Ikhlas (Syeikh Ibnu Atha’illah)

Segala sesuatu berpeluang untuk ternoda dan tercampuri oleh unsur lain. Bila ia bersih dari noda dan campuran, barulah disebut murni. Karena itu, perbuatan yang telah bersih dari segala noda dan campuran disebut ikhlas (murni).

Catatan : Ikhlas berarti murni, lillahi Ta’ala; semata-mata hanya mengharapkan Wajah-Nya.

Siapa yang melakukan sebuah perbuatan biasanya mempunyai tujuan tertentu. Kalau tujuannya hanya satu (mengharapkan Wajah-Nya), maka perbuatan itu disebut ikhlas.

Hanya saja, seperti yang dikenal secara umum, istilah ikhlas dimaksudkan sebagai aktivitas ibadah yang semata-mata ditujukan kepada Allah.

Motivasi sebuah perbuatan bisa bersifat ruhani semata, yaitu ikhlas. Atau, bersifat setani semata, yaitu riya. Atau bisa pula campuran antara keduanya, entah aspek ruhaninya yang lebih kuat atau aspek nafsu dan setannya.

Motivasi yang bersifat ruhani cuma dimiliki oleh mereka yang cinta kepada Allah dan cenderung kepada-Nya. Dalam kalbunya tak ada lagi tempat untuk cinta dunia. Dengan demikian semua perbuatan dan gerakan amaliahnya dilandasi oleh sifat ikhlas tersebut. Tidaklah ia memenuhi hajat keperluannya, tidur, makan dan minum, kecuali sebatas karena kebutuhan yang mendesak atau sebagai faktor pendukung untuk melaksanakan amal ketaatan. Dalam kondisi demikian, maka semua gerak dan diamnya merupakan amal yang ikhlas.

Sedangkan motivasi yang dipenuhi hawa nafsu dimiliki oleh mereka yang cinta pada hawa nafsu dan dunia. Dalam dirinya tak ada lagi tempat bagi cinta kepada Allah. Maka, semua perbuatannya terwarnai oleh sifat tersebut sehingga tak satu pun ibadahnya yang selamat dan bersih.

Ketika motivasi ruhani dan motivasi hawa nafsu berimbang, pendapat terkuat menurut Imam Fakhr al-Din al-Razi, adalah keduanya saling berbenturan dan berjatuhan. Sehingga, amal yang ada tidak memberikan nilai positif atau negatif sama sekali.

Sementara jika salah satunya lebih berat, maka sisi yang lebih berat itu dikurangi oleh beban sisi lainnya. Sehingga yang tersisa itulah yang dihitung dan mendapat balasan. Inilah yang bisa dipahami dari firman Allah,”Siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat biji zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan walaupun seberat biji zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.”(QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Semua perbuatan memberikan pengaruh tertentu ke dalam kalbu. Apabila amal tersebut penuh (bebas dari kontradiksi), maka pengaruhnya pun penuh. Sementara, apabila ia bercampur dengan sesuatu yang bersifat kebalikannya, jika bobotnya sama, keduanya akan berguguran. Sedangkan apabila yang satunya lebih berat, ia dikurangi dengan beban sisi lainnya. Sehingga, sisa yang ada menjadi murni dan itulah yang memberikan pengaruh.

Makanan, minuman, dan obat, meskipun hanya seberat biji zarrah, tetap bisa memberikan pengaruh tertentu kepada tubuh. Demikian pula dengan kebaikan dan kejahatan. Walaupun hanya seberat biji zarrah, ia akan mempengaruhi dekat atau tidaknya seseorang dari Allah. Ketika seseorang melakukan sebuah amal perbuatan yang membuatnya dekat kepada Allah sejarak satu jengkal, namun ia juga melakukan perbuatan yang membuatnya jauh dari Allah sejarak satu jengkal pula, maka nilainya kosong. Ia tak mendapat apa-apa. Namun, apabila salah satu perbuatan tersebut membuatnya dekat kepada Allah sejarak dua jengkal, dan perbuatan yang kedua membuatnya jauh dari Allah sejarak satu jengkal, maka yang ia dapatkan cuma satu jengkal.

Mereka yang berpendapat bahwa amal perbuatan yang bercampur dengan hal lain tidak mendapatkan pahala di antaranya beralasan dengan riwayat Abu Hurayrah r.a di mana Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt berfirman,”Aku (Allah) adalah Yang paling tidak butuh sekutu. Maka siapa yang beramal lalu menyekutukan selain-Ku, Aku berlepas diri darinya.” Kata sekutu dalam hadis di atas mengarah pada kesamaan bobot antara dua sisi. Sementara, dalam posisi yang sama atau berimbang, masing-masing menjadi gugur.

Ketahuilah bahwa bisikan dan lintasan pikiran yang buruk bisa masuk ke dalam berbagai bentuk ibadah, berbagai kebajikan, dan rasa cinta pada kemuliaan. Hal itu terus ada bersama manusia sampai ia tulus dan ikhlas. Ketika sudah ikhlas, ia akan berpisah dengannya dan akan benar-benar bersyukur dan berbuat baik. Karena itu, ikhlaslah dalam beramal. Dan kalau engkau sudah berada dalam wilayah ikhlas, engkau tidak akan menganggap dirimu sedang berada dalam kedudukan ikhlas.[]

Sumber : Zikir Penenteram Hati (Fauzi Faishal Bahreisy; diterjemahkan dari Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah – Syeikh Ibn Atha’illah al-Sakandari)

“Ikhlas adalah Rahasia-Ku dan wujud ikhlas ini tidak akan diberikan kepada seorang manusia pun, kecuali mereka-mereka yang Aku cintai.”(Hadits Qudsi; Ibnu Arabi)

“Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tak dapat merusaknya, hawa nafsu pun tidak menyadarinya sehingga ia tak mampu mempengaruhinya.”(Junayd al-Baghdadi)

Dzun Nun Al-Mishri menjelaskan, “Ada tiga tanda keikhlasan: Pertama, manakala seseorang telah memandang pujian dan celaan manusia sebagai hal yang sama saja. Kedua, apabila seseorang yang sedang mengerjakan amal kebaikan tidak menyadari bahwa dia sedang mengerjakan suatu kebaikan. Dan ketiga, jika seseorang telah lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya”.[]

——————————————————– Judul catatan-catatan lain termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Iklan

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di akhlaq demi Cinta, Cinta, Ekspresi cinta, Hati, Qalb, sufism; tashawwuf, Suluk, Syaikh Ibnu Athaillah, Tata Cara Suluk, tazkiyatunnafs, Wajib dalam Suluk dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.