Hakikat Mengikuti Rasulullah Saw. (menurut Syaikh Ibnu Athaillah) | Suluk

“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Ali Imran : 31)

[* Catatan yang berkaitan erat dengan catatan pada laman ini, berjudul : Dalil-dalil Syara’ Tentang Cinta Hamba kepada Allah (Imam Al-Ghazali) ]

Ibnu Athaillah berkata,”Kau akan diremehkan jika tidak mengikuti Nabi Saw. Senaliknya, kau akan mendapat kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah jika mengikuti Sunnah Nabi. Mengikuti nabi terwujud dalam dua aspek : lahiriah dan batiniah.”

Aspek lahiriah meliputi shalat, puasa, haji, zakat, jihad di jalan Allah, serta berbagai ibadah lainnya.

Aspek batiniah meliputi keyakinan akan pertemuan dengan Allah dalam shalat disertai perenungan terhadap bacaan-bacaannya. Ketika kau beribadah seperti mendirikan shalat dan membaca Al-Qur’an, tetapi kau tidak bisa merasakan kehadiran Allah dan tidak bisa merenung, berarti dirimu telah dijangkiti penyakit batin, baik penyakit sombong, ujub, atau sejenisnya.

Melalui lisan Ibrahim a.s Allah berfirman,”Siapa yang mengikutiku, ia termasuk golonganku.”(QS [14]:36) Artinya, barang siapa yang tidak mengikuti jejak Nabi maka ia tidak termasuk golongannya.

Makna mengikuti berarti seakan-akan kita menjadi bagian dari orang yang kita ikuti walaupun ia orang asing atau tidak punya hubungan kekerabatan dengannya.

Bukti mencintai Allah adalah menaati-Nya dan mengikuti Nabi-Nya.

Jalan yang benar dan lurus adalah meneladani pemilik syariat dan mencontohnya. Keadaan beliau, Rasulullah Saw, benar-benar sempurna tanpa cacat. Banyak orang mengarungi jalan zuhud dan membebani diri melampaui kemampuan mereka. Ketika usia beranjak semakin tua, baru muncul kesadaran dalam diri mereka. Ketika tubuh semakin uzur dan rapuh, baru mereka sadar bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal penting seperti menuntut ilmu dan sebagainya. Sebagian lainnya menyimpang ke jalan ilmu dengan mencarinya secara berlebihan. Pada akhir hayat mereka baru sadar bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk memperbanyak amal.

Jalan yang sempurna adalah jalan yang ditempuh dan dicontohkan oleh Nabi Saw yaitu jalan ilmu, amal, dan memperhatikan keadaan diri.(Shayd al-Khatir, Ibn al-Jawzi, hlm 255)

Mengikuti Nabi Saw tak cukup hanya dengan menjalankan ibadah-ibadah lahiriah. Mengikuti Nabi Saw secara batiniah merupakan inti Islam sehingga orang yang menetapinya akan mendapatkan pahala dan sekaligus menjadi semakin dekat kepada Allah. Landasan utama yang dibutuhkan untuk menaati dan mengikuti Nabi Saw secara lahiriah dan batiniah adalah hati yang bersih dari sifat sombong. Orang yang mengagumi ibadah dan ketaatannya sendiri niscaya tidak akan menjadikan ridha Allah sebagai perhatian dan tujuannya. Ia hanya mengharapkan keridhaan dan pujian manusia lain. Orang seperti itu senang dipuji dan ditonton orang lain. Sikap riya semacam itu tentu saja akan merusak dan meruntuhkan amal.

Mengikuti Nabi Saw secara lahiriah dan batiniah adalah menunaikan berbagai kewajiban (lahiriah) dan mengikhlaskan amal untuk Allah semata (batiniah). Sikap ini niscaya akan meneguhkan hubungan hamba dengan Allah dan dengan nabi Saw. Sikap sebaliknya akan memutus hubungan hamba dengan Tuhan serta menjauhkannya dari Nabi Saw.

Ibnu Athaillah r.a berkata,”Allah mengumpulkan seluruh kebaikan pada sebuah rumah. Kunci rumah itu berupa mengikuti Nabi Saw. Ikutilah beliau dengan selalu merasa cukup terhadap segala karunia Allah, bersikap zuhud terhadap milik orang, tidak rakus kepada dunia, serta meninggalkan ucapan dan perbuatan tak berguna. Siapa yang dibukakan pintu oleh Allah untuk mengikuti  Nabi berarti ia telah dicintai-Nya.”

Bila ingin mendapatkan seluruh kebaikan, berdoalah,”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar bisa mengikuti Rasul-Mu, baik dalam ucapan dan tindakan.” Siapa yang memimpikan hal itu, hendaklah ia tidak menzalimi hamba-hamba Allah, baik berkaitan dengan kehormatan maupun nasab mereka. Dengan demikian, ia dapat bergegas menuju Allah. Jika tidak mengikuti jalan itu, ia akan terhalang seperti orang yang dililit banyak utang dan terus dikejar orang yang menagihnya.

