Syathranju Al-Arifin | Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi berkata :

[1] “Sesuatu yang secara lahiriah menyeruak dari diri seseorang, sejatinya merupakan aktualisasi sesuatu yang tersimpan dalam batinnya. Tidak ada yang berpengaruh dalam penampakan lahiriah tersebut, kecuali hanya dorongan yang bersifat batiniah. Orang yang mampu menyerap filosofi ini dan menjadikannya sebagai cermin di setiap tindakannya, maka jiwanya akan terhindar dari sifat-sifat ketergantungan pada orang lain. Dia memahami bahwa tidak ada kebaikan atau kejahatan yang menimpa seseorang kecuali merupakan aktualisasi sesuatu yang tersimpan pada batinnya sendiri. Dia akan menemukan argumentasi atas segala sesuatu yang maujud (ada).”

[2] “Tanda-tanda kedalam integritas keilmuan seseorang, dia akan tetap bersikap tenang saat Al-Haq memisahkan sesuatu yang paling dicintai dari dirinya. Orang yang dapat merasakan kenikmatan dalam kondisi makrifat tanpa lepas dari kendali dirinya, maka dirinya telah berhasil menyatukan ketiadaan dan keberadaan (al-ghaybah wa al-hadir) pada saat bersamaan.”

[3] “Orang yang percaya kepada sesuatu dan menggantungkan cita-citanya pada ketercapaian sesuatu itu, cepat atau lambat, dipastikan dia akan mendapatkan sesuatu yang dicitakannya. Bila yang dicitakannya belum tercapai saat hidup di dunia, di akhirat dia pasti akan mendapatkannya. Ruh (* apakah yang dimaksud sebenarnya adalah Nafs/ jiwa?) orang yang mati sebelum mendapatkan kemenangan, akan dibangkitkan dalam kondisi yang dicita-citakannya itu.”

[4] “Perkataan seorang arif selalu memperhitungkan tingkat kekuatan dan kesiapan, kelemahan, serta tingkat keraguan lawan bicaranya.”

[5] “Orang yang tidak dapat menerima jawaban atas pertanyaan yang disampaikan kepadamu, janganlah anda paksakan karena kapasitas hatinya tidak mencukupi untuk menangkap jawaban-jawaban yang anda berikan.”

[6] “Orang yang lebih dahulu telah membentengi dirinya dengan tauhid yang benar, dapat dipastikan dia mampu menghindari diri dari segala godaan riya dan ujub. Dia mengetahui bahwa semua sifat terpuji itu karena Allah, bukan karena dirinya. Seorang hamba tidak akan ujub (bangga) atas pekerjaan yang dilakukan orang lain. Dia juga tidak akan memamerkan harta yang dimiliki orang lain.”

[7] “Orang yang mampu mengendalikan jiwanya, tersiksa karena api pengaturan. Orang yang dapat menguasai api pengaturan, akan tersiksa karena neraka pemberitaan (ikhtibar). Orang yang tidak mampu menemukan kelemahan, Allah akan memberikan rasa manisnya iman kepadanya. Tidak ada hijab yang akan tersisa lagi dari dirinya.”

[8] “Orang yang mendapati adanya perubahan pada dirinya, dia adalah orang yang berhasil memahami makna firman Allah Swt : Setiap hari waktu, Dia dalam kesibukan.”(QS. [55]:29).

[9] “Orang yang masih mencari-cari tanda keesaan Allah Swt, berarti keledai lebih mengetahui keesaan Allah bila dibandingkan dirinya.”

[10] “Orang bodoh tidak akan dapat melihat kebodohannya karena dia sedang berada dalam kegelapan. Demikian pula halnya, seorang alim tidak akan mengetahui tingkat kealimannya karena dia sedang berada dalam sinaran kealiman. Segala sesuatu hanya dapat diketahui karena sesuatu yang lain. Cermin akan menginformasikan kelemahan fisik anda, dan karena kebodohan itu, anda membenarkan informasi yang disampaikan cermin itu mengenai anda. Seorang alim akan menceritakan kelemahan jiwa anda. Akan tetapi dengan pengetahuan yang diwartakan kepada anda, dan anda mengingkarinya. Apakah yang masih tersisa setelah kebenaran kecuali kesesatan?”

