Jangan Pandang Manusia (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) | Suluk

* Catatan-catatan yang terkait erat dengan catatan pada laman ini, berjudul :

[1] Halangan Rintangan dalam Suluk : Condong kepada Makhluk | Penghalang Suluk : Makhluk

[2] Memandang Manusia dengan Mata Tak Butuh (Syaikh Abdul Qadir Jailani) | Suluk

[3] Sabar terhadap Perlakuan Manusia | Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

[4] Uzlah dan Uzlah Hati | Suluk

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata :

Dunia adalah penghalang dari akhirat, dan akhirat adalah penghalang dari Tuhan Pengatur dunia dan akhirat. Setiap makhluk adalah hijab dari Sang Pencipta Azza wa Jalla. Sekalipun engkau berdiri bersama-Nya, Dia tetap terhijab (tersekat) denganmu. Jangan menoleh pada manusia, juga pada dunia, dan apapun selain Al-Haqq Azza wa Jalla sebelum engkau sampai ke pintu Al-Haqq Azza wa Jalla dengan kaki nuranimu dan kesahihan zuhudmu akan selain-Nya, sambil berlepas dari segala hal, bingung di dalamnya, meminta pertolongan dan sokongan pada-Nya, seraya memperhatikan ketetapan terdahulu (preseden) dan ilmu-Nya. Jika memang hati dan nurani telah benar-benar sampai dan masuk menghadap-Nya, lalu Dia menghampirimu dan mendekatkanmu pada-Nya sambil memberi ucapan selamat, kemudian memberi kuasa padamu untuk menguasai hati manusia, memerikan otoritas perintah-Nya padamu atas mereka (hati manusia), dan menjadikanmu sebagai tabib penyembuh mereka, maka saat itulah engkau boleh menengok pada manusia dan dunia. Perhatianmu pada mereka merupakan nikmat tersendiri bagi mereka.

Dalam posisi sifat seperti ini, memungut harta dunia dari tangan mereka, lalu menyerahkannya pada orang-orang fakir serta mengambil penuh bagian rezekimu merupakan ibadah, ketaatan, dan keselamatan. Barangsiapa memungut dunia dengan posisi sifat seperti ini, maka hal itu tidak memberinya mudarat, bahkan sebaliknya malah menyelamatkan dan membersihkannya dari daki kotoran-kotorannya.

Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka ia harus mencurahkan diri dan hartanya untuk Al-Haqq Azza wa Jalla dan harus keluar lepas dari ikatan manusia dan dunia dengan segenap hatinya, sebagaimana keluarnya rambut dari adonan dan susu. Begitu pula ia harus lepas dari akhirat, dan apa saja selain Al-Haqq Azza wa Jalla. Ketika itulah, di hadapan-Nya setiap hak akan diberikan pada yang berhak. Engkau boleh makan bagian rezekimu dari dunia dan akhirat sambil duduk di pintu-Nya, sementara keduanya berdiri melayani.

Kaum wali tahu bahwa dunia telah ditentukan bagiannya, sehingga mereka pun enggan mencarinya. Mereka tahu bahwa derajat akhirat dan kenikmatan surga telah ditentukan bagiannya, maka mereka pun tidak mau menuntutnya demi meraihnya. Mereka tidak menginginkan apa-apa selain Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla. Jika masuk surga, mereka tidak akan membuka matanya, hingga mereka melihat cahaya Wajah Al-Haqq Azza wa Jalla.

Gemarilah menyepi (tajrid) dan menyendiri (tafrid). Barangsiapa yang hatinya sepi (kosong melompong) dari (kaitan) manusia dan sarana duniawi (al-asbab), maka ia tetap tidak akan bisa menempuh kesungguhan para nabi, kaum shiddiqin, dan kaum shalih, hingga ia puas hati menerima sedikit dunia dan menyerahkan sebagian besarnya pada tangan takdir. Jangan menuntut bagian yang melimpah, niscaya engkau akan binasa. Jika memang datang harta yang melimpah dari Al-Haqq Azza wa Jalla tanpa engkau berikhtiar mencarinya, maka engkau benar-benar beruntung.[]

(* Sumber : “Rahasia Mencintai Allah, Jalan Sejati Menuju Sang Khalik”, Syaikh Abdul Qadir Jailani, buku ke-1 dari Buku Trilogi “Rahasia Sufi Agung”, 2011)

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di akhlaq demi Cinta, cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Hati, Jihad Akbar, Qalb, sufism; tashawwuf, Suluk, Suluk Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.