Sebagaimana dituturkan Ibnu Athaillah r.a, mengikuti Nabi Saw mesti diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan. Berikut ini beberapa cara yang semestinya ditempuh oleh orang yang mengaku mengikuti Nabi Saw :

1. Merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Kau tidak kesal dengan sedikitnya harta di tanganmu. Kau mampu merasa cukup ketika merasa yakin bahwa apa yang  kau miliki merupakan jatah rezeki yang Allah tetapkan untukmu. Satu jiwa tidak akan mati sebelum menghabiskan rezekinya. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan tunjukkan sikap yang baik dalam meminta sesuai dengan teladan yang dicontohkan Nabi Saw.(HR. Ibnu Majah no. 2135)

2. Bersikap zuhud dan tidak rakus terhadap dunia. Maksud zuhud di sini bukanlah tidak mau merasakan nikmat serta mengabaikan pakaian dan perhiasan. Zuhud terwujud ketika kau lebih percaya kepada apa yang ada di tangan Allah ketimbang apa yang ada di tanganmu. Kau dibolehkan memperbagus penampilanmu sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Saw. Namun, letakkanlah dunia di tanganmu, bukan di dalam hatimu. Inilah zuhud yang sebenarnya. Fokuskan perhatianmu untuk membangun akhirat, bukan membangun dunia yang akan sirna.

Jika kita memelihara sikap zuhud terhadap dunia, niscaya kita akan dicintai oleh Allah. Jika kita bersikap zuhud terhadap harta di tangan manusia, kita akan dicintai manusia. Rasulullah Saw bersabda,”Zuhudlah terhadap dunia, kau pasti dicintai Allah. Zuhudlah terhadap milik manusia, niscaya kau dicintai mereka.”(HR. Ibnu Majah no. 4092).

Semakin memandang rendah dunia, semakin mudah dan ringan perhitunganmu di akhirat. Begitu pun sebaliknya. Sebab, sebagaimana ditegaskan Nabi Saw., tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hri kiamat sebelum ia ditanya mengenai 4 hal : (1) masa mudanya dihabiskan untuk apa, (2) usianya dipakai untuk apa, (3) hartanya dari mana diperoleh, dan (4) ke manakah hartanya disalurkan.(HR. al-Thabrani)

3. Meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak berguna. Nabi Saw bersabda,”Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tak berguna.” Orang yang berakal bisa menjaga waktunya dan tidak akan menghabiskannya untuk sesuatu yang tidak penting. Apa manfaat ucapan dan perbuatan yang tidak penting, selain membuat kita semakin jauh dari Allah dan semakin diremehkan manusia.

4. Tidak berbuat zalim kepada sesama. Nabi Saw tidak pernah bersikap zalim kepada siapapun. Allah mengharamkan kezaliman semata-mata demi kepentingan dan kebaikan manusia, bukan kepentingan Dia. Allah melarang kita berbuat zalim agar kita hidup aman sentosa, agar kita bisa tidur tenang tanpa mengkhawatirkan darah, harta, dan kehormatan kita. Jika manusia diliputi rasa cemas terhadap kehidupan, harta, dan kehormatannya, sudah pasti kehidupannya sarat dengan perasaan resah dan gelisah. Ia tidak akan bisa menunaikan tugas yang diamanahkan Allah, yaitu memakmurkan bumi sebagaimana firmannya dalam QS [11]:61.

Rasulullah Saw bersabda,”Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim haram atas muslim lainnya.”(HR. Muslim)

Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman,”Hamba-Ku, Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Kuharamkan pula kezaliman di antara kalian. Karena itu, janganlah kalian saling menzalimi.”

Allah memiliki sifat adil. Dia Mahaadil. Karena itu, sebagai hamba-Nya, semestinya kita juga bersikap adil. Dia berfirman,”Allah tidak zalim kepada para hamba.”(QS. [8]:51)

Sikap zalim akan membuahkan balasan yang buruk kepada kita kelak di hari kiamat. Sebab, di hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menolong atau membela kita dari amuk Jahanam. Kezaliman akan mendatangkan kegelapan pada hari kiamat.

Allah berfirman,”Orang zalim tidak punya seorang pun teman setia dan tidak pula memiliki pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.”(QS. [40]:18), dan “Orang zalim tidak memiliki seorang pun penolong.”(QS. [22]:71)

Rasulullah saw bersabda,”Takutlah dari berbuat zalim, karena kezaliman akan mendatangkan kegelapan pada hari kiamat. Hindari sikap pelit, karena sikap pelit telah membinaskan orang-orang sebelum kalian. Sikap pelit membuat mereka menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan.”(HR. Muslim)

Sesungguhnya kezaliman yang kita lakukan akan menghapuskan amal kebaikan yang kita lakukan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw kepada para sahabat,”Tahukah kalian siapa yang disebut bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki dirham dan harta.” Rasulullah Saw menlanjutkan,”Orang yang bangkrut di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ketika di dunia ia pernah mencela fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan, serta memukul fulan. Maka, ia memberikan sebagian amal kebaikannya kepada fulan dan kepada fulan lainnya. Jika amal kebaikannya telah habis sementara belum semuanya dibayar, dosa mereka diambil dan diberikan kepadanya sehingga ia dilemparkan ke dalam neraka.”(HR. Muslim)

Karena itu, jangan sampai menistakan kehormatan atau harta orang lain.[]

* Sumber : Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus, 2011; (Tajul Arus, 2013)

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di cinta kepada Allah, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Rasulullah Saw, rindu kepada Allah, sufism; tashawwuf, Suluk, Syariat dalam Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs, Wajib dalam Suluk dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.