Sabar dan Syukur | Jihad dalam Suluk

[1] “dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.” [QS. Ibrahim (14):5];

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan & kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”..
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)

Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalam sabar, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi.

Ketika diberi ujian, maka dia tetap bersabar. Dia diuji guna mengungkap kebaikan yang ada dalam dirinya. Kemudian manakala ridha, maka itu berarti dia menerima ujian tersebut. Dia dipukul dengan kayu terbesar agar semua api menyala.

Orang yang bersyukur, apinya telah tampak sehingga tidak perlu lagi menyalakan kayu. Berbeda dengan orang yang sabar. Api orang yang bersabar masih perlu dinyalakan dengan kayu.

Memang ada di antara mereka yang apinya mudah menyala, karena batinnya telah kering dari syahwat. Namun ada pula yang sukar menyala, karena batinnya basah oleh syahwat. Demikian pula batu dalam kondisi lembab dan dipukul dengan kayu, maka ia tidak akan menyala. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[2] Syukur adalah keimanan hamba bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya dan berasal dari-Nya, sementara sabar adalah keimanan hamba bahwa dirinya adalah milik-Nya.

Syukur adalah lewat karunia dan nikmat, sementara sabar adalah lewat kesulitan dan kesukaran.

Dalam syukur, kita menyaksikan karunia yang berasal dari Allah. Dalam sabar, kita melihat Allah mendapatinya dalam posisi yang benar semata.

Syukur adalah menyaksikan kebaikan, karunia, kemurahan, kasih sayang dan rahmat-Nya. Sementara sabar adalah menyaksikan ketentuan-Nya.

Syukur adalah menyaksikan karunia Allah terhadap hamba-Nya, sementara sabar adalah menuntut kejujuran dari dirinya.

Syukur ibarat obat-obatan kimia yang dituangkan kepada emas sehingga menjadi emas, sementara sabar ibarat api yang membersihkan emas serta membersihkan karatnya akibat banyak dibakar tanpa campuran kimia.
Syukur adalah menyaksikan segala sesuatu sebagai milik-Nya, sedangkan sabar adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya setelah tertahan untuk dirinya sendiri.

Orang yang bersyukur menundukkan dirinya dengan kebajikan sampai merasa malu sehingga dia kembali kepada Tuhan, sementara orang yang sabar menundukkan dirinya dengan ujian sampai dia mudah dikendalikan sehingga dia pun bisa ta’at kepada Tuhan.

Orang yang bersyukur mengayunkan tangannya sambil mendekat sebagai rasa hormat, cinta dan rindu kepada Tuhan atas apa yang Dia perbuat kepadanya,
sementara orang yang sabar tetap di tempatnya sebagai bentuk kesetiaan kepada Tuhannya.

Syukur menyertai qalbu yang gembira karena kemurahan Allah, sementara sabar menyertai qalbu yang pedih karena menerima ketentuan Allah.

Kegembiraan adalah tunggangan qalb dalam berjalan menuju Allah SWT, sementara kepedihan adalah lautan yang diam sehingga membutuhkan kapal dan angin yang baik untuk berlayar. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[3] Ada yang bertanya tentang kedudukan syukur dan sabar, mana di antara keduanya yang lebih tinggi? Dalam hal ini, banyak pendapat yang telah dikemukakan para ulama terdahulu. Ada yang mengutamakan syukur serta ada pula yang mengedepankan sabar. Masing-masing mengacu kepada apa yang terdapat dalam teks Al Quran dan dalam berbagai riwayat mutawatir.

Yang dimaksud syukur adalah menyadari karunia yang Allah berikan pada dirinya, sementara yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Tuhan.

