Ghibah sebagai Perbuatan Dzalim | Suluk

* Catatan yang berkaitan dengan catatan pada laman ini, berjudul :

[1] Catatan Sufistik tentang Menjaga Lisan dan “Diam itu Emas” | Suluk

[2] Adab Suluk | Bicara

[3] Bahaya Banyak Bicara | Suluk

Ghibah yaitu menyebut sesuatu yang ada pada diri seseorang yang tidak disukainya andaikata didengarnya, baik engkau menyebutnya dengan lisanmu, atau dalam bentuk tulisan ataupun dengan isyarat mata, tangan maupun dengan isyarat kepala.

Ghibah adalah membuka atau membeberkan aib dan kekurangan yang ada pada diri orang seperti cacat fisik, garis keturunan, perbuatan, perkataan, agama, hak milik seperti rumah, perhiasan, pakaian, atau hewan peliharaannya.

Ghibah termasuk perbuatan dzalim meskipun apa yang engkau katakan benar adanya.

Allah Swt befirman : “dan janganlah kamu saling berbuat ghibah. Adakah seorang di antara kamu yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentu kamu merasa jijik kepadanya.”(QS. al-Hujurat : 12)

Allah Swt mengumpamakan pelaku ghibah dengan pemakan daging manusia yang sudah mati. Dalam perumpamaan ini terdapat petunjuk bahwa kehormatan dan harga diri manusia adalah seperti darah dan daging. Hati manusia akan dipenuhi rasa sakit apabila kehormatannya dicederai, seperti halnya apabila naggota badan terluka.

Rasulullah Saw bersabda,”Jika padanya terdapat kekurangan seperti yang engkau katakan, maka engkau telah berbuat ghibah, dan jika hal itu tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya.”

Agar terhindar dari perbuatan ghibah, hendaklah engkau berfikir dan melakukan introspeksi diri : adakah aib dan kekurangan pada dirimu? Apakah dirimu telah sedemikian bersih dari dosa dan maksiat?

Abdullah bin Abbas r.a. berkata : “Apabila engkau ingin menyebut keburukan temanmu, maka sebutkanlah terlebih dahulu keburukan dirimu.”

Apabila engkau tidak suka keburukanmu diketahui dan dibicarakan oleh orang, maka mereka pun tidak menyukai jika engkau mengetahui dan membicarakan keburukan mereka. Oleh karena itu, tutupilah keburukan orang lain, niscaya Allah Swt akan menutupi keburukanmu.

Apabila engkau membeberkan aib dan keburukan orang lain, niscaya Allah Swt akan menurunkan orang-orang yang tajam lisannya dan mencemarkan kehormatanmu di dunia, kemudian Allah Swt akan mencemarkan namamu di akhirat kelak di hadapan semua makhluk-Nya.

Jika engkau melihat dirimu secara lahir dan batin, kemudian engkau tidak menemukan kekurangan, maka ketahuilah bahwa ketidakmampuanmu mengetahui aib dan kekurangan yang ada pada dirimu adalah puncak dari kebodohan, karena tidak ada aib yang lebih besar daripada kebodohan. Seandainya Allah Swt menghendaki kebaikan bagi dirimu, niscaya Dia akan menjadikanmu mengetahui segala aib dan kekuranganmu. Apabila engkau merasa puas dan rela akan segala aib dan kekurangan yang ada pada dirimu, sedangkan engkau tidak berusaha untuk memperbaikinya, maka keridhaanmu adalah puncak dari kebodohan dan kedunguanmu. |* Catatan yang berkaitan dengan erat dengan masalah aib diri, termuat dalam catatan berjudul : Adab Suluk | Hanya Peduli terhadap Aib Diri Sendiri

Umar bin Khaththab r.a berkata : “Hendaklah kamu sering menyebut nama Allah Swt, karena itu adalah obat. Dan jauhkanlah dirimu dari ghibah dan menyebut keburukan orang lain, karena itu adalah penyakit.”

(* Sumber : Maraqi al-Ubudiyyah, Syarah atas Kitab Bidayatu-l Hidayah-Imam Al Ghazali, Syaikh Nawawi al-Bantani);

# Daftar catatan-catatan lain, dengan tema berbeda, dapat dilihat di Reblogged : DAFTAR ISI

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Imam Al-Ghazali, Jihad Akbar, sufism; tashawwuf, Suluk, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.