Cinta Allah | Imam Al-Ghazali

* Abu Sulaiman Al-Darani berkata,” Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang perhatian mereka kepada-Nya tidak dipengaruhi oleh ketakutan terhadap neraka dan harapan terhadap surga. Kalau sudah demikian, bagaimana mungkin mereka bisa dipengaruhi oleh dunia?”

* Al-Karkhi berkata,” Sesungguhnya, seluruh isi alam semesta ini berada di tangan-Nya. Jika kau mencintai-Nya, maka Dia akan membuatmu lupa dari semua itu. Dan jika terdapat makrifat antara kau dan Diri-Nya, Dia akan membuatmu merasa cukup dari semua itu.”

* Dalam hikayat nabi Isa a.s, disebutkan : “Jika anda melihat seorang pemuda menggebu-gebu dalam mencari Tuhan, maka Tuhan pun akan membuatnya tidak peduli dengan selain diri-Nya.”

* Ali bin Al-Muwaffaq pernah mengatakan hal berikut ini : “Aku bermimpi seolah aku memasuki surga. Di sana kulihat seorang lelaki duduk di depan suatu hidangan. Dua orang malaikat duduk di samping kanan-kirinya. Kedua malaikat itu menyuapinya dengan semua makanan yang enak. Orang itu pun memakannya. Aku juga melihat seorang lelaki yang berdiri di pintu surga seraya meneliti satu per satu wajah manusia yang hendak masuk surga. Akhirnya, sebagian manusia boleh masuk dan sebagian lagi ditolak. Lantas kulewati kedua orang tersebut menuju Taman Al-Quds (kesucian). Kulihat pula seorang lelaki di tenda ‘Arasy. Ia mendongak memandang Allah tanpa berkedip. Aku lalu bertanya kepada malaikat Ridwan,’ Siapa orang itu?’ Malaikat itu pun menjawab,’Ma’ruf Al-Karkhi, seorang hamba Allah yang tidak takut terhadap neraka dan tidak mengharap surga. Namun, ia mencintai Allah semata sehingga Allah pun membolehkannya terus memandang Diri-Nya sampai hari Kiamat.'” Ali bin Al-Muwaffaq kemudian mengatakan,”Kedua orang yang lain (yaitu yang makan dan yang berdiri di depan pintu surga) adalah Bisyr bin Al-Harits dan Ahmad bin Hambal.”

Oleh sebab itu, Abu Sulaiman Al-Darani berkata,”Siapa yang pada hari ini sibuk dengan urusan dirinya sendiri, kelak ia pun hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Sedangkan siapa yang hari ini sibuk dengan Tuhannya, kelak ia pun sibuk dengan Tuhannya.”

* Ali bin Al-Muwaffawaq berucap : “Ya Allah, jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena takut terhadap neraka-mu, maka siksalah aku. Jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena mencintai dan merindukan surga-Mu, maka laranglah aku dari surga-Mu itu. Namun, jika Kau mengetahui bahwa aku menyembah-Mu karena mencintai-Mu dan merindukan wajah-Mu, maka selamatkan aku dengan cinta-Mu dan lakukan apapun yang kau kehendaki terhadap diriku.”

* Sufyan Al-Tsauri pernah bertanya kepada Rabi’ah Al-Adawiyah,”Apa hakikat imanmu?” Rabiah menjawab,”Aku tidak beribadah kepada-Nya karena takut neraka dan tidak karena menginginkan surga-Nya sehingga tak ubahnya aku seorang buruh yang buruk. Namun, aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya”

Dalam pengertian cinta inilah, Rabi’ah menyenandungkan syairnya :

Aku mencintai-Mu dengan dua macam cinta : cinta asmara dan cinta karena Kau memang berhak dicintai. Adapun cinta asmara, aku hanya sibuk mengingat-Mu hingga kulupa selain Diri-Mu. Sedangkan cinta karena Kau memang berhak dicintai, Kau singkapkan tirai untukku hingga aku mampu menatap-Mu. Maka, tiada pujianku terhadap apapun. Namun hanya untuk-Mu pujianku.

Maksud Rabi’ah dengan cinta asmara (hubb al-hawa) adalah cinta kepada Tuhan karena kebaikan dan pemberian nikmat Tuhan kepadanya dengan berbagai keberuntungan di dunia. Sedangkan cinta karena Tuhan memang berhak dicintai adalah karena kecantikan dan keagungan-Nya yang telah tersingkap untuk Rabi’ah. Dibanding dengan cinta asmara, cinta ini lebih tinggi dan lebih kuat. Kenikmatan menelaah keindahan Tuhan adalah seperti yang diungkapkan Rasulullah Saw ketika beliau menceritakan tentang Tuhan : “Aku telah menyediakan bagi para hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terbersit dalam hati manusia.”(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

* Cinta kepada Allah sesuai dengan kadar mengenal-Nya. Sumber segala kebahagiaan adalah mengenal Allah sebagaimana diungkapkan oleh syara dengan istilah keimanan.

* Orang-orang yang betul-betul mengenal Tuhan, merasakan kenikmatan dalam mengenal, merenung, dan doa mereka kepada Tuhan.

* Seseorang yang telah mengenal Allah, meskipun pengenalannya di dunia begitu kuat, tetap tidak terlepas dari gangguan-gangguan duniawi. Ia tidak mungkin bisa melepaskan diri sama sekali dari gangguan-gangguan tersebut. Memang, pada saat-saat tertentu gangguan-gangguan itu berlipat ganda, tetapi tidak selamanya begitu. Maka tak pelak, suatu ketika akan timbul keindahan mengenal Allah yang membuat akal terheran-heran. Kenikmatan dan keindahan mengenal Allah itu semakin dahsyat sehingga nyaris hati meledak karena saking dahsyatnya. Tetapi, keadaan demikian adalah seperti kilat yang menyambar. jarang sekali ia bisa bertahan lama. Bahkan kemudian muncul kembali berbagai gangguan, pikiran, dan hal-hal yang terlintas dalam benak yang akan mengacaukan dan menyusahkannya. Hal ini merupakan keniscayaan yang selamanya terjadi di dunia fana ini.

* Makhluk yang paling berbahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah. Memasuki akhirat itu berarti mendatangi Allah dan merasakan kebahagiaan ketika menemui-Nya. Alangkah besarnya kenikmatan seseorang ketika mendatangi Sang Kekasih setelah memendam kerinduan sekian lama.

Sumber : Imam Al-Ghazali, “The True Power of Love”- Kitab para Pecinta Allah ( dari Kitab Al-Mahabbah wa Asy-Syauq wa Al-Uns wa Ar-Ridla dalam Ihya Ulum Ad-Din)

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di akhlaq demi Cinta, Cinta, Ekspresi cinta, Hati, Khazanah Cinta dalam Tashawwuf, Qalb, sufism; tashawwuf, Suluk, Suluk Imam Al-Ghazali dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.