Syukur merupakan substansi iman, sementara sabar merupakan substansi Islam.
Ketika seorang hamba merasa tenang bersama Tuhan, maka dia disebut mukmin.
Namun ketika menyerahkan diri sebagai hamba, maka dia disebut muslim.
Keduanya terwujud dalam waktu bersamaan, sebab qalb dalam kondisi bergerak dan bingung mencari Tuhan.
Ketika mendapat rahmat, cahaya dan petunjuk, maka qalb menjadi tenang dan stabil sehingga disebut beriman.
Sebaliknya, ia menjadi gelisah dan gusar ketika cemas terhadap sesuatu. Tatkala rasa cemas itu hilang, maka qalb kembali tenang hingga disebut beriman.
Kata Aamana yang berarti beriman dalam bahasa Arab berasal dari pola Af’ala.
Seorang hamba beriman kepada Tuhan yang dipatuhi dan ditaati. Dengan begitu, dia menjadi seorang muslim dalam pengertian menyerahkan dirinya untuk patuh kepada Tuhan.
Disinilah, dia disebut mukmin sekaligus muslim.
Kedua nama tersebut melekat padanya dalam waktu yang bersamaan.
Kemudian dia diperintah untuk membuat pengakuan agar kehormatan, darah dan hartanya terjaga dari makhluk. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[4] Persoalan syukur dan sabar.
Dari segi bahasa, syukur adalah terbukanya qalb hingga karunia Tuhan tampak padamu. Di dadamu, karunia Allah selalu terlihat pada sesuatu yang Dia berikan padamu.
Diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri bahwa Musa bertanya, “Tuhan, bagaimana cara Adam bersyukur kepadaMu ?” Tuhan Menjawab, “Dia mengetahui hal itu bersumber dari-Ku, itulah bentuk syukurnya.”

Sifat dan gambaran syukur adalah bahwa ia dimulai dengan mengenal nikmat, karena mengenal nikmat adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat.

Oleh karenanya, pengertian syukur sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin ada tiga yaitu
(1) mengenal nikmat,
(2) menerimanya, dan
(3) memujinya.

Mengenal nikmat terwujud lewat rasa papa dan butuh kepadanya. Memujinya adalah dengan memuji Dzat Yang Memberi nikmat yang terwujud dalam dua bentuk, yaitu bersifat umum dan bersifat khusus.

Yang bersifat umum adalah menyadari-Nya sebagai Dzat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi, sementara yang bersifat khusus adalah menceritakan nikmat Allah yang diberikan lewat dirinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, “Adapun yang terkait dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Terkait dengan sabar, ia terambil dari kata Ashbaar, yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai obyek atau meninggikan sesuatu untuk menjadi sasaran busur panah.
Jadi, sabar terwujud dalam bentuk keteguhan hamba untuk menerima panah ketentuan Tuhan bagaikan sasaran busur panah manusia yang tidak miring ke kiri atau ke kanan. Ia tidak bergeser dari tempatnya, sebab syarat untuk menjadi hamba Tuhan adalah percaya dan pasrah.

Kepasrahan tersebut berarti menerima semua ketentuan-Nya. Apabila dia dihadapkan pada sebuah ketentuan, lalu meninggalkan tempat, lari dan menentang Tuhan karena ketentuan yang menimpanya berarti dia tidak siap menerima.

Dengan demikian, syukur adalah menyadari nikmat dan karunia yang ada dengan cara memuji-Nya, sementara sabar adalah keteguhan dan ketabahan diri untuk tetap berada di hadapan Tuhan sebagai sasaran tembak yang dengan itu Dia memujimu.

