Adab Suluk | Hanya Peduli terhadap Aib Diri Sendiri

Rasulullah Saw bersabda,”Mukmin yang dicintai Allah adalah yang sibuk mencari aib/ kekurangan diri sendiri ketimbang sibuk mencari aib/ kekurangan orang lain.”(HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda,”Enam perkara yang dapat menghapuskan amal : sibuk dengan aib orang lain, kesat hati, mencintai dunia, sedikit malu, panjang angan-angan, dan menganiaya orang dengan tak henti-hentinya.” (HR. Dailami)

Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa menutupi kejelekan saudaranya yang Muslim maka Allah akan menutupi kejelekannya besok di Hari Kiamat. Barangsiapa membeberkan kejelekan saudaranya yang Muslim maka Allah akan membeberkan kejelekan-kejelekannya termasuk aib-aib yang terjadi di dalam rumahnya.”(HR. Ibnu Majah)

Rasulullah Saw bersabda,”Orang-orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjing adalah serupa dalam dosa.”(HR. Ath-Thabrani dengan beberapa perbedaan kata-kata)

Hasan Al-Bashri berkata,”Seseorang belum benar-benar beriman selama masih mencela orang lain dengan aib yang juga ada di dalam dirinya sendiri, dan menyuruh mereka untuk memperbaiki aibnya, tapi ia tidak memulai dari dirinya sendiri. Jika tidak, sungguh ia hanya akan menambah aib pada dirinya sendiri. Ia mesti memperbaiki aib dirinya sendiri, dengan demikian ia kan sibuk mengurusi aib diri sendiri dan tidak akan memperhatikan aib orang lain.”(Al-Bayan, 3/135)

Suatu hari, seorang lelaki yang telah bersahabat dengan Ibrahim bin Adham, ketika hendak berpisah, berkata kepada Ibrahim bin Adham,”Sayyidi, kenapa anda tidak pernah mengingatkan aku akan aib yang ada pada diriku?” Lalu Ibrahim bin Adham menjawab,”Saudaraku, aku tidak pernah melihat satu aib pun dalam dirimu, karena aku melihatmu dengan mata cinta. Bertanyalah kepadaku kepada selain aku tentang aibmu.”

“Kalau bukan karena cinta diri dan kesombongan, manusia tidak akan mencari-cari kesalahan pada orang lain. Bila di antara kita melakukannya, itu karena cinta kita pada diri sendiri. Kita melihat diri kita sendiri sempurna dan murni, dan orang lain penuh dengan cacat dan kesalahan. Anda mungkin mengetahui puisi tentang seorang syaikh yang menyalahkan wanita pelacur. Dan wanita yang dituding menjawab,”Saya memang seperti yang engkau katakan, namun apakah engkau memang seperti yang terlihat?”**- Ayatullah Rahullah Musawi Khomeini —(Kutipan dari sub-judul “Egoisme”, dalam buku “Rahasia Basmalah dan Hamdalah, penerbit : Mizan, 1996; Judul asli : “Islam and Revolution: Writing, Speech, and Lecture of Ayatullah Rahullah Musawi Khomeini; penerjemah : Zulfahmi Andri)

** Kiasan dari salah satu kuatrin terkenal Umar Khayyam (412-515/ 1021-1122) : Seorang Syaikh berkata kepada seorang pelacur : “Engkau mabuk, dan tiap malam berada dalam dekapan orang yang berbeda!” Dia menjawab,” O Syaikh, saya memang seperti yang engkau katakan, namun apakah engkau sungguh-sungguh seperti yang terlihat?”.[]

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Adab Suluk, akhlaq demi Cinta, Cinta, Hadits, Hasan Al-Bashri, Qalb, Rasulullah Saw, sufism; tashawwuf, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.