Dalil-dalil Syara’ tentang Taubat

“Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang yang menyucikan diri.”(QS Al-Baqarah : 222);

“Taubat di sisi Allah hanya diberikan kepada orang yang mengerjakan kejahatan lantaran bodoh, yang kemudian mereka segera bertaubat.”(QS Al-Nisa : 17);

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”(QS Ali Imran : 133);

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat Nashuha, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu,…”(QS At-Tahrim : 8);

“Aku Maha memberikan ampunan kepada orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, lalu ia mendapat petunjuk.”(QS Thaha : 82);

“…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman, supaya kamu beruntung.”(QS. An-Nuur [24]:31);

“Katakanlah,’Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Allah mengampuni seluruh dosa. Dia yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”(QS al-Zumar : 53);

“…dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”(QS. Al-Hujuraat [49]:11)

” Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”(QS. Maryam [19]:72);

Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, Allah berfirman,”Wahai anak Adam, selama kau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku mengampunimu atas apa yang telah kau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosamu memenuhi langit, lalu kau meminta ampunan kepada-Ku, Kuampuni dosamu dan Aku tak peduli. Wahai anak Adam, jika kau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi lalu kau menjumpai-Ku tanpa berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.”

Rasulullah Saw bersabda,”Sesungguhnya, Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba, melebihi gembiranya orang kehausan yang menemukan telaga air, melebihi senangnya orang mandul yang kemudian mendapat keturunan, dan melebihi senangnya orang yang tersesat yang kemudian dia menemukan jalan. Maka dari itu, siapa yang bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, Dia akan membuat lupa kedua malaikat pencatat amal, Dia membuat lupa seluruh anggota tubuhnya dan seluruh permukaan bumi dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.”(HR. Abu Al-Abbas)

Rasulullah Saw bersabda,”Penyesalan adalah taubat.”(HR. Ibn Majah dan Imam Ahmad)

Rasulullah Saw bersabda,”Orang yang taubat sama halnya orang yang tidak mempunyai dosa.”(HR. Al-Baihaqi)

Rasulullah Saw bersabda,”Setiap anak Adam pasti melakukan dosa dan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang rajin bertaubat.”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Rasulullah Saw bersabda,”Setiap anak keturunan Adam pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat.”(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Rasulullah Saw bersabda,”Tidak ada yang lebih Allah cintai daripada seorang muda yang bertaubat.”(HR. Dailami)

Rasulullah Saw bersabda,”Allah Swt membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar bisa bertaubat orang yang berbuat dosa di waktu siang. Dan Dia membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar bisa bertaubat orang yang berbuat dosa di waktu malam. Itu terus berlangsung hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.”(HR. Muslim)

Umar ibn al-Khattab r.a berkata,”Perhitungkan diri kalian sebelum diperhitungkan (oleh Allah). Dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (oleh Allah)!”(HR. al-Tirmidzi)

“Taubat hanya dianggap sah jika memenuhi empat syarat : menghentikan kebiasaan berbuat dosa, memohon ampun dengan disertai penyesalan, mengembalikan hak orang lain, dan menjaga panca indera termasuk kedua tangan dan kedua kaki, serta hati yang menjadi pemimpin bagi indera lainnya, yang menjadi tolok ukur baik tidaknya seluruh tubuh. Allah Swt telah menetapkan larangan dan perintah terhadap masing-masing anggota tubuh yang wajib dipatuhi, sebagaimana Dia juga telah memberi aneka keleluasaan dan hal mubah yang jika tidak dilakukan akan menjadi keutamaan bagi si hamba. Kewajiban bagi hati – setelah iman dan taubat – adalah ikhlas karena Allah dalam beramal, berprasangka baik ketika ada syubhat (* jika melihat seorang shalih sedang melakukan suatu perbuatan syubhat maka kita harus berprasangka baik terhadapnya), mempercayai janji Allah, takut terhadap azab-Nya, dan mengharapkan karunia-Nya.”(* Sumber : Imam Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, vol. 2, hlm. 74; dan Kitab Adab al-Kasb, vol. 4, hlm. 191).

Ibnu Athaillah r.a berkata,”Jika ingin bertaubat, kau harus terus tafakur sepanjang hayat. Renungi apa yang telah kau lakukan di waktu siang! Jika berupa ketaatan, bersyukurlah kepada Allah. Namun, jika berupa maksiat, sesali, mintalah ampunan dan bertaubatlah kepada-Nya! Sebab, tidak ada majelis bersama Allah yang lebih berguna daripada majelis ketika kau menyesali dirimu sendiri. Jangan menyesal seraya tertawa gembira. Namun, sesali dirimu dengan sungguh-sungguh dan tulus seraya tampakkan ketidaksenangan, kesedihan, dan rasa hina. Jika itu yang kau lakukan, Allah akan menggantikan kesedihanmu dengan kebahagiaan, kehinaanmu dengan kemuliaan, kegelapanmu dengan cahaya, serta keterhijabanmu dengan ketersingkapan.”

Tanda bahwa taubatmu benar dan diterima adalah jika hatimu merasakan nikmatnya ketaatan. Taubat yang jujur dan benar mengandung penyesalan atas maksiat yang dilakukan, rasa malu kepada Allah, serta tekad yang kuat untuk istiqamah di jalan yang Allah ridhai. Itulah pangkal taubat. Jika pangkalnya benar, tentu ujungnya pun benar. Ujung dari taubat yang benar adalah kenikmatan dalam menetapi ketaatan dan perasaan berat melakukan kemaksiatan. Rasulullah saw bersabda,”Orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah gunung yang siap menimpanya. Sementara orang fasik melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidung yang hanya ia tepis dengan tangan.”(HR. Bukhari)

Meskipun telah bertaubat, orang yang berakal harus selalu khawatir dan menangisi dosa-dosanya. Ibn al-Jawzi berkata,”Aku melihat sebagian besar manusia merasa taubatnya diterima seolah-olah itu sudah pasti. Padahal, itu merupakan persoalan gaib. Meskipun dosanya telah diampuni, sangat mungkin masih ada rasa malu akibat melakukan dosa.”

Ibnu Athaillah r.a berkata,”Apabila kau bertaubat kepada Allah, lenyaplah kegelapan yang disebabkan dosa.”

Ibnu Athaillah r.a berkata,”Siapa bertaubat, ia beruntung. Sebaliknya, siapa yang tidak bertaubat, ia merugi. Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah dengan mengatakan,’Sudah beberapa kali aku bertaubat, tetapi selalu gagal!’ Sebab, orang sakit tetap berharap hidup selama ruh dikandung badan.”[]

* Judul catatan yang berkaitan erat dengan catatan pada laman ini, berjudul : Taubat : Kasih Allah, Melimpah

* Catatan-catatan lainnya mengenai dalil, termuat dalam :

[1] Dalil-dalil Syara’ Tentang Cinta Hamba kepada Allah (Imam Al-Ghazali)

[2] Dalil-dalil Syara’ Tentang Takwa

[3] Dalil-dalil Syara tentang “Benar” Mencari Ridha Allah | Suluk

————————————-  # Judul-judul catatan lain, termuat dalam : Reblogged : DAFTAR ISI

Tentang Hening Darwis

Menyimak. Mendengarkan. Catatan. Kutipan. Salinan. Notes. Excerpts. Islamic. Tashawwuf. Sufism. Darwis.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Al-Qur'an, Cinta, Hati, Imam Al-Ghazali, Jalan Suluk, Jihad Akbar, Qalb, Suluk, Tata Cara Suluk, taubat, tazkiyatunnafs dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.