Jadi, di dalam syukur ada menampakkan pujian terhadapmu. Syukur adalah nikmat Tuhan tampak padamu, sehingga kamu menyanjung-Nya dan mengucapkan pujian untuk-Nya.
Al Hamd yang berarti pujian, dan Al Madh yang berarti sanjungan memiliki makna yang sama.
Hanya saja, Al Hamd tertuju kepada kreasi-Nya, sedangkan Al Madh tertuju kepada sifat-Nya. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[5] Kemudian selanjutnya, Sabar adalah ujian untuk melihat kebaikan dan keburukanmu. Dengan cara seperti itu, akan terlihat apakah kamu tetap teguh dihadapanNya dan apakah kamu siap menjadi sasaran tembakNya. Dari sana pula akan tampak kejujuranmu. Dia memujimu untuk melihat bahwa dirimu benar-benar bersyukur. Allah berfirman, “dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan Allah bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur.” [QS Ibrahim (14):5]

Pada ayat di atas, Allah mengungkap kata sabar dengan pola fa’al dan mengungkap kata syukur dengan pola fa’ul. Dia mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan di dalamnya, sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara. Ketika batu tersebut dinyalakan, maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Demikian pula dengan syukur. Syukur adalah menyadari nikmat, mengungkap nikmat, menghargai pemberian, tunduk pada-Nya, tawadhu’ atas keagungan-Nya, dan disertai qalb yang senang. Ini semua merupakan rahasia yang tersembunyi di dalam qalb.

Ketika diberi ujian, maka dia tetap bersabar. Dia diuji guna mengungkap kebaikan yang ada dalam dirinya. Kemudian manakala ridha, maka itu berarti dia menerima ujian tersebut. Dia dipukul dengan kayu terbesar agar semua api menyala.

Demikianlah perumpamaan syukur dan sabar. Syukur adalah qalb senang menerima nikmat Tuhan. Dialah Tuhan yang disanjung olehmu. Ketika kamu diberi ujian dan bersabar, maka kamu yang akan disanjung bersama Tuhan. Apabila Dia mempekerjakan dirimu pada sesuatu yang mengandung sanjungan terhadap Tuhan secara murni dan tulus, maka hal itu lebih baik bagimu ketimbang kamu dipekerjakan pada sesuatu yang mengandung sanjungan terhadapmu dan sanjungan terhadap Tuhanmu, karena sanjungan adalah bagian dari imbalan. Jika kamu diberi imbalan di dunia, maka itu berarti bagianmu di sana akan berkurang. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[6] Salah satu kedudukan syukur adalah Allah memuji para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya, seperti Nuh as dan Ibrahim as, sebagai orang yang bersyukur.

Tentang Nabi Nuh as, Allah berfirman, “Dia adalah hamba yang banyak bersyukur.” [QS. 17:3]
Lalu tentang Nabi Ibrahim as, Allah berfirman, “Dia telah memilih dan memberikan petunjuk padanya.” [QS. 16:12]
Tentang para rasul lainnya, Allah berfirman, “semuanya termasuk orang yang sabar.” [QS. 21:85]

Allah menyebutkan sikap syukur khusus untuk kedua nabi tersebut, padahal semua nabi bersyukur. Allah juga menyebutkan sikap sabar secara umum, padahal mereka semua bersabar.

Orang yang bersyukur, apinya telah tampak sehingga tidak perlu lagi menyalakan kayu. Berbeda dengan orang yang sabar. Api orang yang bersabar masih perlu dinyalakan dengan kayu.

Memang ada di antara mereka yang apinya mudah menyala, karena batinnya telah kering dari syahwat. Namun ada pula yang sukar menyala, karena batinnya basah oleh syahwat. Demikian pula batu dalam kondisi lembab dan dipukul dengan kayu, maka ia tidak akan menyala.

Salah satu kedudukan syukur adalah Allah SWT menyebutkannya dalam Al Qur’an dan berkata, “Hendaknya kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” [QS 31:14]

Terkait dengan sabar, Allah berkata, “Sabarlah terhadap ketentuan Tuhanmu.” [QS 52:48]

“Jika kalian bersabar, maka hal itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” [QS 16:13]

Allah menjelaskan bahwa syukur adalah untuk-Nya, sementara sabar adalah untuk mereka yang bersabar. Tentu saja sangat jauh perbedaan antara keduanya. Yang pertama untuk-Nya dan yang kedua untukmu.