[11] “Kebaikan etika lahiriah adalah indikator kebaikan batiniah. Karenanya, hindarilah kegemaran berprasangka buruk.”

[12] “Kemenangan paling agung bagi seorang sufi adalah ketersingkapan hijab jiwa, hati, ruh, atau rahasia-rahasia dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah.”

[13] “Orang yang hatinya tidak dapat membenarkan pewartaan yang disampaikan oleh suatu kaum, hendaknya jangan duduk bersama kaum tersebut dalam satu majelis, karena dengan duduk bersama dalam satu lingkaran majelis berarti dia telah menjadi racun yang mematikan.”

[14] “Kedekatan yang amat itu dapat menjadi hijab, seperti halnya kejauhan yang amat itu juga akan menjadi hijab. Jika dikatakan bahwa kebenaran itu lebih dekat dibandingkan dengan urat leher, maka di situ terdapat tujuh puluh ribu lapis hijab.”

[15] “Doa adalah otak ibadah. Kekuatan organ tubuh itu terletak pada otak. Karena itu, ibadah seseorang akan kuat karena adanya doa.”

[16] “Maqam makrifat seseorang hamba tidak sah bila tidak mengetahui salah satu hukum yang disyariatkan Allah kepada para Nabi. Orang yang mengklaim sudah mencapai makrifat, lalu mereka-reka satu hukum dalam syariat Muhammad atau lainnya, dia adalah pembohong.”

[17] “Mayoritas ulama sufi sepakat bahwa pengetahuan tentang Allah sejatinya adalah puncak dari ketidaktahuan kepada Allah Swt.”

[18] “Jika seseorang sedang mengingat Allah, sementara hatinya tidak khusuk dan tidak khuduk, maka dia tidak akan merasakan kemuliaan berada di samping Tuhan. Dia bahkan tidak layak menerima penghormatan itu. Kelak, yang paling pertama akan menggugat dirinya adalah semua organ tubuhnya sendiri.”

[19] “Yang menjadikan syariat sebagai sampingan, tidak akan memperoleh sesuatu, walaupun dia sampai ke puncak langit.”

(* Sumber : Syantranju Al-Arifin; dilansir juga dalam Kitab Syazaratu Al-Dzahab fi Akhbar min Dzahab karya Ibnu ‘Imad Al-Hambali)

* Catatan-catatan lain yang memuat perkataan dan atau tulisan dari Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, berjudul :

1. Syathranju Al-Arifin | Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi | Penyakit Lalai dan Banyak Tidur

2. Batu Pertama

3. Syathranju Al-Arifin | Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi | Jalan Pendakian Spiritual – (1)

4. Adab Suluk | Jangan Mencari Ketenaran

5. Tafsir Surah Adh-Dhuha | Tafsir Juz Amma Ibnu Arabi

6. Adab Suluk | Tidak Mencari Ketenaran

7. Adab Suluk | Tidak Bersenda gurau

8. Nasihat-nasihat Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi – bagian (1)

9. Percakapan Rasulullah dengan Iblis | Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi

10. Mendaki Tangga Tuhan | Pendakian Jalan Suluk

11. Halangan Rintangan dalam Suluk : Condong kepada Makhluk

12. Keharmonisan antara Syari’ah, Thariqah, dan Haqiqah

——————————————————————————————-

# Judul catatan-catatan lain dengan tema berbeda, dapat dilihat di Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Cinta, cinta kepada Allah, Ekspresi cinta, Jalan Suluk, Jihad Akbar, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, Syanthranju Al-Arifin, Tata Cara Suluk dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.