Adab Suluk | Tidak Mencari Ketenaran

Rasulullah Saw bersabda,”Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.”(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah);

Ali r.a berkata,”Bersikaplah rendah hati, jangan sombong. Jangan bersikap tinggi hati, jagalah rahasia, dan tetaplah diam. Engkau akan selamat, mencintai kebajikan, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak.”

Ibrahim bin Adham berkata,”Orang yang mencintai ketenaran dan kemasyhuran akan kehilangan ketulusan.”

Cinta ketenaran itu tercela.

Sedangkan ketenaran dan kemasyhuran itu sendiri bisa saja terpuji dan tercela. Jika niatnya adalah mengagungkan diri sendiri dan menghina orang lain, ini tercela. Tetapi jika untuk membimbing dan berfaedah bagi mereka, maka tentulah itu terpuji dan berhak mendapatkan pahala. Kemasyhuran para nabi dan khulafaur-rasyidin adalah lebih tinggi daripada yang lain, dan karenanya mereka beroleh pahala atasnya.

Tanda ketenaran yang terpuji adalah bahwa pemiliknya merasakannya sebagai beban, sehingga jika ada orang yang mampu merebut ketenaran itu darinya dan membebaskannya dari beban itu, dia senang, bergembira dan, karena jauh dari rasa iri, berterima kasih kepada orang itu.

Bagaimanapun, secepat hati sang salik condong kepada cinta pangkat dan jabatan, secepat itu pula jalannya terhambat. Oleh karena itu, dia harus berupaya agar tidak menjadi tenar dan apa pun yang mendorong kepada hal itu. Dia harus bersikap sedemikian rupa untuk mencegah orang banyak memikirkan dirinya.

(Sumber : The Degrees of The Self (Maratib al-Nafs), Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi, 1997; “Buku Saku Psikologi Sufi”, 2012);

“Jangan mencari ketenaran dan jangan meminta kepada Allah, kecuali untuk menjadikan anda sebagai orang yang rendah hati, tenang, khusyuk, dan tidak sombong.”(Syaikh Al-Akbar Muhyidiin Ibnu Arabi).[]

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, akhlaq demi Cinta, cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Syaikh Abdul Khaliq al-Syabrawi, Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.