Di antara kedudukan syukur adalah Dia menyebutkannya dengan berkata, “sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” [QS 34:13]

Pasalnya, yang beramal untuk Tuhan sangat sedikit. Sebagian besar hamba beramal untuk diri mereka sendiri dengan mencari dan mengharap ridha Allah. Sangat sedikit orang yang beramal untuk-Nya sebagai bentuk rasa syukur.

Kita juga mengetahui bahwa Nabi saw berdiri melakukan shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni. Lalu ketika beliau ditanya, “Rasulullah, anda masih melakukan hal ini, padahal dosa anda yang lalu dan yang akan datang telah diampuni ?” Beliau menjawab, “Tidakkah aku layak menjadi hamba yang bersyukur ?”

[7] Salah satu kedudukan syukur adalah bahwa lawannya berupa kufur [QS 14:7], sementara lawan sabar adalah sikap mengeluh [QS 14:21].

Kufur dimurkai dan sikap mengeluh berdosa, karena tidak bersyukur berarti lalai terhadap Tuhan dan tidak memuji-Nya, sementara tidak bersabar berarti ia telah tergoyahkan oleh kesulitan. Dengan demikian, seseorang mengeluh karena musibah yang melemahkannya.

Di antara kedudukan syukur lainnya adalah bahwa Allah berfirman, “jika kalian bersyukur, pasti Aku akan tambahkan untuk kalian.” [QS 14:7]

Tambahan atas sesuatu berasal dari jenis yang sama. Dalam hal ini, Allah menjadikan tambahan atas syukur berupa syukur yang lain.
Pasalnya, ketika mata ini melihat karunia Tuhan, maka Dia akan menyegerakan balasan untuknya di dunia, yaitu Dia menambahkan cahaya padanya.

Itulah tambahan atas syukur yang ada sehingga ia bertambah melihat.
Tambahan cahaya tersebut menjadi pendukung baginya untuk berjalan menuju Allah.

Orang yang sabar berdiri di tempatnya sambil dilempari oleh berbagai kesulitan agar tetap tegar dan memperlihatkan ketulusannya dalam menyerahkan diri. Dengan begitu, kedudukannya naik dan pengabdiannya tulus.

Di pihak lain, orang yang bersyukur akan mendapat berbagai karunia dan pemberian agar mendekat sehingga keinginannya menjadi bersih. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[8] Syukur adalah perbuatan orang-orang merdeka, sementara sabar adalah perbuatan para hamba. Jadi, dimulai dari menghamba baru kemudian merdeka. Rasulullah saw beramal sebagai bentuk rasa syukur setelah Dia memerdekakan dan mengampuni semua dosanya. Beliau memulai dengan bersabar, kemudian bersyukur.

Setiap orang yang diuji juga selalu dimulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Ujian untuk bersabar lebih mudah ketimbang ujian untuk bersyukur. Bukankah Rasulullah saw bersabda “Aku lebih khawatir terhadap ujian kelapangan yang menimpa kalian ketimbang ujian kesulitan.”
Menanggapi hadits ini, Abd Al Rahman berkata, “Kami diuji dengan kesulitan dan kami bisa bersabar. Lalu kami diuji dengan kemudahan, ternyata kami tidak bisa bersabar.”

Mereka yang diuji lalu keluar tanpa mendapat kesulitan lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang keluar dari kesulitan. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[9] Di antara kedudukan syukur lainnya adalah bahwa Allah berfirman, “Kami akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” [QS 3:145]

Dia juga berfirman, “Mereka yang bersabar akan dipenuhi upah mereka tanpa hisab.” [QS 39:10]

Di sini, Allah menyebut kata upah karena sebagai ganti dari kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang bersabar. Mereka tegar menghadapi kesulitan dengan mengharap imbalan, sehingga Allah memberikan upahnya.

Berbeda dengan orang yang bersyukur kepadaNya. Mereka beribadah dengan mengorbankan diri sehingga Allah menyebut kata balasan.
Balasan berarti imbalan yang diberikan oleh majikan kepada hambanya.

