Adab Suluk | Adab dan Tata cara Berdo’a

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka seseungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”(QS [2]:186)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS [7]:55)

“Dan Tuhanmu berfirman,”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…”(QS [40]:60]

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS, Al-A’raf, 7:56)

Hadits Qudsi, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan : aku mendengar Rasulullah bersabda : “Allah berkata, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya tatkala engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampunimu atas apa yang engkau lakukan, dan Aku tidak mempedulikannya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai mega di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan mempedulikannya. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa-dosa seisi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan seisi bumi.”

Dan jika kamu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, wahai manusia, mohonlah langsung ke hadhiratNya dengan keyakinan yang penuh bahwa do’amu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan do’a hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad);

Tata cara :

*1. Diawali dengan Asmaul Husna :

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. Al-Isra, 17:110)

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf, 7:180)

*2. Diawali dengan Ismul Azham :

Sesungguhnya Rasulullah saw pernah mendengar seseorang yang berdo’a dengan katanya: “Sesungguhnya aku ini memohon kepadaMu ya Allah, dengan bersaksi dengan sesungguh-sungguhnya bahwa Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal dan Yang menjadi tempatku bergantung, Yang tak beranak dan tidak diperanakkan, serta tak ada yang menyamaiMu seorang pun”. Rasul lalu bersabda kepada orang itu: “Sungguh, engkau telah memohon kepada Allah dengan asmaNya Yang Agung, yang bilamana Dia dimintai dengan nama (asma)-Nya itu, Dia pasti akan memberi dan jika dimintai dengannya pasti akan dikabulkan”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)

Nabi saw lewat di depan seorang yang bernama Abu ‘Iyasy Zaid bin Shamit az-Zuraqiy yang sedang shalat. Ia berdo’a: “Ya Allah, aku mohon kepadaMu karena sesungguhnya bagiMu puja dan puji, tiada Tuhan selainMu, wahai Yang Maha Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, Yang Maha Luhur dan Maha Mulia”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya engkau telah memohon kepada Allah dengan mempergunakan nama-namaNya Yang Agung, yang bilamana dimohonkan dengan nama-namaNya itu akan dikabulkan dan jika dimintai dengannya juga akan diberi.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i, dan lain-lainnya)

*3. Diawali dengan Kalimah Tauhid :

Barangsiapa berdo’a dengan lima kalimat yang tersebut di bawah ini apapun permintaannya akan diberi. Kalimat itu ialah: Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru, laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun, laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahi. Yang artinya: Tak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNyalah kerajaan dan bagiNya pula puja dan puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada daya dan upaya serta tak ada kekuatan selain dengan Allah jua. (HR. Thabrani)

*4. Diawali dengan Dzal Jalaali wal Ikraam :

Nabi saw mendengar seseorang mendo’a dan mengatakan: “Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Luhur”. Beliau bersabda: “Do’amu akan dikabulkan. Berdo’alah kepada Allah!”. (HR. Tirmidzi)

*5. Diawali dengan Arhamar-Raahimin :

Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakiliNya bagi barangsiapa yang berdo’a dengan berkata: “Yaa arhamar raahimiin” (wahai Yang Maha Pengasih diantara yang pengasih). Maka siapa saja yang menyebutnya tiga kali, maka menjawablah malaikat itu: “Sesungguhnya Allah arhamur-raahimiin telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya”. (HR. Hakim)

*6 : Memuji Allah dan ber-Shalawat :

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid ra berkata: “Tatkala Nabi saw duduk di masjid, tiba-tiba seorang laki-laki masuk, lalu shalat, setelah selesai ia membaca do’a: “Allaahummaghfirlii warhamnii”. Maka Rasulullah saw pun berkata: “Wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah karena Dia yang memilikinya, lalu kau baca shalawat kepadaku dan lalu berdo’a. Berkata pula Fadhalah: “Kemudian datang pula seorang lain, setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi saw dan setelah itu Nabi bersabda: “Berdo’alah, akan dipenuhi!”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi)

Semua do’a terhalang kecuali membaca shalawat dulu kepada Nabi dan kepada keluarga Nabi Muhammad.(HR. Thabrani);

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Dia berfirman, “Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Dan Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepadamu.” Kemudian beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR. Muslim no. 1015)

Dari Huzaifah bin Al-Yaman dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jika tidak maka niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian seluruhnya, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2169)

Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda:
“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim, serta selama dia tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” beliau menjawab: “Yakni dia mengatakan, “Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan.” Setelah itu, dia merasa putus asa dan berhenti berdoa.” (HR. Al-Bukhari no. 6340 dan Muslim no. 2735)

