalaluddin Rumi menyatakan,”Cinta memiliki taman-taman mawar di tengah-tengah tabir darah dan siapa pun yang merawat taman itu akan memetik bunga dari hati mereka sendiri.” Dalam konteks inilah, sesungguhnya penyakit-penyakit yang Allah titipkan kepada kita dalam kehidupan ini merupakan salah satu syarat untuk meraih cinta-Nya.[]

(* Disarikan dari : “Sakit Yang Menyembuhkan, Mereguk Kasih Allah di Balik Musibah Sakit”, Zaprulkhan, 2008)

^ Catatan yang terkait erat dengan catatan pada laman ini, berjudul :

A. Rela Melewati Pilihan Allah Swt

B. Musibah dan Ahli Musibah | Suluk

C. Hikmah Ujian (Syaikh Ibnu Athaillah) | Suluk

D. Sakit dan Kematian

# Catatan-catatan sufistik lainnya, berjudul :

[1] “Diam itu Emas” dan Menjaga Lisan | Catatan Sufistik | Suluk

[2] Catatan Sufistik tentang Pernikahan

[3] Catatan Sufistik tentang “Layla and Majnun” | Suluk

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Catatan Sufistik, cinta kepada Allah, Hati, Jihad Akbar, Qalb, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.