Jika orang yang bersyukur mendapat balasan seperti itu, maka orang yang sabar bekerja dan beramal dengan mengharap imbalan dan upahnya diberikan di surga tanpa hisab.

Orang yang sabar diuji dan bersikap tegar sehingga diberi upah, sementara orang yang bersyukur selalu memberi, bersikap tawadhu dan murah hati, sehingga diberi balasan.

Upah orang yang sabar berupa surga sebagai pengganti dari dirinya yang telah diuji, sementara orang yang bersyukur dibalas dengan kehormatan dan kemuliaan.

Tentu saja sangat jauh perbedaan antara keduanya. Yang satu berupa surga dan yang lainnya berupa kemuliaan dari Tuhan.

Surga menjadi ganti dari jiwa yang pasrah kepada Tuhan, tegar dan mendapat ujian dalam menjalani kepasrahan.
Di sisi lain, kedekatan dengan Tuhan menjadi pengganti dari qalb yang memutuskan berbagai sebab dalam menuju Penciptanya.
Ini adalah amal yang didasarkan pada pengorbanan jiwa, tanpa melihat kepada upah yang ada, sementara orang yang sabar beramal untuk-Nya dalam bentuk yang telah dijelaskan sebelumnya. (Syaikh Al Hakim At Tirmidzi)

[10] Kata Sabar dan Syukur di sebut bersama sama (SHABBAARIN-SYAKUUR). di dalam al Qur’an:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim [14]:5)

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman [31]:31)

Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (QS. Saba [34]:19)

Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, (QS. Asy-Syura [42]:33)

[11] Fenomena Sabar di dalam Alquran; ada 88 ayat:
1 Al-Baqarah (2.45)
2 Al-Baqarah (2.61)
3 Al-Baqarah (2.153)
4 Al-Baqarah (2.155)
5 Al-Baqarah (2.177)
6 Al-Baqarah (2.249)
7 Al-Baqarah (2.250)
8 Aali-`Imraan (3.17)
9 Aali-`Imraan (3.120)
10 Aali-`Imraan (3.125)
11 Aali-`Imraan (3.142)
12 Aali-`Imraan (3.146)
13 Aali-`Imraan (3.186)
14 Aali-`Imraan (3.200)
15 An-Nisaa` (4.25)
16 Al-An`aam (6.34)
17 Al-A`raaf (7.87)
18 Al-A`raaf (7.126)
19 Al-A`raaf (7.128)
20 Al-A`raaf (7.137)
21 Al-Anfaal (8.46)
22 Al-Anfaal (8.65)
23 Al-Anfaal (8.66)
24 Yunus (10.109)
25 Hud (11.11)
26 Hud (11.49)
27 Hud (11.115)
28 Yusuf (12.18)
29 Yusuf (12.83)
30 Yusuf (12.90)
31 Ar-Ra`d (13.22)
32 Ibrahim (14.12)
33 Ibrahim (14.21)
34 An-Nahl (16.42)
35 An-Nahl (16.96)
36 An-Nahl (16.110)
37 An-Nahl (16.126)
38 An-Nahl (16.127)
39 Al-Kahfi (18.28)
40 Al-Kahfi (18.67)
41 Al-Kahfi (18.68)
42 Al-Kahfi (18.69)
43 Al-Kahfi (18.72)
44 Al-Kahfi (18.75)
45 Al-Kahfi (18.78)
46 Al-Kahfi (18.82)
47 Thaahaa (20.130)
48 Thaahaa (20.132)
49 Al-Anbiyaa` (21.85)
50 Al-Hajj (22.35)
51 Al-Mu`minuun (23.111)
52 Al-Furqaan (25.20)
53 Al-Furqaan (25.42)
54 Al-Furqaan (25.75)
55 Al-Qashash (28.54)
56 Al-Qashash (28.80)
57 Al-`Ankabuut (29.59)
58 Ar-Ruum (30.60)
59 Luqman (31.17)
60 Luqman (31.31)
61 As-Sajdah (32.24)
62 Al-Ahzab (33.35)
63 Saba` (34.19)
64 Ash-Shaaffaat (37.102)
65 Shaad (38.17)
66 Shaad (38.44)
67 Az-Zumar (39.10)
68 Al-Mu`min (40.55)
69 Al-Mu`min (40.77)
70 Al-Fushshilat (41.24)
71 Al-Fushshilat (41.35)
72 Asy-Syura (42.33)
73 Asy-Syura (42.43)
74 Al-Ahqaaf (46.35)
75 Muhammad (47.31)
76 Al-Hujuraat (49.5)
77 Qaaf (50.39)
78 Ath-Thuur (52.16)
79 Ath-Thuur (52.48)
80 Al-Qamar (54.27)
81 Al-Qalam (68.48)
82 Al-Ma`aarij (70.5)
83 Al-Muzammil (73.10)
84 Al-Muddatstsir (74.7)
85 Al-Insaan (76.12)
86 Al-Insaan (76.24)
87 Al-Balad (90.17).
88 Al-`Asyr (103.3)