Senantiasa diterima do’a seorang hamba Allah, apabila ia tidak berdo’a untuk berbuat dosa atau untuk memutuskan silaturahmi, asal saja dilakukan dengan tidak tergesa-gesa. Rasul lalu ditanya: apakah yang dimaksud tergesa-gesa?. Rasul bersabda: Seseorang berkata: aku telah berulangkali berdo’a tetapi tidak juga kulihat dikabulkan. Ia merasa rugi dan lesu sampai ia meninggalkan do’anya. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Berkata Ibnu Mas’ud ra: Adalah Nabi saw apabila ia mendo’a , ia mendo’a tiga-tiga kali, dan apabila ia meminta, juga meminta tiga-tiga kali. (HR. Muslim)

Seutama-utama do’a ialah do’a seseorang yang dinyatakan dirinya. (HR. Hakim)

Janganlah kamu berdo’a untuk kerusakan dirimu, kerusakan anakmu dan pembantumu, jangan pula berdo’a untuk kerusakan hartamu, jangan minta kepada Allah kerusakan, karena mana tahu sewaktu kamu minta maka Allah mengabulkannya bagimu. (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah)

Di atas orang yang berdo’a ada malaikat yang mewakili, setiap seorang muslim mendo’akan saudaranya pada kebaikan, maka malaikat yang mewakili itu berkata: “Juga untukmu seumpamanya”. (HR. Muslim)

Tidak berlebih-lebihan, baik dalam ucapan, maupun sikap ataupun isi permintaan. Sabda Rasulullah saw: Akan datang suatu kaum yang keterlaluan dalam berdo’a. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Malik)

* Merendahkan Suara :

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raaf, 7:55);

Kami berangkat bersama Rasulullah saw maka tatkala kami telah dekat ke Madinah bertakbirlah Nabi dan bertakbirlah manusia serta mereka mengeraskan suara mereka. Maka berkata Rasulullah saw: Hai manusia, sesungguhnya Dzat yang kamu seru itu, tidak tuli dan tidak jauh, sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu ada diantara kamu dan diantara kendaraan kamu. (Muttafaq ‘Alaihi);

Doa kepada Allah (Dua’ Al-Haqq) :
“Dua’ Al-Haqq atau dalam sebuah catatan ditulis ‘thalqu al-lisan‘. Kedua kata ini sinonim. Jika Allah Swt ingin memberikan sesuatu kepada hamba-Nya, Allah menggiring lisan mereka untuk mengucapkan doa dan Allah akan mendengarkan doa itu.”- (Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, dalam “Catur Ilahi”‘/ Syathranju Al-Arifin)

“Tersebutlah seorang wanita shalihah yang menjadi pelayan di sebuah rumah. Ia senantiasa melaksanakan shalat malam. Suatu hari, sang majikan mendengar doa-doa yang ia baca dalam sujudnya. Katanya,”Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan cinta-Mu kepadaku agar Engkau memuliakanku dengan bertambahnya ketaqwaan di hatiku…dan seterusnya. Begitu ia selesai shalat, sang majikan bertanya kepadanya,”Dari mana Engkau tahu kalau Allah mencintaimu? Mengapa engkau tidak katakan saja, Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan cintaku kepada-Mu?’
Ia menjawab,”Wahai tuanku, kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, mana mungkin Dia membangunkan aku pada waktu-waktu seperti ini. Kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, mana mungkin Dia membangunkan aku untuk berdiri shalat menghadap-Nya. Kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, mana mungkin Dia menggerakkan bibirku untuk bermunajat kepada-Nya.”– (*termuat dalam buku Haidar Bagir, berjudul “Islam-Risalah Cinta dan Kebahagiaan)[]

* Catatan yang terkait erat dengan catatan pada laman ini, berjudul : Doa dan Etika Berdoa | Suluk

** Catatan-catatan penting lainnya, berjudul :

[1] Adab Suluk | Tidak Mencari Ketenaran

[2] Adab Suluk | Tidak Bersenda gurau

[3] Adab Suluk | (Menahan) Amarah

[4] Adab Suluk | Bicara

[5] Adab Suluk | Berhati-hati terhadap Kehidupan Dunia

[6] Adab Suluk | Hanya Peduli terhadap Aib Diri Sendiri

[7] Adab Suluk | Ujian Kehidupan

[8] Adab Suluk | Malu

[9] Adab Suluk | Sikap yang Baik

[10] Halangan Rintangan dalam Suluk : Condong kepada Makhluk | Penghalang Suluk : Makhluk

————————————-  # Judul-judul catatan lain dengan tema berbeda, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, akhlaq demi Cinta, cinta kepada Allah, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.