Umar bin Khaththab r.a berkata :

[1] “Kemuliaan dunia dapat diraih dengan harta, dan kemuliaan akhirat dapat diraih dengan amal shalih.”

[2] “Sikap sayang terhadap sesama manusia adalah separuh kecerdasan, pertanyaan yang baik adalah separuh ilmu, dan pengaturan yang baik adalah separuh penhidupan.”

[3] “Lautan itu ada 4 macam :

1. Hawa nafsu yang berupa lautan dosa, yaitu kecenderungan jiwa untuk memenuhi keinginan-keinginan yang tidak dibenarkan oleh syariat,

2. Nafsu yang berupa lautan syahwat, yaitu nafsu amarah dengan tabiatnya yang cenderung mencari kenikmatan jasmani. Inilah yang menjadi habitat segala keburukan.

3. Kematian yang berupa lautan umur, yaitu kematian yang merupakan kumpulan umur-umur beserta lembaran-lembaran catatan amal,

4. Alam kubur yang berupa lautan penyesalan, yaitu alam barzakh yang memisahkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.”

[4] “Demi Allah, tidaklah aku diuji dengan suatu musibah* melainkan di dalamnya aku merasakan 4 nikmat dari Allah, yaitu :

1. Beruntung musibah itu tidak menimpa agamaku,

2. Beruntung musibah itu tidak lebih berat dari yang pernah menimpaku,

3. Beruntung musibah itu tidak menghalangi aku mendapatkan ridha Allah,

4. Aku mengharapkan pahala dari musibah yang menimpa diriku.”

[5] “Sekiranya aku tidak khawatir diduga mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya aku bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini termasuk penghuni surga. Mereka adalah orang fakir yang menanggung nafkah keluarga, istri yang diridhai oleh suaminya, istri yang menyedekahkan maskawinnya kepada suami, orang yang diridhai oleh kedua orangtuanya, dan orang yang bertaubat atas dosanya.”

[6] Umar bin Khaththab berkata :

1. Aku telah melihat semua teman, namun aku tidak mendapatkan seorang teman pun yang lebih utama daripada menjaga lisan**,

2. Aku telah melihat semua pakaian, namun aku tidak mendapatkan sehelai pun pakaian yang lebih utama daripada sifat wara’,

3. Aku telah melihat semua macam harta, namun aku tidak mendapatkan harta yang lebih utama daripada sifat qanaah (merasa cukup),

4. Aku telah melihat semua kebajikan, namun aku tidak melihat kebajikan yang lebih utama daripada memberi nasihat,

5. Aku telah melihat semua makanan, namun aku tidak menemukan makanan yang lebih lezat daripada kesabaran***.”

[7] “Sesungguhnya, Allah telah menyembunyikan 6 hal dalam 6 perkara, yaitu :

1. Menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya,

2. Menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan,

3. Menyembunyikan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan,

4. Menyembunyikan para wali (kekasih)-Nya di antara manusia,

5. Menyembunyikan kematian dalam umur,

6. Menyembunyikan shalat Wustha di antara shalat-shalat lain.”

[8] Umar bin Khaththab r.a berkata :

1. Siapa yang banyak tertawa**** maka akan berkurang kewibawaannya,

2. Siapa yang meremehkan sesama maka dia akan diremehkan orang lain,

3. Siapa yang menggemari sesuatu maka dia akan dikenal sebagai ahlinya (ahli di bidang yang digemarinya),

4. Siapa yang banyak bicara** maka banyak pula dosanya,

5. Siapa yang banyak dosanya maka sedikit rasa malunya,

6. Siapa yang sedikit rasa malunya maka sedikit pula sifat wara’-nya,

7. Siapa yang sedikit sifat wara’-nya maka akan mati hatinya.”

[9] Umar bin Khaththab r.a berkata :

1. Siapa yang meninggalkan perkataan yang sia-sia maka dia akan diberi hikmah,

2. Siapa yang meninggalkan pandangan yang berlebihan maka dia akan diberi kekhusyukan hati,

3. Siapa yang meninggalkan makan berlebihan maka dia akan dianugerahi nikmat beribadah,

4. Siapa yang meninggalkan tertawa**** yang berlebihan maka dia akan diberi kewibawaan,

5. Siapa yang meninggalkan senda gurau**** maka dia akan diberi kehormatan,

6. Siapa yang meninggalkan kecintaan terhadap dunia maka dia akan diberi kecintaan terhadap akhirat,

7. Siapa yang meninggalkan kesibukan mengintip aib orang lain*^ maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri,

8. Siapa yang meninggalkan obsesi untuk meneliti tentang bagaimana wujud Allah maka dia akan bebas dari kemunafikan.”

[10] Ada 10 perkara yang tidak akan sempurna tanpa didampingi oleh 10 perkara lainnya :

1. Akal tidak akan sempurna tanpa sifat wara’,

2. Amal tidak akan sempurna tanpa ilmu,

3. Kesuksesan tidak akan sempurna tanpa rasa takut kepada Allah,

4. Kekuasaan tidak akan sempurna tanpa sifat adil,

5. Kehormatan diri tidak akan sempurna tanpa kesopanan,

6. Kesenangan tidak akan sempurna tanpa rasa aman,

7. Kekayaan tidak akan sempurna tanpa kedermawanan,

8. Kefakiran tidak akan sempurna tanpa sifat qana’ah,

9. Kemuliaan nasab tidak akan sempurna tanpa sifat tawadhu (rendah hati),

10. Jihad tidak akan sempurna tanpa taufik (kesesuaian perbuatan hamba dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah).”[]

(* Sumber : Nashaihul ‘Ibad);

Tanda :

* : terkait dengan catatan, berjudul : Musibah dan Ahli Musibah | Suluk

** : terkait dengan catatan, berjudul : “Diam itu Emas” dan Menjaga Lisan | Catatan Sufistik | Suluk

*** : terkait dengan catatan, berjudul :Wajib dalam Suluk : Sabar  + Sabar dan Syukur | Jihad dalam Suluk

**** : terkait dengan catatan, berjudul : Adab Suluk | Tidak Bersenda gurau

*^ : terkait dengan catatan, berjudul : Adab Suluk | Hanya Peduli terhadap Aib Diri Sendiri

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs, Umar bin Khaththab r.a dan tag , , , , , , . Tandai permalink.