Keharmonisan antara Syari’ah, Thariqah, dan Haqiqah

“Thariqah dan haqiqah hanya diperoleh melalui syari’ah, karena lahiriah merupakan jalan bagi batiniah. Oleh karena itu, barang siapa berpandangan bahwa aspek batiniah tidak diperoleh bersama amalan-amalan lahiriah dan dalam mengikuti taklif-taklif Ilahi, maka hendaklah ia mengetahui bahwa ia tidak melaksanakan aspek lahiriah dengan semestinya. Barang siapa ingin sampai ke aspek batiniah tanpa melalui aspek lahiriah, berarti ia tidak berada di jalan yang terang dari Tuhannya.”- Imam al-Khumaini r.a, dalam ‘Al-Fashsh al-Ayyubi;

Imam Malik mengatakan bahwa : “Seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.”, dan “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik. Barangsiapa menghimpun keduanya (syariat dan hakikat), ia benar-benar telah berhakikat.”

“Yang menjadikan syariat sebagai sampingan, tidak akan memperoleh sesuatu, walaupun dia sampai ke puncak langit.”- Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi;

* Catatan yang terkait dengan pembahasan di atas, berjudul Tashawwuf Terikat pada Al-Qur’an dan Sunnah

# Judul catatan-catatan lain dengan tema berbeda, dapat dilihat di Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ayatullah Rahullah Musawi Khomeini, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Petunjuk Suluk, sufism; tashawwuf, Suluk, Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, Tata Cara Suluk, Wajib dalam Suluk dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.