[12] Fenomena Syukur di dalam Alquran; ada 49 ayat:
(1) Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. (Al-Baqarah [2]:52)
(2) Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (Al-Baqarah [2]:56)
(3) Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Al-Baqarah [2]:152)
(4) Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (Al-Baqarah [2]:172)
(5) Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Aali-Imraan [3]:123)
(6) Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (An-Nisaa [4]:147)
(7) Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Al-A’raaf [7]:10)
(8) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-A’raaf [7]:17)
(9) Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’raaf [7]:58)
(10) Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (Yunus [10]:60)
(11) Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (Yusuf [12]:38)
(12) Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim [14]:7)
(13) Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl [16]:78)
(14) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (An-Nahl [16]:121)
(15) Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (An-Nahl [16]:114)
(16) (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Al-Israa [17]:3)
(17) Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Al-Anbiyaa [21]:80)
(18) Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Al-Mu’minuun [23]:78)
(19) Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Al-Furqaan [25]:62)
(20) Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (An-Naml [27]:40)
(21) Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (An-Naml [27]:73)
(22) Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Al-Qashash [28]:73)
(23) Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur. (Ar-Ruum [30]:46)
(24) Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Luqman [31]:12)
(25) Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman [31]: 14)
(26) Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajdah [32]:9)
(27) agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Faathir [35]:30)
(28) Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Faathir [35]:34)
(29) supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (Yasin [36]:35)
(30) Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (Yasin [36]:73)
(31) Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (Az-Zumar [39]:7)
(32) Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar [39]:66)
(33) Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Mu’min [40]:61)
(34) Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, (Asy-Syura [42]:33)
(35) Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (Al-Jaatsiyah [45]:12)
(36) sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur, (Al-Qamar [54]:35)
(37) Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (Al-Waaqiah [56]:70)
(38) Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Al-Mulk [67]:23)
(39) Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al-Insaan [76]:3)
(40) Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). (Al-Insaan [76]:22)

(41) Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Baqarah [2]:243)
(42) Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur””. (Al-An’aam [6]:63)
(43) Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Al-A’raaf [7]:144)
(44) Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Al-Anfaal [8]:26)
(45) Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (An-Nahl [16]:14)
(46) maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (An-Naml [27]:19)
(47) Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (Al-Ankabuut [29]:17)
(48) Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (Saba [34]:13)
(49) Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (Saba [34]:15).[]

~ Catatan lainnya yang terkait, berjudul :

[1] Jihad Akbar | Suluk

[2] Suluk, Jihad, dan Cinta

[3] Wajib dalam Suluk | Syukur

# Daftar catatan-catatan lain, dengan tema berbeda, dapat dilihat di Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jalan Suluk, Jihad Akbar, Sabar dan Syukur, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs, Wajib dalam Suluk dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.